Sendi sendi kejumudan nalar diawali dari ketaksaan rasa dan hilangnya peradaban membaca. “Baca” dalam konteks yang luas, seperti apa yang tertera didalam Surat Al ‘Alaq firman Allah yang pertama kali diturunkan melalui Nabi Muhammad yang berbunyi “Bacalah, dengan menyebut nama Tuham-Mu yang menciptakan”.

Tidak hanya mengartikan satu makna yang kaku untuk menafsirkan kata “Baca”, karena pemikiran manusia tidak dapat kita samakan satu dengan yang lainnya sehingga menimbulkan pemaknaan yang universal.

Kita dapat mengetahui dalam perspektif bahasa dan interpretasi yang oleh ahlinya, penulis mengambil salah satu filsuf yang terkemuka yakni Hans Georg Gadammer bahwa penafsiran atau hermeneutika adalah seni untuk memahami teks. Teks memang dalam bentuk tulisan yang dari sekian miliar orang meyakininya, akan tetapi teks juga bisa memiliki arti luas, yakni realitas itu sendiri.

Lantas apakah teks tersebut hanya memiliki satu pemahaman terhadap masing masing orang saja? Tentu tidak, apa yang dapat kita lakukan? Dengan penyampaian secara verbal yaitu retorika yang memadai, karena untuk memahami teks yang jernih perlu disampaikan melalui retorika kepada orang lain. Jadi, penafsiran dan retorika adalah seni dan bukan ilmu pengetahuan (Gadamer).

Apa yang dikatakan oleh Gadamer bahwa teks berhubungan erat dengan retorika juga bahasa. Bahasa tidak pernah bermakna tunggal, bahasa selalu memiliki beragam makna, dan itu justru harus diakui dan dirayakan, beragam makna didalam bahasa menandakan adanya sesuatu yang esensial, tetap dan universal didalam bahasa itu sendiri.

Penafsiran atau hermeneutika berdasarkan penelitian Jean Grodin selalu terkait tentang realitas. Yang pertama, pengertian selalu terkait dengan proses proses akal budi, untuk memahaminya berarti tidak terlepas dengan penyentuhan akal budi manusia, untuk memahaminya berarti menggabungkan pengertian yang bersifat partikular dalam konteks yang universal.

Teks “Baca” dalam tubuh mahasiswa yang harus diselesaikan yaitu salah satunya adalah tentang KritisKritis itu dapat kita artikan dengan sebuah proses analisis melalui pikiran pikiran yang jernih. Terkadang kritis pun memiliki dua makna dalam satu teks pada ruang lingkup Bahasa Indonesia yang biasa kita sebut Homonim.

Homonim kata kritis dapat kita artikan, yang pertama, gawat atau darurat dan yang kedua, bersifat tidak lekas percaya, selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan dan tajam dalam penganalisisan. Jelas terbukti yang kita gunakan untuk mahasiswa adalah makna yang kedua. Namun tidak dapat menutup kemungkinan kita memaknai mahasiswa zaman now kepada makna yang pertama yaitu gawat atau darurat.

Mahasiswa pada hakikatnya adalah ia pandai dalam segala hal yang prioritas disini yakni segala bentuk hal dengan kekritisannya. Kritis itu senjata mahasiswa yang paling fundamental, sebab jika tiadanya mahasiswa dapat dikatakan robot yang berjalan.

Dalam sejarah mahasiswa di Indonesia khususnya pun mengalami hal seperti ini, dari masa penjajahan Belanda dan Jepang mahasiswa yang masuk kategori pemuda mendestruksikan hal hal yang dianggap bertentangan dengan pencapaian kemerdekaan rakyat Indonesia lalu mengkonstruksi ulang atas hasil jerih payah yang dilakukannya.

Rezim orde lama, orde baru, reformasi hingga pasca reformasi tidak henti hentinya mahasiswa mengkritik melalui akal budinya yang kritis terhadap kondisi sosial masyarakat. Mahasiswa menjadi tolak ukur stabilitas jalannya pemerintahan, namun secara sekilas ada perubahan perubahan nilai yang terjadi didalam tubuh mahasiswa zaman now.

Mahasiswa zaman now (zaman sekarang), telah dimasuki oleh virus virus yang sukar sekali disembuhkan atas refleksi dari zaman global. Refleksi mahasiswa zaman now kali ini seperti orang yang bolak balik kerumah sakit meminta obat kepada dokter untuk menghilangkan virus virus yang menempel ditubuhnya, namun tiada hasil yang diharapkan.

Daya kritis mahasiswa tak lagi kokoh dan ajek, yang ada robek dijahit kembali, robek dijahit kembali robek disablon dan begitu seterusnya. Persoalannya banyak yang kaku tehadap konteks kata didalam bacaan, sudah tidak heran lagi mahasiswa saat ini melakukan ritualitas yang berlabelkan sami’na wa ato’na terhadap birokrat kampus atau Negara.

Hasilnya mahasiswa kembali ke asal mula tujuan kuliahnya yakni kuliah saja untuk mendapatkan ijazah, tak peduli dosen berkata apa dan menitah apa yang penting di ijazahku terdapat nilai A dan bertuliskan cumlaude sehingga refleksi dari paradigma tersebut menghasilkan mahasiswa yang hanya kuliah pulang kuliah pulang, makalah, jurnal, skripsi dan tugas lainnya yang sekedar copy paste.

Percuma saja jikalau mahasiswa itu sering membaca buku, dan memiliki ilmu pengetahuan atas kemampuan akal memadai yang Allah berikan namun dipergunakan untuk kepentingan pragmatis, bahkan menjadi wayang bagi dalang birokrat.

Didalam kebobrokan ini penulis ingat betul atas penggalan puisi yang disampaikan oleh aktivis Hak Asasi Manusia sekaligus Aktivis ‘98 yang terkemuka yakni Widji Thukul. Puisinya mengatakan seperti ini “apa gunanya ilmu kalau hanya untuk mengibuli, apa guna baca buku kalau mulutmu bungkam melulu”.

Gawat atau darurat menjadi sosok makna pertama dalam kata kritis, disini juga telah mengindikasikan bahwasannya didalam kondisi mahasiswa zaman now tersebut sepertinya sudah kehilangan jati dirinya, peran dan fungsinya, mereka berargumen, beretorika sehebat mungkin namun tak mengerti makna yang dikandungnya.

Ketika zaman sudah gawat disitu peran pemuda dan mahasiswa yang entah melesat kemana? Membalikkan sebuah fakta itu sungguh naïf yang demikian, menjadi bahan kajian yang begitu penting bagi mahasiswa zaman now.

Yang menjadi titik fokusnya adalah tentang nilai dirimu sendiri yang nanti akan dipertanggungjawabkan kepada orang sekitar bangsa negara dan Allah Subhanu’atala bukan nilai eksponensial, yang berbentuk angka angka melainkan nilai yang mutlak, nilai yang objektif bukan subjektif. Ini menjadi tantangan mahasiswa itu sendiri didalam menghadapi era milenial dan bonus demografi nantinya.