Perkembangan dan kemajuan zaman menuntut adanya sebuah gebrakan baru di segala aspek. Salah satu faktornya, yakni adanya problema baru yang sangat kompleks dan heterogen, yang mau tidak mau, harus dihadapi oleh masyarakat saat ini.

Mulai dari ranah sosial, ekonomi, politik, bahkan sampai ke ranah yang paling sensitif, yakni keagamaan. Pada realitasnya, semua itu bisa kita minimalisasi dengan menumbuhkan kesadaran individu akan pentingnya membangun sebuah kehidupan secara kooperatif.

Adapun masalah perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan bukan sebuah permasalahan. Namun terkadang masalah perbedaan, baik perbedaan pendapat, argumen, bahkan hak pilih dalam Pilpres dan lain sebagainya, djadikan sebagai cikal bakal permasalahan yang tak menemui solusinya.

Hal itu bisa kita saksikan secara saksama dalam masalah penafsiran, yang dewasa ini banyak diperdebatkan dalam permasalahan keagamaan. 

Di satu sisi, karena ulah oknum-oknum tertentu yang berbicara dengan seenaknya tanpa dasar/dalil, menyajikan para penikmat informasi dengan postingan-postingan yang nihil kebenarannya, hingga menimbulkan multi-interpretasi terhadap satu akar permasalahan yang tiada ujung dan solusinya.

Atau masalah yang timbul disebabkan karena sebagian tokoh agama yang merupakan publik figur di berbagai media, baik sosial bahkan media cetak, menyajikan ceramah maupun tulisan dengan menggunakan hasil penafsiran yang buntu, kaku, dan tekstual. Sehingga masyarakat berpijak dan berpihak paa fondasi yang keliru.

Hal demikian bisa jadi karena terlalu berpegang teguhnya oknum-oknum (ulama medsos) tersebut terhadap satu penafsiran mufassir tradisional sehingga menafikan sumber-sumber yang lain yang lebih mengedepankan konteks.

Semisal pada kasus yang baru-baru ini viral mengenai QS al-Maidah: 51. Sebagian ada yang menganggap bahwa kata awliya sebagai pemimpin dan implikasinya bahwa orang non-muslim tidak boleh dijadikan pemimpin.

Padahal di dalam sumber-sumber penafsiran lain, sebagian mufassir ada yang mengatakan bahwa kata awliya bukanlah diartikan sebagai pemimpin. Ada yang mengartikan teman akrab, penolong, dan lain sebagainya.

Dalam kasus lain, misalnya mengenai ayat-ayat etika dan hukum, atau meminjam istilah Abdullah Saeed sebagai ayat Eticho-legal, seperti halnya penerapan qishos, yang sifatnya lokal dan temporal, maka secara konteks tidak dapat diberlakukan secara universal. Hal ini karena memperhatikan tujuh hierarki nilai yang salah satunya adalah implementational values (nilai-nilai penerapan hukum). 

Tetapi ada sebagian tokoh agama, khususnya di negara kita, yang ingin menerapkan hukum qishos di abad ini karena melihat penafsiran dari satu sudut pandang saja, sehingga terkesan tekstualis, kaku, dan tertutup (ekslusif). Inilah yang menjadi kesan bahwa agama kita melahirkan ajaran kekerasan, dan dianggap sebagai agama yang tidak berprikemanusiaan.

Berbicara mengenai permasalahan dalam ranah keagamaan, khususnya diskursus penafsiran, merupakan tantangan para pengkaji Alquran dan tafsir abad sekarang.

Yang seharusnya mendobrak pemikiran-pemikiran yang keliru, dengan mengisi dan berani muncul ke ranah publik, bisa dengan menyampaikan asupan-asupan informasi yang berkualitas, memberikan pengetahuan keagamaan yang moderat, dan lain sebagainya. Namun hal itu tidaklah mudah; tentu dengan sebuah proses yang bertahap.

Gambaran pertautan antara penafsiran yang berbasis pada tradisi dengan modernitas juga dapat diilustrasikan dalam dua film yang bergenre aksi-komedi, yakni Tai Chi Zero dan Tai Chi Hero. Dua film tersebut sangat menginspirasi terhadap kondisi permasalahan penafsiran dalam agama kita.

Karena dalam film tersebut menampilkan adanya persinggungan yang kontradiktif antara keluarga Chen yang kental dengan tradisi leluhurnya, salah satunya “Kungfu Chen”, dengan sebagian oknum yang menawarkan ide-ide baru yang kebarat-baratan (modern).

Persinggungan itu sangat jelas ketika anak dari Master Chen (Chan Zhaiyang) mengelabui keluarga dan masyarakat desa Chen dengan kelihaian kungfu yang ternyata digerakkan dan dimotori oleh sebuah mesin. Ia membenci kungfu karena menurutnya itu tradisi yang kolot dan terbelakang.

“Di saat orang Barat telah menciptakan alat-alat modern, kita masih saja mempelajari kungfu,” ujarnya.

Saat itulah Master Chen sangat membenci hal-hal yang berbau modern. Inilah bentuk etika keluarga Chen yang menghargai warisan para leluhurnya.

Singkat cerita, dari yang mulanya membenci ide-ide modern yang ditawarkan, keluarga Chen, pada akhir ceritanya/ending-nya, yang semula menolak hal yang berbau modern, kemudian menghargai bakat dari Chang Zhaiyang.

Mereka menganggap idenya adalah sesuatu yang luar biasa karena ia berhasil membuat pesawat buatan yang digunakannya untuk membantu ayahnya, Master Chen (Chen Changxing), adiknya (Chen Yuinang), dan Yang Lu Chan, ketika menghadapi pasukan pengkhianat yang diketuai oleh Fang Jizing yang memiliki misi untuk menghancurkan Desa Chen karena ingin balas dendam.

Banyak refleksi yang bisa kita ambil pada film tersebut, khusunya pada diskursus penafsiran. Bahwa yang namanya penafsiran itu sifatnya variatif, selalu berbeda-beda, dan dinamis. Pada prinsipnya, karena tafsir adalah produk manusia.

Bisa kita lihat dari tafsir yang berkembang mulai dari masa awal, pertengahan, modern, hingga kontemporer. Antara satu karakteristik penafsiran masing-masing periode pasti akan berbeda-beda, karena sekali lagi adanya tuntutan situasi, kondisi yang dinamis.

Misal tafsir tradisional yang sifatnya kaku. Pada mulanya memang tidak menerima produk penafsiran modern yang katanya mengedepankan aspek “perubahan”. Sekali lagi penulis katakan, itu bukanlah sebuah masalah.

Kita bisa ambil jalan keluar sebagaimana akhir dari cerita film Tai Chi Zero dan Hero tersebut yang memadukan antara ide-ide modern dengan tetap mematuhi dan menghargai warisan leluhur sebagaimana dalam maqal mengatakan: Al-Muhafazah ‘ala Qodim as-Salih wa al-Akhzu bi al-Jadid al-Aslah. 

Alangkah baiknya jika mengkaji tafsir, baik modern maupun kontemporer, dengan segala sesuatu yang baru, baik dari epistemologinya, metode, dan sebagainya. 

Hendaknya kita tetap memegang prinsip-prinsip yang ditawarkan pada tafsir-tafsir terdahulu (klasik) dengan mengkompromikan antar-keduanya agar menjadi sebuah kajian yang baru dan menarik bagi diskursus penafsiran. Sehingga pemahaman kita mengenai penafsiran tidak terkesan kaku dan terkotak-kotak. 

Implikasinya terhadap masyarat yang sebelumnya kalang-kabut maupun dilema dengan banyaknya para pemuka agama yang abal-abal di medsos maupun dunia nyata, dapat mengkonsumsi ajaran-ajaran agama yang rahmatan lil ‘alamin, berkualitas, dan terpercaya.