Saya teringat posting instagram teman saya beberapa bulan yang lalu. Dia menuliskan caption dalam unggahannya kurang lebih seperti ini: 

“Saya takut. Sepertinya ada yang mengikuti saya. Dia tahu siang ini saya belum makan dan saya memang bermaksud akan mencari makan. Dia pun tahu tempat makan terdekat di sekitar apartemen saya. Saya celingukan mencari-cari di sekitar saya. Mungkin ada yang diam-diam melihat saya dari tower lain dan memperhatikan aktivitas saya. Atau mungkin, ada orang yang sengaja memasang kamera tersembunyi di apartemen saya.”

Sebagian besar manusia yang hidup di zaman sekarang pasti pernah merasakan hal yang sama dengan teman saya. 

Di satu sisi kita merasakan ada sosok yang sangat membantu dan mengerti perasaan kita, apa yang sedang kita butuhkan. Di sisi lain, kita merasa jengkel bahkan terancam karena di mana pun kita berada kita seperti diteror oleh sebuah sistem yang memaksa kita untuk melakukan hal-hal tertentu.

Misalnya saja saat kita ingin membeli sepatu dan mencari referensi harga dari sebuah market place. Setelah membandingkan antar toko online akhirnya kita mengambil keputusan untuk membeli di toko offline saja supaya bisa mendapatkan ukuran dan model sepatu yang sesuai dengan keinginan kita. 

Masalah beli sepatu sudah terselesaikan dan kita tidak lagi membutuhkan informasi tentang sepatu yang sudah kita beli. Namun, kita akan dibuat jengkel manakala kita berselancar di internet banyak sekali iklan sepatu muncul dan mengganggu aktivitas kita. 

Atau yang lebih parah, beberapa market place mengirim surat elektronik berisi iklan sepatu yang sudah tak lagi relevan dengan kebutuhan kita saat itu.

Jika saya sedang tidak memiliki uang, iklan itu pasti akan membuat saya jengkel atau saya abaikan begitu saja. Berbeda jika saat itu saya masih memiliki uang. Iklan yang muncul terus menerus disertai dengan banyak promo yang menggiurkan tentu akan mendorong saya untuk membeli lagi sepatu yang sebenarnya sudah tidak saya butuhkan lagi (karena saya baru saja membeli sepatu).

Mungkin sebagian dari Anda sudah mengetahui jawabannya, tapi tak sedikit juga yang masih bingung dari mana internet bisa menyajikan hal-hal yang sedang kita cari. 

Dari sekian banyak informasi yang tersebar bebas di internet, kita hanya disuguhi hal-hal yang relevan dengan kegemaran kita. Padahal Anda merasa tidak pernah memberikan informasi data pribadi maupun kegemaran Anda kepada orang asing. 

Lalu dari mana mereka mendapatkan data kita dan mulai meneror kita dengan berbagai penawaran, mulai dari penawaran kartu kredit, penawaran diskon untuk pembelian sepatu, atau yang paling remeh penawaran promo pesan makanan gratis ongkir di restoran cepat saji di sekitar tempat tinggal kita?

Inilah yang dinamakan dengan era di mana data menjadi ladang emas bagi segelintir orang yang dapat memanfaatkannya. Big data, machine learning, dan internet of things menjadi 3 teknologi canggih yang menyokong pengembangan artificial intelligence di masa depan. 

Lalu, bagaimana big data, machine learning, dan internet of things itu mengintervensi kehidupan manusia? Benarkah jika  big data, machine learning, dan internet of things berhasil terintegrasi sejarah manusia akan berakhir?

Popularitas Big Data, Machine Learning, dan Internet of Things, Serta Janji Kemudahan di Masa Depan

Website Codepolitan memberikan penjelasan singkat mengenai tiga teknologi yang kini sedang ramai diperbincangkan dan menjadi sangat populer tersebut. Penjelasan pertama mengenai big data yakni sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan volume data yang besar. 

Data tersebut terbagi lagi menjadi dua jenis, yakni data yang terstruktur dan data yang tidak terstruktur. Saat ini, big data menjadi komponen yang penting bagi sebuah bisnis karena dengan analisa yang tepat, big data dapat pengetahuan baru bagi pebisnis untuk mengambil keputusan dan strategi bisnis yang lebih baik ke depannya.

Di situs website yang sama, Codepolitan, menjelaskan bahwa “Istilah machine learning pada dasarnya adalah proses komputer untuk belajar dari data (learn from data).” Artinya, data menjadi komponen utama untuk menjalankan fungsi dari teknologi yang satu ini. Tanpa data, teknologi yang satu ini tidak memiliki fungsi. 

Belakangan ini, teknologi machine learning mulai diterapkan di bidang kedokteran untuk mendiagnosa penyakit pasien dari gejala yang ada. Teknologi ini dapat Anda temui di aplikasi JKN Mobile. Peserta BPJS Kesehatan dapat melakukan skrining online di menu pelayanan. Selanjutnya, Anda akan diberi beberapa pertanyaan terkait dengan kondisi fisik Anda saat melakukan test tersebut. 

Setelah menjawab seluruh pertanyaan, hasil skrining online akan keluar. Dari hasil tersebut Anda bisa mengetahui gambaran umum kondisi kesehatan Anda saat ini dan apa saja yang harus Anda lakukan untuk tetap menjaga kesehatan Anda. Machine learning di dunia kedokteran memang belum sempurna, tetapi teknologi ini sangat membantu bagi Anda yang sibuk tapi tetap peduli dengan kondisi tubuh Anda.

Teknologi selanjutnya adalah IoT (Internet of Things). Yana Permana, salah satu penulis di Codepolitan memberikan penjelasan, “Sederhananya, Internet of Things adalah konsep dasar yang menghubungkan perangkat apapun satu sama lain. Termasuk kulkas, TV, mesin cuci, lampu, smartphone, mobil dan masih banyak lagi.” 

Saat ini, penggunaan IoT di Indonesia memang masih sebatas menghubungkan antara satu gadget dengan gadget, atau menghubungkan mobil dengan alat bantu navigasi. 

Di masa depan, teknologi ini akan semakin canggih dan seluruh mesin yang Anda miliki akan terhubung. Yana Permana menceritakan, saat Anda akan menghadiri rapat tapi mobil Anda terjebak dalam kemacetan, navigasi yang terhubung dengan mobil Anda akan memprediksikan berapa lama Anda akan terjebak dalam kemacetan tersebut. 

Navigasi tersebut kemudian mengirim kabar ke smartphone Anda kemungkinan Anda akan terlambat 20 menit ke tempat rapat. Secara otomatis, smartphone Anda akan mengirimkan pesan ke klien Anda untuk menginformasikan bahwa Anda akan terlambat 20 menit. 

Apabila semua mesin yang Anda miliki saling terhubung seperti cerita yang dikemukakan Yana Permana, kehidupan di masa depan Anda pasti akan sangat mudah.

Agama Data sebagai Masa Depan Baru

Penjelasan singkat dari Codepolitan mengenai 3 teknologi populer yang digadang-gadang akan memudahkan kehidupan manusia tersebut tidak dapat dilepaskan dari komponen paling penting, yakni data. Tidak heran apabila sebuah perusahaan besar dunia seperti YouTube, Google, Facebook, atau Instagram memberikan aplikasi dengan layanan cuma-cuma kepada para penggunanya. 

Mungkin sebagian dari kita bertanya, darimana pendapatan perusahaan besar tersebut jika mereka menyediakan layanan gratis untuk penggunanya? Ternyata, selain dari iklan, perusahaan-perusahaan besar dunia tersebut mendapatkan keuntungan dari data para penggunanya. 

Tidak heran jika dewasa ini, data disebut sebagai emas baru. Bahkan dalam buku berjudul “Homo Deus: A Brief History of Tomorrow” karya Yuval Noah Harari terdapat sebuah pembahasan khusus mengenai data yang telah dianggap sebagai agama oleh sebagian ilmuwan.

Harari memberikan judul “Agama Data” pada bab kesebelas dalam buku yang menceritakan tentang masa depan homo sapiens tersebut. Harari membuka bab itu dengan sepenggal kalimat to the point, “Dataisme mendeklarasikan bahwa alam semesta terdiri dari aliran data, dan nilai setiap fenomena atau entitas ditentukan oleh kontribusinya pada pemrosesan data.” (2018: 423). 

Bagi Dataisme, aliran data yang ada di seluruh alam semesta sangatlah besar, sehingga cara manual dalam pemrosesan data tidak lagi efektif dan efisien untuk mengolah data tersebut.

Banyaknya data yang ada di sekitar manusia tidak lagi bisa diproses dengan cara lama, di mana manusia memproses data menjadi informasi, informasi menjadi pengetahuan, dan pengetahuan menjadi kebijaksanaan. 

Oleh sebab itu, dibutuhkan algoritma elektronik yang dipercaya oleh Datais dapat mengolah data dengan lebih baik dibanding kapasitas otak manusia. Hal tersebut kemudian dijadikan titik pijak oleh Datais untuk mengubah seluruh sifat kehidupan yang ada saat ini.

Di bidang politik, Harari menyebutkan bahwa kediktatoran menggunakan pemrosesan data terpusat, sementara demokrasi menggunakan pemrosesan data yang terdistribusi. Perkembangan teknologi yang lebih cepat dibandingkan perkembangan sistem politik, menjadikan teknologi menguasai ranah politik. Di sinilah sistem demokrasi yang dianggap sebagai sistem politik terbaik dalam abad ke-19 dan 20 menjadi semakin tidak relevan dengan perkembangan zaman.

Di abad ke-21, muncul berbagai terobosan baru di mana peraturan tentang hal tersebut belum ada. Sebut saja kemunculan transportasi online yang ramai beberapa tahun belakangan. Semula tidak ada yang protes dengan keberadaan jasa transportasi kekinian yang mengandalkan kecanggihan teknologi tersebut. 

Namun, seiring dengan meningkatnya pengguna, barulah muncul berbagai protes mengenai perizinan moda transportasi online yang kini menggeser transportasi umum seperti angkutan, taksi, maupun ojek tradisional. Dari titik ini kita dapat melihat bahwa teknologi sudah selangkah lebih maju mengungguli sistem politik yang sedang berkuasa.

Banyak orang yang telah menyadari pergeseran kekuasaan yang terjadi dewasa ini. Kekuasaan, tidak lagi sepenuhnya berada di tangan pemimpin negara seperti yang dikemukakan oleh Harari, “Sebagian orang percaya bahwa ada seseorang yang me-ngendalikannya. Bukan para politisi demokratis maupun penjahat otokratis, melainkan segelintir miliuner yang diam-diam me-ngendalikan dunia.” (2018:434). 

Mengendalikan dunia dalam konteks ini tidak lagi seperti pemaksaan kehendak yang dilakukan secara langsung oleh diktator seperti beberapa abad sebelumnya. Dewasa ini, pengendalian yang dimaksudkan lebih mengarah pada pengendalian cara berpikir manusia.

Proyek Hari Ini: Meretas Manusia

Di bulan Oktober 2018, channel YouTube Wired.com mengunggah sebuah video wawancara bersama Yuval Noah Harari dan Tristan Harris berjudul “How Humans Get Hacked: Yuval Noah Harari & Tristan Harris Talk with WIRED”. 

Di awal perbincangan, Harari membuat pernyataan yang cukup mencengangkan. Manusia menganggap dirinya memiliki kehendak bebas dalam setiap pilihannya dan kebebasan untuk memilih adalah hak yang tidak dapat diintervensi oleh siapa pun. Pada kenyataannya, kebebasan untuk memilih itu tidak ada, “Maybe the most important fact about living in the 21st century is that we are now hackable animals.” ungkap Harari.

Lebih lanjut Harari menjelaskan, yang dimaksud dengan meretas manusia adalah teknologi lebih mengetahui diri Anda dibandingkan Anda sendiri. Melalui big data yang merekam seluruh informasi tentang diri Anda, algoritma dalam machine learning akan bekerja untuk memahami dan memprediksi tindakan Anda. Semakin lama, algoritma ini akan memahami Anda lebih baik daripada ibu Anda sendiri atau bahkan diri Anda sendiri. 

Contoh sederhananya saat jam makan siang berlangsung. Anda bingung menentukan pilihan menu makanan Anda. Tak berapa lama kemudian aplikasi Gojek Anda berbunyi dan memberitahu ada promo gratis ongkir dari ayam geprek favorit Anda. Akhirnya, Anda memutuskan makan ayam geprek dan langsung melakukan order melalui aplikasi Gojek.

Secara tidak langsung, algoritma telah mengambil alih pilihan bebas Anda. Algoritma menentukan hampir seluruh aspek kehidupan Anda, mulai dari yang paling dasar seperti makanan dan minuman, pakaian, jenis transportasi, sampai yang bersifat paling pribadi seperti teman kencan. Algoritma menjadi sangat luar biasa karena perancang algoritma tidak hanya berasal dari kalangan yang ahli komputer, tetapi juga didukung oleh ahli psikologi dan ilmu otak.

Lalu, apakah kita harus mundur ke belakang dan tidak menggunakan teknologi yang ada saat ini supaya tidak diretas? 

Kenali Dirimu

Sampailah manusia pada titik ketakutan bahwa dirinya akan musnah dan digantikan dengan teknologi canggih seperti robot dengan artificial intelligence. Atau manusia hanya menjadi boneka yang digerakkan oleh algoritma yang dikuasai segelintir orang saja. 

Teknologi akan selalu menjadi pedang bermata ganda, bermanfaat sekaligus berbahaya. Mengambil langkah mundur dan melepaskan diri sepenuhnya dari teknologi yang ada dewasa ini bukanlah pilihan terbaik yang bisa Anda ambil. 

Sebaliknya, justru Anda harus lebih mengenal teknologi untuk dapat memaksimalkan manfaatnya dan meminimalkan resikonya. Namun, sebelum itu Anda harus mengenali diri sendiri terlebih dahulu.

Ungkapan kenali dirimu sudah diungkapkan oleh seorang filsuf Athena jauh sebelum teknologi berkembang sedemikian pesat. Filsuf bernama Socrates tidak pernah lelah untuk mengatakan, “gnothi sauton” pada setiap orang yang ditemuinya. Dengan mengenali diri sendiri, kita dapat mengeksplorasi dan mengaktualisasikan seluruh potensi yang ada dalam diri kita.

Ungkapan kenali dirimu menjadi sangat relevan untuk diterapkan dewasa ini. Harari menyebutkan langkah awal untuk meminimalisir peretasan terhadap diri Anda adalah melalui pengenalan diri, “... you need to know yourself as best as you can. It’s not a perfect solution but somebody is running after you, you run as fast as you can. I mean it’s a competition...”

Apabila Anda kalah dalam kompetisi ini, Anda hanya akan menjadi boneka yang digerakkan oleh penguasa dunia melalui algoritma.

Referensi

Harari, Yuval Noah, 2018, Homo Deus: A Brief History of Tomorrow terjemahan Yanto Musthofa Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia, PT Pustaka Alvabet: Tangerang Selatan.

Thompson, Nicholas, 2018, wired.com diakses dari https://www.wired.com/story/artificial-intelligence-yuval-noah-harari-tristan-harris/ tanggal 5 Maret 2019.