Peran penting dalam menyebarkan berita, informasi dan visual, teknologi digital sebagai wadah baru pers dan alat komunikasi massa. 

Teknologi digital dinilai punya peran penting dalam mewujudkan keterbukaan informasi publik.

Seperti halnya para penggunaan social media, para penggunanya mendapatkan kemudahan dalam berkomunikasi. 

Baik berkomunikasi dengan teman, keluarga atau kerabat yang tidak memungkinkan dilakukan melalui face to face karena faktor jarak.

Tawaran kemudahan lain tentunya tidak hanya untuk sekedar bertatap muka, namun seseorang juga mampu menyampaikan aspirasi serta menyuarakan pendapat didunia maya.

Di Indonesia yang menganut sistem demokrasi, memberikan kekebabasan kepada setiap individu atau kelompok untuk terlibat didalam proses demokrasi tentu sangat dibutuhkan.

Sehingga hak seseorang untuk melontarkan pendapat, kritik dan saran telah diatur dan tertuang dalam Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 (“UUD 1945”) yang berbunyi:

“Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-undang”.

Namun tentunya setiap orang ketika berpendat juga perlu bijak, tahu bagaimana cara mengkritik dan atau berkomentar secara benar dengan mengedepandan hak setiap orang. 

Aturan pada pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (“UU HAM”) yang berbunyi :

“Setiap orang bebas untuk mempunyai, mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat sesuai hati nuraninyasecara lisan dan atau tulisan melalui media cetak maupun elektronik dengan memperhatikan nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan Negara”. 

Meskipun demikian, seseorang dalam mengeluarkan pendapatnya tentu harus menghargai hak orang lain, serta tunduk pada hukum yang berlaku dikarenakan semua sudah diatur oleh kebijakan pemerintah.

Dalam berkomentar di social media misalnya, setiap individu atau kelompok saling berlomba-lomba untuk memiliki kekuasaan dengan berbagai upaya yang dilakukan.

Upaya-upaya yang dilakukan seperti menghimpun massa atau melakukan kampanye agar individu atau kelompok, diakui dan didukung oleh masyarakat, karena dalam sistem demokrasi, dukungan masyarakat merupakan faktor penting.

Untuk mendapat simpati atau dukungan massa secara luas, mereka para aktivis media sosial telah menggunakan media digital sebagai alat komunikasi ke khalayak publik.

Tujuannya adalah teknologi digital memiliki pengaruh yang sangat besar bagi khalayak luas, selain itu media digital dapat menjangkau massa secara luas dalam waktu yang sangat singkat.

Penggerak Massa paling Efektif

Sejauh ini Teknologi digital dianggap sebagai salah satu sarana paling efektif dalam mengetahui berbagai peristiwa. Teknologi digital juga dianggap sebagai cermin berbagai peristiwa yang ada di masyarakat dan belahan dunia.

Berkaitan dengan berita terbaru di Indonesia, banyaknya kasus nasional yang diberitakan dikalangan masyarakat menjadi perdebatan di ruang lingkup media digital. 

Sebut saja social media, teknologi ini memiliki peran penting dalam menyebarkan berita secara cepat.

Yang terbaru soal kasus tenggelamnya kapal selam nanggala 402, santer diberitakan dimedia masa maupun social media, menjadi bahan perbincangan berita nasional bahkan mancanegara.

Banyak orang menanggapi hal tersebut dengan serius dan ada yang menjadi bahan candaan. 

Namun banyak dari para netizen simpati dan empati karena kasus tersebut agar segera di selesaikan dalam proses pencarian awak kabin 53 kru yang tenggelam bersama kapal selam nanggala 402.

Dari mayoritas yang bersimpati tadi ada segelintir orang menjadikan bahan lelucon atau candaan untuk menarik perhatian publik dengan berkomentar yang tidak sepantasnya.

Ada juga kasus, Aipda Fajar Indriawan ditetapkan sebagai tersangka karena diduga telah membuat postingan negatif mengenai tenggelamnya kapal KRI Nanggala-402 beberapa hari lalu.

Postingan yang dibuat Aipda Fajar Indriawan itu sempat viral di media sosial. Kemudian, oknum Polisi tersebut langsung diciduk oleh Polda DI Yogyakarta.

“Dari yang saya amati, banyak penipuan yang menggunakan alasan kesusahan, sementara di sisi lain, orang Indonesia terkenal dermawan. 

Salah satunya berdasarkan CAF World Giving Index,” ujar doktor lulusan Psikologi Universitas Indonesia ini.

“Banyak orang segera mewujudkan keinginan memberikan pertolongan pada orang yang membutuhkan bantuan, tanpa menyadari adanya kemungkinan penipuan,” lanjutnya.

Dampak yang Timbul

Terciptanya ruang diskusi di dunia maya berimplikasi orang satu sama lain saling mempengaruhi. Hal itu dikarenakan adanya kemungkinan kepentingan pribadi ataupun  kepentingan komunitas.

Tidak adanya ruang pengontrol di dunia maya pada media digital seperti halnya social media. Berdampak pada kebenaran informasi yang tersebar yang pada akhirnya seseorang akan terpengaruh dengan berita benar atau hoax.

Laporan terbaru Digital Civility Index (DCI) yang mengukur tingkat kesopanan digital pengguna internet dunia saat berkomunikasi di dunia maya, menunjukkan warganet atau netizen Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara.

Atau dengan kata lain, netizen indonesia paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Dalam riset yang dirilis oleh Microsoft ini, tingkat kesopanan netizen Indonesia memburuk delapan poin ke angka 76, dimana semakin tinggi angkanya tingkat kesopanan semakin buruk.

Survei yang sudah memasuki tahun kelima tersebut mengamati sekitar 16.000 responden di 32 wilayah, yang diselesaikan selama kurun waktu bulan April hingga Mei 2020.

Terlepas dari survey tersebut, sering kita mendengar bahwa sebagai orang timur beranggapan bahwa mayoritas warga Negara indonesia menjunjung adat istiadat, tata krama, dan sopan santun.

Hal ini dicontohkan seperti misalnya dengan mencium tangan orang yang lebih tua, tidak berpelukan apalagi berciuman di depan umum, berpakaian tertutup.

Kemudian menggunakan sebutan yang terhormat saat menulis, berbicara, berpidato, dan lain-lain.