Setiap tanggal 10 November, juga tahun 2018 ini, Presiden Republik Indonesia akan mengumumkan siapa yang layak menjadi Pahlawan Nasional tahun ini. Ini adalah hak politik seorang presiden dalam menentukan siapa saja yang berhak menyandang gelar sebagai seorang pahlawan.

Tahun 2018 ini, nama almarhum Presiden Kedua Republik Indonesia (RI) Jenderal Besar TNI Soeharto yang memerintah selama 32 tahun, kembali terdengar. Soeharto yang dianggap sebagian orang angker, ternyata tidak demikian. Bahkan seorang wartawan harian "Merdeka," Soepeno Sumardjo, ketika masih hidup pernah menceritakan tentang sosok mantan Presiden RI tersebut.

Seorang mantan Presiden RI itu memiliki humanisme yang tinggi, ujarnya. Ditambahkannya, peristiwa ini tidak mungkin terungkap jika kita hanya menyaksikan Presiden Soeharto waktu itu sedang berpakaian formal. 

Soepeno Sumardjo pernah bercerita kepada saya bahwa ia pernah ke Dewan Perwakilan Rakyat RI menyaksikan Presiden Soeharto berpidato. "Saya tahu ia sakit, tetapi masih menguatkan diri melaksanakan kewajiban konstitusi dengan berpidato di depan wakil rakyat di DPR RI," ujar Soepeno.

Soepeno melanjutkan bahwa Soeharto biasanya jika berpidato, ia melihat langsung selalu berdiri di belakang podium. Tetapi kali ini kok tidak ya, pikirnya. Presiden RI itu duduk di atas papan yang memang dibuat secara khusus yang tidak tampak oleh para anggota DPR RI, bahwa dalam posisi duduk. Sudah tentu dokter kepresidenan disiapkan seusai Presiden Soeharto berpidato. 

Setelah berpidato itu presiden langsung dibawa ke rumah sakit dan masuk ke ruang operasi batu ginjal. Belum operasi, batu ginjal sebesar kacang ijo, tetapi tajam itu keluar sendiri. Akhirnya tim dokter memutuskan presiden tidak jadi dioperasi, hanya diobati saja. Ini menunjukkan bahwa Presiden Soeharto tetap melaksanakan kewajibannya kepada rakyat, meski sakit.

Soepeno juga bercerita kepada saya ketika diterima Presiden Soeharto di Jalan Cendana. Di atas pintu keluar rumah presiden terdapat tulisan huruf Jawa, sa, sa, sa. Ia bertanya kepada presiden tentang artinya. Sa pertama ujar presiden, artinya sareh. Sareh itu adalah kesabaran di dalam bathiniah. Kalau sa kedua, artinya sabar di dalam tingkah laku. Kalau seseorang sudah bisa menjalankan sareh dan sabar, maka orang itu dianggap orang yang saleh (arti sa ketiga).

Memang kadang kala ada yang mengatakan bahwa presiden kedua itu sosok yang sulit ditebak. Itu menurut komentar ahli politik di dalam maupun di luar negeri. Gaya kepemimpinan yang dikembangkan para kepala negara lain yang pernah kita kenal sangat berbeda. Orang hanya tahu apa yang pernah dilakukan Soeharto, tetapi orang tidak pernah tahu apa yang akan dilakukan Presiden Kedua RI itu.

Tidak seorang pun menyangka bahwa gaya kepemimpinan Soeharto ini mampu menstabilkan pemerintahan dalam waktu yang amat panjang. Rakyat merasa aman di masa pemerintahan Soeharto. Tidak pernah ada gejolak-gejolak, tidak pernah ada pertikaian. Kalaupun waktu itu Timor Timur bergabung dengan Indonesia, itupun berjalan dengan baik. Tidak ada riak-riak politik. Ketika mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Presiden RI pada, 21 Mei 1998, ia pun tetap tegar.

webandhosting.co.za

webandhosting.co.za

Ada hal menarik lainnya dari Presiden kedua ini, yaitu jangan ada dendam. Itulah yang diterapkan anak-anak Presiden Soeharto dan anak-anak Presiden Soekarno ketika kedua keluarga besar tersebut bertemu di Hari Ulang Tahun Guntur Soekarno Putra pada 8 November 2014. Hal inilah sepatutnya yang harus dicontoh para Calon Presiden 2019.