Dengan masih menggengam
sebuah buku di tangannya.
Anak itu bertanya
“Mengapa Pancasila lahir tanggal 1 Juni?

Sejenak kusenyumi dia
Karena kutahu
Rasa ingin tahu lah membuantnya belajar
Hingga kuberi dia kata kunci
M. Yamin, Supomo dan Sukarno

Belum puas dengan itu
Kembali si anak berkata
Bagaimana aku menjadi orang berpancasila?

Cukupkah dengan tren kekinian
Dengan menuliskan di medsos
Saya Indonesia, saya Pancasila?

Kemarin seseorang dengan
tegasnya  mengatakan berpancasila
namun dengan arogannya pula
Dia menakut-nakuti ibuku berjulan di pasar
Meminta keamanan, padahal kutahu kita sudah merdeka

Di televisi, kuperhatikan
Mereka mereka yang katanya
Wakil wakil penyuara nilai-nilai Pancasila

Namun tingkahnya malah menjauh dari nilai nilai itu
Saban hari berlomba berebut sesuatu,
yang tak seharusnya mereka perebutkan

Dengan menghelas napas
kupandangi anak itu
Menelisik apakah ini rasa ingin tahu
Atau luapan emosi semata

Beberapa saat aku  memutar otak
Memikirkan dan menimbang
Kalimat yang tepat baginya

Kutarik sejenak napasku
Semberi berkata padanya
Nak, Pancasila itu..
Tercermin di pikiranmu, di hatimu dan di tanganmu ini

Kukatakan di pikiranmu
Supaya kamu belajar dan arif menyikapi sejarah
Kukatakan di hatimu
Supaya kamu menelaah dan meresapinya dalam batinmu

Kukatakan di tanganmu
Agar kamu bertindak lebih baik
Dari mereka mereka yang kamu sebut tadi

Ketahuilah Saktinya Pancasila itu
Kelak ada di tangan anak-anak seperti kalian
Belajarlah dengan baik dan benar

Kelak kamu akan mengerti dan memahaminya
Hingga nanti kamu punya pelita
Agar tidak jatuh di lubang yang kamu lihat itu.

Medan, 1  Juni 2017