Indikator kejujuran orang adalah benarnya apa yang ia katakan dengan membuktikan perkataannya. Jika benar, maka ia dapat dipercaya. Jika salah, maka mungkin ia khilaf—untuk tidak mengatakannya salah atau bahkan berbohong.

Dalam hal apa pun, bukti merupakan suatu yang sangat berharga dan menenteramkan. Seorang ibu akan lega saat melihat langsung anaknya maju ke panggung, memberikan sambutan saat wisuda, dibanding mendengar seribu orang yang mengatakan bahwa anaknya rajin, pintar, dan berprestasi.

Seorang perempuan akan sangat tenang hatinya ketika diberi kepastian (bukti) oleh lelaki yang mencintainya, meski belum lama kenal. Sebaliknya, mereka akan gelisah jika berstatus teman tapi mesra dengan lelaki tampan nan kaya, tapi tak kunjung memberi bukti, menikah.

Bukankah banyak kisah tentang cinta laki-laki yang kandas lantaran perempuan menerima pinangan dari sosok yang lebih pasti? Bahkan tak jarang orangtua turun tangan mengintervensi keputusan anak perempuannya seperti kisah cinta Novita dan Mas Pur dalam serial Tukang Ojek Pengkolan yang sukses membuat baper netizen.

Ada sebuah kisah menarik soal permintaan bukti untuk menenangkan hati. Kisah yang termaktub dalam surat al-Baqarah ayat 260 ini menarik karena melibatkan Allah SWT dan Nabi Ibrahim AS. Ya, Nabi yang bergelar Khalilullah (kekasih Allah) ini meminta bukti kepada Allah tentang kuasanya dalam menghidupkan makhluk yang sudah mati.

"Tuhanku, perlihatkan kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan makhluk yang mati," pinta Ibrahim. 

"Apakah kamu tidak percaya kepadaku?" tanya Allah.

"Tentu saya percaya, tapi untuk sekadar meyakinkanku dan menenteramkan hatiku saja," tukas Ibrahim. 

Kemudian Allah memerintahkan Ibrahim untuk mengambil 4 ekor burung dan menyembelihnya. Lantas memotong kecil-kecil jasad burung itu dan meletakkannya secara acak di beberapa gunung dan memanggil burung tadi.

Setelah Ibrahim melakukan semua itu, apa yang terjadi? Burung-burung datang ke tempat di mana Ibrahim memanggil mereka, dan bangkai burung itu menjadi satu sesuai jasadnya masing-masing serta hidup sedia kala.

Dalam kisah tersebut, apakah Nabi Ibrahim saat itu ragu dengan kekuasaan Allah? 

Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menerangkan bahwa sebagian ulama berpendapat bahwa Nabi Ibrahim belum yakin. Hal itu dapat dilihat dari perkataannya sendiri. Namun, keraguan itu bukan berarti ketidakpercayaan. Hanya saja, kepercayaan dan keyakinan Ibrahim dalam persoalan ini masih pada tataran Ilm al-Yaqin, belum sampai pada tingkat ‘ain al-yaqin atau bahkan haqq al-yaqin.

Sekelas Nabi Ibrahim yang dikenal sebagai Abu al-Anbiyaa’ (bapak para Nabi) masih sempat meragukan kekuasaan Allah, sang Pencipta dan Maha Kuasa. Apalah arti ucapan kita kepada saudara-saudara kita? Wajar jika kemudian Allah menegur kita agar tidak sesumbar menjanjikan sesuatu:

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi’, kecuali (dengan menyebut): ‘Jika Allah menghendaki’ (Insya Allah)” (Q.S. al-Kahfi: 23-24).

Selama hidup ini, berapa kali kita sudah mengumbar perkataan tanpa bukti? Berjanji kepada orangtua untuk bersungguh-sungguh belajar, namun nyatanya lebih sering cangkrukan tanpa arah. Berjanji kepada dosen untuk presentasi pertemuan depan, namun makalah belum siap dan beralasan sakit agar tidak masuk kelas. Berjanji kepada perempuan yang sudah diketuk hatinya, tapi tak kunjung datang ke rumah dengan beribu alasan. 

Ah, nyatanya kita masih mirip dengan koruptor yang berteriak lantang, “memberi bukti, bukan janji.”