“… Kebiasaan seumur hidup akan berubah. Pada titik tertentu, dorongan akan diperlukan. Jika guncangan gangguan virus corona tidak cukup bagi kita untuk mengkalibrasi ulang semuanya, apalagi yang mampu?

Pada akhirnya Pandemi ini benar-benar mampu mengganggu berbagai kegiatan masyarakat, tak terkecuali kegiatan kesenian, khususnya teater. Apakah ini sebuah momen kalibrasi ulang Teater?

Sebelumnya berbagai ruang perbincangan maupun praktik seni, khususnya seni teater, baik dalam teater komunitas, teater kampus maupun teater berbasis studi kota, muncul beragam pertanyaan: mengejar wacana masyarakat industri 4.0.

Setiap grup berusaha menjelajahi secara terpisah maupun bersama-sama era yang dipimpin oleh arus teknologi, baik generasi millennial yang sudah akrab dengan teknologi hingga generasi baby boomers. Semua ini dilakukan untuk tetap jadi aktual dalam masyarakat.

Belum selesai dengan wacana tersebut, tiba-tiba berbagai kegiatan kesenian yang sifatnya fisik harus tertunda, salah satunya agenda dari Teater Kembali Satu, Jakarta Barat, yang semula akan berpentas di Slawi dalam rangka Hari Teater Seduia 2020.

Teater ini telah mencoba berbagai pendekatan terhadap masyarakat ‘baru’ ini dengan menggabungkan isu perempuan, mitologi yunani, mitologi hindu, hingga wacana sejarah kontemporer. Tak lupa pemanfaatan teknologi video mapping.

Namun wabah ini menjegal pementasan mereka dan seakan menantang seni teater di Indonesia yang secara umum dikenal lebih saklek dalam hal ‘ruang’ dibanding seni di bidang lain. Ketika semua orang diimbau menjaga diri di rumah, bagaimana Teater menghadapi tantangan dunia virtual?

Pada akhirnya banyak komunitas dan grup-grup seni memindahkan pementasannya melalui medium virtual seperti YouTube maupun Instagram, baik melalui postingan feed Instagram ataupun berusaha dengan tetap memegang teguh sentuhan live-nya dengan menggunakan fitur live di platform Instagram.

Beberapa yang lain memutuskan untuk memanfaatkan waktu ini untuk sejenak menunda aktivitas latihan fisik bersama, dan memutuskan untuk memanfaatkan momen ini untuk sejenak berpikir mengenai konsep-konsep ontologi epistemologi hingga aksiologi-aksiologian Teater.

Berkenalan dengan fitur live Instagram, aplikasi video conference seperti Zoom ataupun Google Meet untuk mengadakan diskusi, yang akhirnya membuka ruang diskusi lebih luas dan lebih sering yang dapat membuat pelaku seni dari berbagai daerah, dapat bertemu melalui satu ruang virtual.

Salah satunya diskusi yang diadakan oleh DKJ dengan nara sumbernya Afrizal Malna dan salah satu narasumber lain dari lampung.[1] 

Muncul beberapa pertanyaan menggelitik, misalnya, jika menggunakan medium virtual, apakah bedanya teater dengan film? Apakah, misalnya, fenomena Tik-Tok merupakan teater?

Diskusi sekitar dua jam itu akhirnya ditutup dengan “semua mode virtual yang digunakan. Pada akhirnya kembali kepada niat pelaku seni apakah untuk menciptakan pertunjukan teater atau bukan.

Fenomena Pandemi ini setidaknya berhasil memaksa penggiat seni Teater untuk ‘bercermin’ lebih jauh, tidak hanya ke dalam tubuh teater dalam negeri, tapi juga tubuh teater di luar negeri, dan mencoba menerapkannya agar tetap eksis di era pandemi dan menggulirkan beragam wacana.

Wacana yang berkaitan misalnya dengan bentuk-bentuk Post-Dramatic atau Immersive Theater telah muncul dalam berbagai ruang dengan istilah yang lebih dekat dikenal dengan aliran eksperimental.

Post-Dramatic merupakan pertunjukan teater yang tidak secara dalam menonjolkan unsur sastra, tapi perpaduan antara ‘text-space-time-body-media’[2] 

Tidak dalam artian secara gamblang menumpahkan berbagai media ke dalam sebuah pementasan dan menjadikan sebuah pementasan seakan penuh dengan ‘kabel-kabel’ berantakan atau ‘ramai’ dan ‘wah’, namun bagaimana sebuah pementasan menjadi minimalis namun mewakili sensasi tubuh masyarakat media.

Dalam hal ini pementasan salah satunya bisa menjadi sebuah media katarsis bagi masyarakat multimedia, media penyucian jiwa, selain sebagai wadah penggiat Teater bermasturbasi semata.

Akhirnya kita menyentuh tidak hanya masyarakat seni melulu, namun juga penontonnya yang sering kali diperbincangkan namun belum menemukan sebuah hasil yang nyata dalam menciptakan sebuah hubungan simbiosis yang saling menguntungkan.

Kata keuntungan seakan menjadi sebuah kata yang amat sensitif dan sering kali berkaitan dengan isu idealisme seni vs pasar, yang seakan menampik kebutuhan esensial pekerja seni selain aktualisasi idealisme, yang pada akhirnya kerap kali jatuh dengan menyalahkan penonton.

Di samping belum adanya Theatre Innovation Ecosystem yang baik sebagai sebuah bentuk kerja sama antara dunia pendidikan yang mengedukasi perihal teater sejak dini, salah satu yang bisa dilakukan pekerja seni adalah melakukan riset dan dialog secara kontinu dengan masyarakat.

Salah satu kerangka kerja yang dilakukan oleh grup teater di luar negeri adalah melalui Immersive Theatre.[3] Sebuah wacana yang melibatkan penonton dalam pertunjukan.

Dalam konsep ini, penonton diajak untuk keluar dari kursi penonton dan ikut berkontribusi dalam jalannya pertunjukan, membebaskan penonton untuk mengeksplorasi ruang pertunjukan, menciptakan kejutan-kejutan.

Penonton diajak memasuki pengalaman baru tidak hanya secara imajinatif, namun juga melepaskan diri mereka dalam sensasi fisik untuk menciptakan pertunjukan yang maksimal. Misalnya dalam pementasan the last IDEAL PARADISE yang diadakan Gothe Institut Indonesien di Perum PFN, Jakarta.

Penggunaan multimedia interaktif salah satunya dapat dilihat dari apa yang dilakukan oleh kelompok Blue Lane dengan membuat seri website misteri salah satunya dari no EXIT karya Jean-Paul Sartre.

Seperti yang dikatakan oleh Lehmann dalam Ikra, bahwa perkembangan mengikuti arus teknologi ini secara intens menuju suatu pertunjukan yang sulit dikategorisasikan ke dalam kaidah drama, yang menempatkan seni dalam ruang yang lacur.

Pandemi ini menyadarkan kita makin masifnya penggunaan teknologi yang bergerak pelan tapi pasti membersamai masyarakat kesenian dan menyadarkan bahwa semangat ‘semoga lekas sembuh dunia!’ harus diubah dengan ‘mari kita bersiap!’

Apa pun pendekatan yang dilakukan oleh berbagai kelompok teater, terdapat satu hal nyata, bahwa Pandemi merupakan kerentanan baru manusia yang sangat nyata bisa jadi berevolusi lagi dan lagi. Mari mengelaborasi semua dan bersiap menyongsong masa depan kesenian dan masa depan umat manusia.

  1. Apa Artinya Panggung dalam Konteks Corona dan Dampak-Dampaknya ? live Instaram Dewan Kesenian Jakarta, 5 Mei 2020 pada pukul 20:00 WIB
  2. Lehmann dalam Semi Ikra Anggara, “Teater di Sekitar Kota Jakarta Sikap politik Hingga Wacana Postdramatik, Pekan Teater Nasional 2018, Kemendikbud 
  3. ArtpreneurTalk : Socio Enterprise Berbasis Teater, diskusi via Zoom oleh Ciputra Artpreneur pada 21 Mei 2020 pukul 20:00 WIB.