Saya sebenarnya tidak menyangka kegundahan yang saya tuangkan lewat tulisan sebelumnya mendorong beberapa orang untuk memberikan balasan atas tulisan tersebut. Oleh karena itu, sebelum saya masuk ke paparan inti, saya ingin mengucapkan terima kasih pada mereka semua.

Kedua kritik yang disampaikan oleh Alif Mahfud dalam tulisannya yang berjudul "Jangan Berjilbab Jika Merasa Terpaksa" dan Gus Rumail dalam artikel "Tidak Perlu Rese dengan Anjuran Berjilbab" sebenarnya bernada serupa.

Kedua tulisan tersebut memiliki pandangan yang sama, menganjurkan orang berjilbab itu bukan suatu masalah dan tidak perlu dipandang sebagai hal yang rese. Begitu juga dengan perbuatan yang mengajak pada kebaikan adalah hal yang tidak keliru sama sekali.

Kedua penulis juga membandingkan kasus yang diangkat dalam tulisan tersebut dengan kondisi sebagian muslimah lain yang kesulitan untuk menggunakan jilbab dan bahkan dirisak hanya karena penggunaan jilbabnya.

Setelah saya membaca kembali tulisan saya, sepertinya ada yang luput dari pemahaman sebagian pembaca bahwa penekanan dalam tulisan tersebut adalah tentang social pressure atau tekanan sosial.

Jika ingin bicara tentang tekanan sosial, mengapa kasus yang diambil adalah dorongan berjilbab? Mengapa bukan resenya anjuran menikah bagi para lajang?

Karena dorongan berjilbab lah yang membuat saya resah selama beberapa tahun terakhir. Gencarnya dorongan berjilbab ini sudah sering saya lihat, dan pembenaran-pembenarannya akhirnya membuat saya gerah.

Apa itu tekanan sosial? Tekanan sosial dapat diartikan sebagai pengaruh yang diberikan oleh sekelompok orang/individu yang mendorong orang lain untuk mengubah sikap nilai, dan perilaku agar mengikuti keinginan kelompok atau individu tersebut.

Apakah itu berarti cakupan tekanan sosial ini kecil? Tidak. Apalagi di era media sosial sekarang ini. Orang tidak perlu mengenal saya untuk berusaha mengubah sikap, tindakan, dan nilai yang saya pegang.

Buktinya? Cobalah lihat kolom komentar di akun media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, dan media sosial lainnya. Dalam tulisan sebelumnya, kasus yang saya ambil adalah anjuran berjilbab.

Seperti yang telah saya sampaikan di atas, alasan "mengajak berbuat kebaikan" selalu diajukan oleh para penganjur berjilbab. Menurut mereka, individunya saja yang terlalu sensitif karena merasa ditekan dan merasa dirisak. Seharusnya tidak ada yang perlu tersinggung, malah berterima kasih. Bukankah begitu?

Juga, menurut mereka, seharusnya seseorang tetap saja mengambil keputusan bukan karena apa kata orang lain, atau desakan lingkungan sekitar. Kalau tidak mau, ya tidak usah. Gitu aja kok repot?

Benarkah seseorang mampu mengambil keputusan tanpa bias sama sekali? Tanpa merasa terpaksa untuk mengikuti tekanan sosial? Ternyata tidak. Saya rasa hanya sedikit orang yang betul-betul bertindak dengan nilai bias yang sangat kecil. Kebanyakan dari kita justru seringnya bertindak karena desakan lingkungan. Mengapa?

Ada beberapa faktor yang membuat seseorang akhirnya tunduk pada tekanan sosial. Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah kekompakan, ukuran kelompok, gender, kultur, usia, otoritanisme, kecerdasan, dan kepercayaan diri.

Saya akan langsung membahas masing-masing faktor sesuai dengan kasus anjuran berjilbab.

Seandainya dalam kelompok sosial kita, mayoritas (bila tidak semua) anggotanya sudah berjilbab, kemudian muncul dorongan berjilbab dari sesama anggota kelompok, bisa dipastikan individu yang didorong untuk berjilbab pada akhirnya akan berjilbab.

Ketundukan ini juga akan semakin tinggi kemungkinannya bila ukuran kelompok sosial kita besar, yang memang sudah terjadi saat ini. Di akhir tahun 90-an sampai pertengahan 2000-an, jumlah perempuan yang berjilbab sejauh mata saya memandang masih imbang. Tapi sekarang sudah semakin banyak yang berjilbab. Apa pun alasan mereka.

Bayangkan ketika ada satu perempuan tidak berjilbab yang memiliki kelompok pergaulan yang mayoritas berjilbab, baik itu di komplek, di kantor, teman SMA, teman kuliah, keluarga dekat, keluarga besar, dan mereka selalu mengajak perempuan ini untuk berjilbab.

Ternyata perempuan pun lebih mudah tunduk pada tekanan sosial daripada laki-laki. Apalagi bila tekanan ini diberikan oleh orang-orang yang dia kenal. Ibu, saudara sepupu, nenek, teman satu geng, teman kantor, teman kuliah, dan sebagainya. Bukankah yang sering merecoki itu adalah yang kita kenal?

Kultur kita yang ketimuran juga membuat seseorang lebih mudah takluk pada tekanan sosial, apalagi bila tekanan tersebut (lagi-lagi) diberikan oleh orang yang mereka kenal.

Seseorang yang memiliki kecerdasan (dalam hal ini adalah kemampuan bernalar) yang tinggi tidak akan mudah mengikuti tekanan sosial yang diterimanya. Karena keputusan yang dia ambil adalah hasil memproses secara matang dan seksama berbagai data yang dia analisa dengan hati-hati.

Terakhir, kepercayaan diri. Individu yang memiliki kepercayaan diri yang rendah hingga sedang sangat rentan tunduk pada tekanan sosial. Bagaimana kita mengetahui si A percaya diri atau tidak? Bisakah kita melihat hanya dari penampakan luarnya saja?

Ternyata tidak. Bisa saja seseorang terlihat super pede ketika berbicara, tapi ternyata di dalam dirinya dia menyimpan rasa takut yang besar. Ketika lingkungan sosial memintanya untuk melakukan sesuatu, mungkin awalnya dia bisa mengelak. Tapi karena rasa percaya diri yang rendah tadi, akhirnya takluklah ia.

Atas dasar alasan-alasan di atas lah maka saya menuangkan kegelisahan tentang anjuran berjilbab yang sudah off-side.

Faktor-faktor yang dijelaskan sebelumnya belum menambahkan nilai agama. Ketika kita mempertimbangkan faktor agama, maka semakin besarlah kemungkinan seseorang tunduk pada tekanan sosial berbasis agama. Apalagi bila ada embel-embel ayat suci, dan pahala atau dosa yang melekat. Tekanan sosial yang dirasakan akan semakin besar, sehingga individu yang sedang "dicerahkan" tersebut akan takluk.

Pertanyaannya, bagaimana jika kondisinya dibalik? Bagaimana bila saya dihadapkan pada kasus seorang perempuan berjilbab dikomentari beramai-ramai untuk melepas jilbabnya? Bagaimana seandainya saya sering melihat komentar seperti, "Kamu kan cerdas, kok berjilbab?" atau "Kamu lebih ayu kalau jilbabnya dibuka, deh"?

Saya akan mengeluarkan tulisan yang sama.

Bagaimana posisi saya tentang perkara lain yang serupa tapi tidak sama? Misalnya tekanan lingkungan pada mereka yang masih lajang untuk segera menikah. Komentar-komentar seperti, "Nanti keburu tua loh," atau "Apa sih yang kamu cari? Kan nikah bisa sama siapa saja," juga akan membuat saya menuliskan hal yang sama.

Tekanan sosial tidak pernah berdampak baik. Karena ia cenderung meniadakan proses bernalar dan kesadaran yang muncul bukanlah kesadaran yang kritis. Tindakan yang terwujudkan pada akhirnya bukanlah berdasarkan kesadaran kritis yang diperoleh dari hasil pemikiran mendalam dan seksama.

Kita tidak akan pernah betul-betul mengetahui alasan di balik keputusan seseorang apalagi yang melibatkan persoalan personal. Berjilbab, menurut hemat saya, adalah suatu hal yang sifatnya sangat personal. Antara makhluk dengan Tuhannya.

Lagipula, anjuran berjilbab ini sudah ada di dalam kitab suci, sudah didengungkan oleh para ustaz, informasi tentangnya sudah berserakan di internet, apa perlu kita mengojok-ojok kawan atau kenalan kita untuk berjilbab?

Dan saya kembali menanyakan, apakah seseorang menjadi bernilai lebih rendah bila ia tidak mengikuti apa yang ajaran Anda minta?