Menari di atas kendi tidaklah mudah, apalagi dengan panggung dari papan kayu yang tidak rata dan sempit. Namun di sinilah putri-putri dusun Nglarangan desa Candi kecamatan Bandungan, yang berada di lereng gunung Sakya ini menerima pembelajaran dari guru terbaiknya  yakni Alam, dengan mendapatkan sebuah pengalaman bagaimana mengatasi kesukaran-kesukaran yang dihadapi tatkala menarikan Tari Bondan.

Cinta Dina Puspita, Dea Bunga Islaminda dan Vara Yuli Angelina adalah putri-putri dusun Nglarangan yang hampir selama dua minggu ini mempersiapkan pementasan tari Jawa klasik yakni Tari Bondan untuk dipersembahkan dalam rangkaian acara Merti Dusun pada hari Sabtu Kliwon, tanggal 1 Desember 2018.

Derasnya hujan yang menyambut bulan Desember tak lantas membuat mereka malas berlatih di sebuah sanggar tari yang berjarak cukup jauh dari tempat tinggalnya. Bahkan pernah sekali waktu mereka sampai harus berjalan kaki mencari jalan alternatif menghindari kemacetan jalan di hari libur, pada saat perjalanan pulang dari latihan menari. 

Menurut salah seorang warga dusun Nglarangan, Merti Dusun kali ini memang tampak lebih meriah dari tahun sebelumnya. Dan semua itu secara tidak langsung menunjukkan limpahan karunia rezeki yang diterima warga dusun Nglarangan untuk tahun ini lebih banyak dari tahun sebelumnya. Sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan karunia yang telah mereka terima, tradisi perayaan Merti Dusun kali ini memang benar-benar memberikan atmosfer tersendiri yang penuh dengan makna yang indah.

Merti dusun adalah tradisi yang indah sebagai salah satu cara untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan karuniaNYA, seperti kelimpahan rezeki, keselamatan, serta ketentraman dan keselarasan hidup. Tradisi Merti Dusun yang masih terjaga di dusun ini, merupakan potret dari kehidupan bermasyarakat yang masih tetap guyub rukun, tetap bergotong royong, penuh dengan nuansa kebersamaan dan keakraban, tepa selira serta harmonis.

Suasana indah yang terpancar dari berlangsungnya tradisi merti dusun, menunjukkan bahwa masyarakat kita memang masih benar-benar menjaga tradisi leluhur. Dalam rangkaian acara merti dusun malam itu, doa bersama yang mengawali indahnya tradisi ini benar-benar terasa sakral (suci).

Mendung memang menyelimuti seluruh lereng Sakya hari itu, namun awan pekat hanya tergantung saja di langit kelabu, tanpa meneteskan satu titik air hujan, yang menyiratkan sebuah tanda, bahwa Alam telah memberikan restunya untuk acara Merti Dusun malam itu, sehingga seluruh rangkaian acara dapat berjalan lancar.

Tembang Jawa yang mengalun merdu membuat suasana sakral (suci) semakin terasa menggetarkan jiwa, sebelum arak-arakan dimulai dengan membawa gunungan yang berisi berbagai hasil bumi, seperti sayuran dan buah-buahan yang nantinya akan di perebutkan masyarakat. Tak hanya gunungan hasil bumi, yang merupakan salah satu simbol dari ucapan rasa syukur warga dusun Nglarangan yang diarak, kelima tokoh Pandawa dalam bentuk wayang kulit pun dibawa oleh ketiga penari dan dua putri dusun lainnya, turut dalam arak-arakan malam itu, dengan diiringi tembang Lir Ilir.

Selain dihadiri seluruh warga dusun setempat dan dusun tetangga, acara Merti Dusun malam itu tampak pula dihadiri oleh undangan khusus yakni Raja dari Keraton Kawitan Amarta Bumi (Kendal), Kanjeng Sinuhun Sri Angling Prabu Punta Jaya Negara Cakra Buana Giri Nata beserta rombongan.

Tari Bondan dalam Merti Dusun

Tari Bondan merupakan salah satu tari Jawa klasik yang menggambarkan tentang kasih sayang seorang ibu dalam mendidik dan merawat anaknya. Tarian ini berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. Tak hanya merepresentasikan wanita Jawa yang santun, lemah lembut namun kuat, cantik dan memiliki jiwa keibuan, Tari Bondan juga merepresentasikan Alam (Ibu Pertiwi) yang telah memelihara dan menyediakan keperluan hidup seluruh makhluk tanpa terkecuali dengan ikhlas tanpa pamrih.

Maka kehadiran Tari Bondan dalam  Merti Dusun di dusun Nglarangan malam itu, tentu memberikan nuansa sakral (suci) yang harmoni dengan seluruh rangkaian acara yang ada. 

Dengan balutan dodot prada (prodo) emas warna hijau, ketiga penari malam itu tampak anggun menapakkan kaki di tanah leluhur, berjalan perlahan dengan membawa wayang Pandawa. Obor-obor yang menyala pun menerangi jalan setapak, yang semakin memperindah suasana Merti Dusun malam itu.

Setelah arak-arakan selesai, gunungan hasil bumi diletakkan di depan panggung pagelaran wayang kulit. Dan sesaat setelah doa pembuka, ketiga penari Tari Bondan pun telah disambut oleh properti menarinya yakni payung, kendi dan boneka anak.

Dengan membawa properti yang memiliki makna yang tidak sembarangan tersebut, ketiga penari Tari Bondan pun mulai mempersiapkan diri menuju panggung. Dalam Tari Bondan menggendong boneka anak memiliki arti yang dalam, yakni merupakan simbol bahwa tugas utama seorang wanita Jawa itu adalah mendidik dan merawat anaknya dengan penuh kasih sayang dan keikhlasan yang tanpa pamrih.

Payung terbuka dalam Tari Bondan adalah simbol perlindungan Ibu terhadap anak dan keluarganya. Sedangkan kendi adalah simbol dari urusan dapur atau rumah tangga yang juga diemban oleh wanita Jawa. Kata kendi sendiri berasal dari kata kendalining budi (pengendalian hati dan pikiran) yang sepatutnya juga dimiliki wanita Jawa dalam menjalankan perannya di kehidupan ini.

Ora Mingkuh dalam Falsafah Joged Mataram

Baca Juga: Tari Kodok

Falsafah Sawiji (Nyawiji), Greget, Sengguh, Ora Mingkuh dipegang sebagai falsafah hidup, pandangan hidup dan falsafah Joged Mataram.

Dalam proses belajar menarikan Tari Bondan, ketiga penari ini pun juga belajar mendalami falsafah tersebut di atas. Sebagai Falsafah Joged Mataram, sawiji memiliki arti fokus dan konsentrasi total, penuh kesadaran menyatukan pikiran, hati, jiwa dan raga ke dalam tarian yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Greget bermakna dinamis atau semangat yang membara namun tetap terkendali di dalam jiwa setiap penari yang sesuai dengan sawiji. Sedangkan sengguh adalah sikap percaya diri namun tetap rendah hati. Ora mingkuh sendiri adalah sikap teguh hati, tidak mudah berkecil hati dan berani menghadapi kesukaran-kesukaran dengan penuh tanggung jawab.

Pementasan malam itu tidaklah mudah bagi ketiga penari. Panggung dari papan kayu yang tidak rata dan sempit untuk menari dengan membawa beberapa  properti, tentu membutuhkan kesiapan mental yang kuat untuk berpikir cerdas, kreatif dan cepat dalam mengatasinya. Maka pendalaman Falsafah Joged Mataram memang benar-benar dibutuhkan pada saat itu.

Menaiki dan menuruni tangga yang tinggi menuju ke panggung juga bukan hal mudah dengan balutan pakaian tradisional Jawa pada pementasan tari malam itu. Namun dengan perkenan Tuhan, mereka akhirnya berhasil menarikan Tari Bondan malam itu dengan lancar, termasuk tatkala menari di atas kendi dan memutar kendi bersamaan dengan memutar payung.

Aura indah terpancar dari wajah ketiga penari. Sebagian hadirin yang memahami filosofi beksan pun ikut melakukan gerakan manembah pada saat penari melakukan gerakan sembahan. Beksan sendiri berasal dari kata ambeg (napas) dan esa (tunggal) yang  memiliki arti bahwa seluruh gerak wiraga (raga) dalam tarian hendaknya ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Maka, dalam tari Jawa klasik, memang selalu ada gerakan sembahan yang mengandung arti bahwa tarian tersebut memang dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pementasan tari Jawa klasik dengan konsep menari untuk Tuhan, terkadang memang membuat Alam menunjukkan hal-hal indah yang tak terduga, dan tentunya memiliki makna yang dalam. Seperti malam itu, karena berbagai faktor tak terduga, area panggung untuk menari menjadi tak seleluasa pada saat gladi bersih. Dan ora mingkuh yang merupakan salah satu dari Falsafah Joged Mataram tersebut, tentu sangat membantu menyiapkan mental ketiga penari dalam menghadapi kesukaran-kesukaran yang dihadapi.

Bagi ketiga penari, ini adalah kali kedua mereka menarikan Tari Bondan dalam rangkaian acara Merti Dusun, di dusun tempat tinggalnya. Dan setelah tarian yang indah malam itu berakhir, maka tibalah pada prosesi pecah kendi yang pada momen itu dilakukan oleh ketiga penari didampingi para tokoh masyarakat setempat dengan khidmat. Disinilah tepatnya keharuan itu memuncak dan keindahan Tari Bondan dengan makna terkandung di dalamnya hadir menyentuh setiap hati.

Mendung masih menyelimuti lereng Sakya. Dinginnya kabut, tak lantas sanggup menembus hangatnya suasana kebersamaan seluruh warga dusun Nglarangan yang penuh dengan rasa syukur malam itu. Tradisi perayaan Merti Dusun di lereng gunung Sakya ini memang masih terjaga baik. 

Dusun-dusun di sekitar lereng Sakya pun sampai sekarang masih terus menunjukkan eksistensi seni budayanya. Dan Tari Bondan hadir menjadi simbolisasi pemaknaan Merti Dusun, menyempurnakan indahnya tradisi leluhur menjaga budaya tetap lestari.