Bagaimana manusia yang menciptakan teknologi untuk kepentingan manusia lain dan di saat yang sama justru mengasingkan manusia itu sendiri?

Zaman yang Digerus Teknologi

Di abad ke 21 ini, manusia modern telah “seolah-olah” menyatu dengan teknologi. Teknologi telah menjadi bagian dari hidup yang tak terpisahkan. Hampir dalam segala aktivitasnya manusia membutuhkan teknologi. Saat ingin bepergian, manusia membutuhkan kendaraan, berkomunikasi menggunakan telepon genggam, pendingin ruangan, lampu, televisi, dan sebagainya.

Beragam teknologi memang dirasa telah meringankan pekerjaan manusia. Bahkan dikatakan bahwa kita (manusia) memang sudah tak bisa membendung perkembangan teknologi, walaupun teknologi adalah buatan manusia juga. Jadi pernyataan yang benar semestinya adalah manusia dapat membendung (mengendalikan) teknologi saat ini.

Tentu saya tidak mengatakan untuk “anti” terhadap teknologi. Terlebih dalam menulis tulisan ini, saya sedang menggunakan teknologi. Pun dalam membaca tulisan ini, orang-orang menggunakan teknologi. “Ketergantungan” menjadi kata yang tepat untuk menggambarkan hubungan manusia dengan teknologi.

Pada mulanya teknologi lahir berkat upaya manusia dalam membaca tanda-tanda alam. Sejalan dengan perintah tuhan untuk manusia, di mana manusia diperintahkan untuk menggunakan akalnya. Alam sebagai sebuah rahmat yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia, Tuhan tundukkan alam untuk dikelola manusia. Sehingga pada akhirnya manusia menciptakan apa yang disebut teknologi.

Sadar atau tidak, teknologi menjelma menjadi sebuah “nilai” baru, menyingkirkan banyak pekerjaan manusia yang sebelumnya begitu banyak dan berat. Semisal, ketika petani di masa lalu memanen padi dengan tangan (manual) dan gotong royong. Kini proses pemanenan padi itu dapat dilakukan oleh teknologi, sebuah mesin panen yang hanya perlu dikontrol oleh satu orang. Dalam hal ini, semua terasa baik-baik saja, bahkan menguntungkan.

Banyak sekali contoh bagaimana teknologi memudahkan manusia, menambah waktu luang dan bersantai dengan berbagai aktivitas lain. Teknologi adalah partner yang menguntungkan.

Kritik atas Teknologi

Akhir-akhir ini kita diliputi berbagai pemberitaan bagaimana negara kita Indonesia juga turut bersiap meyambut era industri 4.0, sebuah era baru yang melampaui pikiran sebelumnya. Era kecanggihan teknologi melahirkan kecerdasan buatan (artificial intelligence), teknologi nano, komputer kuantum, dan sebagainya. Keterhubungan (konektivitas) menjadi kunci. Memperluas cakrawala berpikir manusia, namun “memperkecil” fisik manusia pada sisi yang lain.

Dengan asumsi sederhana, semakin mudah sesuatu dikerjakan, maka kita akan semakin menganggapnya sepele, setelah itu kita akan mengabaikannya karena bosan. Begitupun teknologi, teknologi itu memudahkan pekerjaan manusia.

Teknologi membuat kita menganggap sepele berbagai hal sebab telah begitu dimudahkan. Di sisi lain, keinginan manusia semakin berkembang dan sejalan bahwa semua keinginan itu bisa dicapai dengan teknologi. Pada akhirnya manusia merasa bisa melakukan segalamya dengan teknologi.

Di sini titik terburuknya, ketika manusia merasa bisa melakukan segala sesuatu. Kita tentu mengingat, baru-baru ini ada penelitian di Jepang yang mengupayakan sel telur perempuan dapat berkembang menjadi embrio tanpa perlu sel sperma dari laki-laki.

Masih hangat juga dipikiran kita bagaimana upaya yang dilakukan oleh Rusia untuk menciptakan negara di ruang angkasa. Baru-baru ini juga teknologi  dari ilmu biostatistika mencoba mengurai kromosom manusia untuk menemukan kode umur biologis suatu makhluk hidup.

Dan saya rasa masih banyak lagi rencana-rencana penemuan lain yang betapapun banyaknya tetap tidak akan mungkin memenuhi dahaga (hasrat) manusia. Sehingga keterbukaan terhadap berbagai hal dalam hidup, menciptakan semacam dorongan yang membuat manusia semakin “gila” akan sains dan teknologi tannpa mempertimbangkan daya dukung bumi sebagai dasar dari segala bangun cipta manusia.

Titik Akhir, Sebuah Introspeksi

Pada akhirnya teknologi akan berubah menjadi “monster” yang siap menghabisi apa pun di hadapannya. Sebab kedigdayaan pikiran yang tertuang dalam bentuk baru, kebendaan dengan berbagai fungsi dan kegunaan. Teknologi yang pada mulanya lahir dari pengamatan manusia tentang tanda-tanda di alam raya, pada akhirnya berubah menjadi sebuah bentuk penampakan kelemahan manusia itu sendiri.

Kita jelas tak bijak jika mengatakan anti terhadap teknologi, namun yang perlu kita luruskan adalah menumbuh dengan sehat bersama pertumbuhan teknologi. Sebagai sebuah mahakarya dari umat manusia, teknologi tetaplah teknologi, ia ada di bawah kendali manusia. Bukan malah mengendalikan manusia. 

Kebijakan dan cinta adalah jalan menuju teknologi yang adil dan ramah terhadap alam. “Membatasi teknologi” memang terdengar mengada-ngada, namun harus dilakukan. Jika tidak, maka konsekuensi terburuknya adalah sama dengan gerakan mempercepat kehancuran bumi.

Ibarat seorang sahabat, teknologi adalah sahabat yang pada akhirnya akan mengkhianati kita. Untuk alasan itulah mungkin sehingga tuhan meminta kita untuk menjalani hidup dengan sederhana. Tuhan selalu selangkah lebih baik dalam menyusun dan memberi tanda kepada manusia mana yang baik dan mana yang buruk untuk dilakukan. 

Bukan berarti kita harus membuang waktu untuk hal yang tak perlu, bukan berarti kita menolak semua kemudahan. Kita hanya perlu lebih bijaksana. Sebab tak ada larangan untuk menjadi manusia modern sebagaimana modern yang dipahami.

Sisi terbaik manusia dapat menjadi pengikat teknologi untuk tetap dalam jalur kebutuhan. Manusia memiliki fitrah yang baik. Segala yang baik adalah fitrah manusia. Oleh sebab itu, maka kegagalan memahami kemanfaatan suatu teknologi adalah “alarm” yang harus senantiasa disucikan.

Sebagai manusia, kendati hasrat telah begitu tinggi untuk terus memproduksi atau menggunakan teknologi, kita sebenarnya memiliki sebuah kuil suci dalam diri masing-masing. Kuil itulah yang kemudian menjadi tanda untuk segera menghentikan sesuatu yang terasa telah melampaui batas. Itulah “hati nurani”.