Namanya Taufik, tetapi saya biasa memanggilnya Upik. Usianya terpaut 3 tahun denganku. Tubuhnya tidak begitu tinggi, agak gemuk dengan bagian perut yang agak menonjol keluar dari balik jaket cokelat yang dia kenakan. 

Dia duduk di depanku, dibatasi meja kayu putih berbentuk kotak. Jari-jarinya tampak menari-nari di atas keyboard Macbook 13 inch, matanya terfokus pada layar. Kacamata perseginya agak turun ke bawah hidung. Sesekali Upik menyeruput Latte dari cangkir yang terletak tepat di samping Macbook.

Di restoran cepat saji ini, saya hampir selalu berjumpa dengan Upik. Dia seorang pengembang aplikasi lulusan Yogyakarta. Sewaktu menempuh Pendidikan S1, kami berdua sekampus meskipun beda angkatan. Saya seniornya. 

Kami berteman cukup akrab. Beberapa tahun tak berjumpa, kami kini justru jadi sering ketemu. Tentu saja bukan di kampus atau kantor. Kami bertemu di kedai kopi atau restoran cepat saji.

Kami menghabiskan beberapa jam ngobrol tentang pekerjaan, industri dan aplikasi. Dia berbagi pengalaman, dan bercerita bagaimana dia memulai karier sebagai pengembang aplikasi. 

Saya bertanya, apakah dia berminat kerja di instansi pemerintah, menjadi ASN atau menjadi kantoran. Saya tak terkejut dengan jawabannya. Menjadi pekerja kantoran ada di deretan paling bawah daftar pekerjaan yang diminatinya. 

Sama sepertiku, dia juga tak berminat bekerja di kantoran, menghabiskan lebih dari 8 jam dalam ruangan, tanpa inovasi dengan tingkat kreativitas yang begitu minim. Saya dan juga Upik adalah kelompok pekerja yang kini banyak mendominasi ekonomi dan industri kita hari ini. Kita adalah Telecommuter.

Istilah ini merujuk pada kata telecommuting yang diciptakan oleh Jack Nilles pada tahun 1973 sewaktu menjadi direktur untuk divisi penelitian interdisipliner di University of Southern California. Telecommuting menandai sebuah era dalam dunia industri, di mana dalam bekerja setiap orang lebih mengedepankan fleksibilitas, setiap orang tak perlu lagi berangkat ke kantor karena setiap pekerjaan maupun pengolahan data dapat dilakukan secara mobile.

Di era digital, telecommuting bahkan bergerak lebih jauh. Ketersediaan jaringan internet cepat dan bandwitch yang memadai, memungkinkan kita untuk mengorganisasi pekerjaan, melakukan rapat online, tabulasi dan perhitungan, bahkan melakukan riset pasar dari salah satu kedai kopi di sudut kota, sambil menikmati latte panas dalam cangkir kecil serta kudapan sore hari.

Telecommuting merupakan hasil dari inovasi dan kreativitas. Ini merupakan akibat lanjutan dari pergeseran pasar kerja serta industri hari ini dan di masa mendatang. Beberapa jenis pekerjaan sudah akan tergantikan oleh mesin. 

Ekonomi dan industri bergerak dalam sebuah platform. Dan kini, pekerja tidak lagi memerlukan ruangan berukuran kecil sebagai pusat aktivitas setiap karyawan. Mereka hanya memerlukan sebuah penyambung daya listrik, secangkir kopi serta jaringan internet yang mendukung. 

Ekonomi kita memasuki era disrupsi, dan telecommuting adalah bentuk baru dari pekerjaan yang akan menggantikan sistem kerja konvensional, di mana karyawan harus datang secara terjadwal ke kantor, menghadiri rapat-rapat mingguan yang membosankan serta bekerja dengan tumpukan kertas yang memakan waktu dan tempat serta biaya produksi yang tidak murah.

Di restoran tempat saya menghabiskan waktu lebih dari 4 jam sehari, menjadi tempat bagi puluhan telecommuter lainnya untuk bekerja. Restoran ini tidak sekadar tempat makan. Tempat ini juga menjadi kantor bagi ratusan orang dengan beragam pekerjaan yang menuntuk mobilitas tinggi, lingkungan kerja yang fleksibel dan nyaman, serta dukungan aplikasi berbasis internet yang dapat diakses dari mana saja.

Apa yang tidak dapat dikerjakan lewat internet? Kita dapat menggunakan google drive atau dropbox untuk menyimpan data. Kita bisa melakukan survei konsumen berbasis internet dengan banyak aplikasi gratis yang dapat diperoleh dengan mudah di playstore atau app store. Kita bahkan bisa mengorganisasi rapat online, menyusun laporan keuangan dan berbagai banyak dokumen secara real time.

Beberapa riset menunjukkan bagaimana telecommuting mendisrupsi industri dan sistem kantor konvensional. Salah satu riset yang dilakukan oleh Nicholas Bloom, professor ekonomi dan Stanford University, menunjukkan perbandingan produktivitas antara para karyawan divisi call center yang bekerja dalam kantor dan pekerja telecommuting yang bekerja di luar kantor.

Hasilnya? Para karyawan yang bekerja telecommuting menerima 13,5 persen lebih banyak panggilan dari pada karyawan yang bekerja di kantor. Itu artinya, para telecommuter luar kantor relatif lebih produktif. 

Menurut Bloom, sepertiga peningkatan produktivitas terjadi karena karyawan memiliki lingkungan yang lebih tenang dan menyenangkan. Telecommuter juga merupakan orang-orang yang bekerja lebih awal, beristirahat lebih pendek, dan bekerja sampai akhir hari.

Bahkan InVision, sebuah perusahaan piranti lunak yang didirikan oleh Clark Valberg, punya sebuah keinginan besar; ingin menghapus sistem perkantoran selamanya. Bahkan untuk mewujudkan visi itu, 850 orang karyawan mereka sudah bekerja secara telecommuting

Bahkan survei pada tahun 2019, sebuah studi yang dilakukan oleh Amerisleep mengungkapkan fakta bahwa dari 1000 pekerja telecommuter di Amerika Serikta, sebanyak 75 persen mengatakan tidak memiliki rencana untuk kembali bekerja di kantor. Menurut mereka, bekerja di kantor dianggap mengurangi fleksibilitas dan mobilitas dalam bekerja.

Cerita tentang Upik hanyalah salah satu potret bagaimana industri kita bekerja hari ini. Saya, Upik, dan banyak telecommuter lain telah bergerak ke arah sebuah sistem bekerja yang lebih fleksibel, dan tentu saja lebih hemat biaya. 

Dan kini, jika Anda mengunjungi sebuah kedai kopi atau restoran cepat saji, kira-kira pemandangan seperti ini yang akan Anda jumpai; sekelompok orang duduk menghadap laptop yang terhubung dengan internet, mungkin sedang mengirimkan dokumen kantor, melayani pelanggan, melakukan survei pemasaran, atau sedang mengadakan rapat rutin. Jika demikian, maka ucapkanlah selamat datang kepada masa depan industri kita.