Menurut Menperin Airlangga Hartarto, tahapan sejarah revolusi industri yang pertama ditandai dengan penggunaan mesin uap sebagai pengganti tenaga kerja manusia dan juga hewan. Tahapan yang kedua adalah dimulainya penerapan konsep produksi massal dan mulai meningkatnya pemanfaatan tenaga listrik. Tahapan ketiga adalah penggunaan otomasi dalam kegiatan industri. 

Tahapan keempat menggunakan teknologi informasi dan komunikasi yang dimanfaatkan sepenuhnya. Pemanfaatan ini tidak hanya dalam proses produksi tapi juga seluruh mata rantai nilai-nilai industri sehingga bisnis berbasis digital mencapai tingkat keefisienan yang tinggi dan kualitas produk yang lebih baik karena minimalnya human error.

Airlangga Hartarto juga mengatakan bahwa sejak tahun 2011, Indonesia telah memasuki area industri ini. Tanda-tandanya adalah semakin meningkatnya koneksivitas, interaksi, dan juga batas antara manusia dan mesin. Sumber daya alam maupun manusia juga semakin terintregitas dengan teknologi informasi dan komunikasi. Berkembangnya instrument konektivitas, otomasi perangkat jaringan, i-cloud, dan keamanan cyber menjadi lanjutan dari revolusi 3.0.

Prof. Klaus Schwab dari jerman mempopulerkannya dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution. Artificial intelegence, internet of things (IoT), big data analysis, teknologi robotic, 3D printing dan lain-lain. Perubahan yang cepat mendobrak tatanan hidup lama menjadi tatanan hidup yang benar-benar baru.

Pemerintah sendiri telah membuat road map making Indonesia 4.0 dengan deklarasinya pada Indonesia summit 2018. Airlangga Hartarto menargetkan Indonesia akan menjadi 10 besar ekonomi dunia pada tahun 2030 yang bertepatan dengan tahun-tahun bonus demografi bangsa ini. Target pemerintah untuk pengalokasian anggaran research and development (R&D) meningkat menjadi 2%. 

Karena menurut data dari Kemenperin, Indonesia masih berada di bawah negara Thailand dan Malaysia untuk masalah pengeluaran R&D ini,sebesar 0,3% sedangkan Thailand 0,6% dan Malaysia 1,1%. Tingkat tertinggi di Asean dipegang oleh Singapore yang sudah 2,6%.

Anggaran penelitian dan pengembangan inilah yang nantinya akan berperan penting dalam peningkatan sumber daya baik alam dan juga manusia dalam menghadapi era industri 4.0 yang sedang berlangsung sekarang ini. Program link and match antara pendidikan dan juga perindustrian menjadi konsep baru dalam pembuatan kurikulum. Dalam hal ini, harapan terletak pada perguruan tinggi yang nantinya akan melahirkan tenaga kerja kompeten.

Keahlian kerja, kemampuan beradaptasi dan pola pikir dinamis menjadi tantangan SDM dalam menghadapi era industri yang baru ini. Penyesuaian sarana dan prasarana dalam era ini terus diupayakan dalam membentuk sumber daya yang inovatif dan juga adaptif terhadap teknologi informasi, internet, analisis data dan komputerisasi. Perguruan tinggi perlu menyediakan infrastruktur yang berkenaan dengan bidang-bidang tadi.

Dan untuk Perguruan Tinggi Islam Negeri, diskursus tentang tema industri ini tidak bisa dikesampingkan. Islam sebagai agama yang universal juga cocok untuk ditempatkan di berbagai bidang dan juga zaman. Kita harus mulai untuk membiasakan mengubah studi Islam kita dari arah kultur keagamaan ke kultur akademik. Apalagi Islam di Indonesia ini terkenal dengan keterbukaan pikirannya terhadap ideologi Islam yang selaras dengan budaya keilmuannya.

Kita bisa melihat banyak perguruan tinggi Islam negeri yang orientasi pendidikannya tidak hanya mencakup dalam bidang keagamaan saja atau bidang humaniora saja tapi juga sudah adanya bidang scientific. Dengan munculnya fakultas dalam bidang sains dan teknologi, teknik, ekonomi bisnis dan juga kedokteran, akan menjadikan konsep Islam yang berimbang antara dunia dan juga akhirat. Sains akan disinkronkan dengan ilmu keagamaan dan juga humaniora.

Sama halnya dengan apa yang dikatakan Abdul Rozak, kepala unit pengembangan bisnis dan juga dosen FITK Uin Syarif Hidayatullah, Jakarta. Manusia sekarang ini akan susah untuk survive jika hanya mengandalkan literasi lama, yaitu baca, tulis dan hitung. Perlunya literasi baru untuk menggantikan literasi lama. 

Literasi baru terdiri dari literasi data yang cakupannya dalam hal kemampuan membaca, menganalisa, dan membuat konklusi berpikir. Sedangkan yang kedua adalah literasi tekonologi, yaitu kemampuan untuk memahami cara kerja mesin dan juga yang ketiga adalah literasi manusia yang terkait dengan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, kreatif dan juga inovatif.

Kita tidak bisa mungkiri bahwa dampak dari revolusi indutri ini jika tidak ditanggapi dengan serius oleh Perguruan Tinggi Islam Negeri, maka akan menjadi hal yang disesalkan dikemudian. Persaingan untuk menjadi siapa yang paling kompeten dalam bidangnya akan mendapatkan kompetitor tidak hanya oleh sesama manusia tetapi juga oleh robot atau mesin.

Menurut studi yang dilakukan oleh Mckinsey (2016) bahwa dalam lima tahun ke depan sebanyak 52,6 juta lapangan pekerjaan akan tergantikan oleh otomatisasi yang menjadi global trend. System otomatisasi dan juga mesin teknologi digital akan memakan lapangan pekerjaan yang ada. Bahkan bonus demografi yang seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai bonus yang menyenangkan, bisa menjadikannya bonus yang tidak menyenangkan.

Kita bisa bayangkan bagaimana kalau seandainya kita besaing dengan sebuah robot yang cerdas, kuat, efisien, dan juga mudah diatur. Kita ubah mindset Islam yang tidak semua tentang ideologi agama tapi juga tentang zaman yang dinamis. Perubahan mau tidak mau harus dilakukan. Progres bertahap yang nyata akan membuat Islam survive. Tri dharma perguruan tinggi akan tetap terjaga dengan tidak melepaskan alasan yang paling fundamentalnya.

Kesiapan kampus yang berbasiskan agama seharusnya memandang momentum ini untuk menunjukkan bahwa perguruan tinggi yang berbasis agama tidak tertinggal oleh zaman. Kalau perguruan tinggi islam ini sudah bersinkron dengan aspek-aspek teknologi yang sesuai untuk menghadapi tantangan revolusi industri 4.0 ini, maka akan terciptanya nilai-nilai islam yang modern dan universal.

Penguasaan literasi baru yang kita bahas sedikit tadi memang perlu menjadi pertimbangan dalam penyusunan kurikulum kampus. Jangan sampai kita mengulang apa yang terjadi dalam masa revolusi terdahulu yang mengubah struktur dalam kelas masyarakat. Kajian revolusi indutri ini tidak hanya untuk kajian ilmu ekonomi ataupun bisnis tapi juga bidang-bidang lainnya seperti sosial, politik, budaya dan agama.

Kita bisa melihat bagaimana revolusi industri yang pertama menghasilkan aliran-aliran marxisme, feminisme, dan lain-lain. Revolusi industri yang kedua melahirkan budaya populer. Yang ketiga menghasilkan globalisasi, bias ideologi dan informasi. Sedangkan yang keempat kita masih meraba apa yang akan terjadi nantinya dari revolusi industri ini. Hubungan yang semakin nyata lewat dunia maya benar-benar bisa menjadi era disrupsi.