Berpikir akan membuat orang pusing. Kepalanya berat dan tidurnya tidak nyenyak. Keyakinan akan membuat orang tentram dan bahagia. Tidurnya pulas dan jiwanya waras. Berpikir akan melahirkan daya nalar dan juga kritis dengan asumsi-asumsi yang terbukti empiris. 

Keyakinan akan menimbulkan daya fanatisme-etis yang erat kaitannya dengan persoalan teologis. Semuanya berkesinambungan secara massif. Sejarah beberapa kali mengingatkan kita tentang persoalan-persoalan tersebut. Munculnya peradaban lalu berkembangnya hingga keruntuhannya selalu mempersoalankannya, paling tidak menyinggungnya.

Penggunaan akal telah mengalami defisit sedangkan keyakinan mengalami surplus. Fenomena ini akan menyebabkan ketidakseimbangan kosmos. Suatu entitas yang menjadi nilai universal akan hanya menjadi parsial bukan simultan. Dari situlah letak pertanyaan di mana letak keadilan kita sebagai makhluk Tuhan yang Maha Adil. 

Kita sering melihat persoalan-persoalan yang menyangkut akal itu terlalu rumit. Dan mungkin ada juga yang melihat keyakinan sebagai fantasi yang terlalu direalitakan. Semuanya memberikan porsinya dengan tidak adil. Mungkin kita sudah sering mendengar atau membaca tentang perdebatan ilmu pengetahuan dengan agama; agama dengan filsafat; dan lain sebagainya. Semuanya itu pasti terjadi dengan dialog dua subjek sekaligus objek, akal dan keyakinan.

Baca Juga: Akal dan Iman

Terjadinya tarik-ulur inilah yang menyebabkan terjadinya “anxiety” atau kegelisahan dalam pencarian kebenaran di dunia ini. Orang-orang terkadang takut untuk mempelajari sesuatu dikarenakan takut keyakinannya yang selama ini dianut menjadi berubah. 

Orang-orang juga terkadang takut untuk mempercayai sesuatu yang tidak masuk akal dikarenakan takut akan pengetahuan yang selama ini didapat tidak bisa menjadi sumber primer lagi. Orang-orang selalu membenturkan akal dan keyakinan,  padahal itu bukanlah dua hal yang perlu dibenturkan.

Proses ketidakadilan ini memang dikarenakan karena mandeknya fundamentalisme dalam berakal maupun dalam berkeyakinan. Jadi bisa dibilang setengah-setengah. Karena kecenderungan orang-orang sekarang adalah bagaimana untuk menjadikan hidupnya bahagia, tidak perlu hal-hal yang merepotkan dan juga menyusahkan. 

Kita bisa melihat bagaimana orang-orang lebih tertarik dengan hiburan-hiburan di media sosial yang terkadang hanya sekedar mencari sensasi. Melakukan tindakan-tindakan yang bisa dibilang tidak etis dan juga tidak berpendidikan yang tujuannya hanya sekedar popularitas. Itu saja. Kalau Nietzsche pasti akan beranggapan bahwa itu adalah eksistensi manusia yang pada dasarnya ingin berkuasa. 

Penjelasan tentang eksistensi inilah yang tidak mudah dijelaskan oleh ilmu pengetahuan ataupun agama. Karena pada dasarnya manusia pasti mengharapkan kebahagiaan dalam hidup ini walaupun terkadang dibangun dengan dasar penderitaan orang lain.

Sebagaimana kita tahu bahwa Tuhan itu Maha Adil, dan kalau kita berbuat adil maka kita akan dekat dengan taqwa. Begitulah cara menyingkapi persoalan akal dan juga keyakinan tadi. Kita tidak boleh menganaktirikan salah satunya. Kita seharusnya bisa memberi porsi yang seimbang untuk itu. karena dasar dari penggunaan keduanya adalah kebenaran yang universal bukan parsial; Kebenaran yang sifatnya dinamis bukanlah statis.

Kita akan terus memikirkan dan menimbang dengan segala eksistensi alam semesta ini. Pertanyaan-pertanyaan akan terus bergulir mengenai hal-hal yang metafisika dan juga fisika; antara mistis dan juga realistis. Walapun tidak terlihat secara panca-indra maka akan terbayang secara akal. Meskipun tidak bisa dicerna oleh akal maka akan diproses oleh daya instuisi. 

Jika instuisi masih ragu maka akan ada hati yang membimbingnya. Persoalan-persoalan akal dan keyakinan akan selalu ditelaah oleh para ilmuwan, fuqaha, teolog, maupun filsuf. 

Dengan sifat keadilan yang diturunkan oleh Tuhan yang Maha Adil, orang-orang yang mengalami kekeringan jiwa akibat terlalu menggunakan akalnya sehingga lupa bahwa akalnya ada batasannya akan merasa mulai hijau kembali jiwanya dan orang-orang yang mengalami kejumudan dan juga fanatisme buta akibat menampikkan akalnya dalam beragama akan berubah ke arah yang lebih progresif dan juga toleran. Lalu sampai kapan kita menunggu untuk berbuat adil?