SANGAT MUNGKIN kehidupan serba digital seperti yang digambarkan dalam film-film imaji buatan Hollywood itu nyata terjadi di kemudian hari. Semua peralatan bertenagakan mesin. Nyaris tidak ada yang manual. Semua otomatis. Simpel dan praktis.

‘Kemungkinan’ ini berpeluang benar terwujud manakala menilik kecanggihan teknologi yang berkembang pesat di era globalisasi saat ini. Banyak produk analog nan konvensional tenggelam tertelan arus ‘zaman now’ yang nirbatas. Pelan tapi pasti, perannya tergantikan oleh inovasi-inovasi anyar berteknologi super.

Kertas termasuk salah satu ‘korban’ dari peradaban modern ini. Untuk urusan baca-tulis, pertukaran informasi, juga korespondensi, sebagian besar orang kini lebih cenderung memilih jasa digital, seperti penggunaan surel, komputerisasi, dan sambungan internet. Fenomena ini yang dimaksudkan oleh Frederick W. Lancester sebagai  paperless society.

Lantas, apakah ini menjadi titik awal ‘kepunahan’ kertas? Jawaban setiap orang tentu tidak akan sama karena faktanya, untuk sekarang peran kertas belum tereduksi sepenuhnya. Kebergantungan orang terhadap penggunaan kertas masih tinggi, entah itu sebagai pembungkus, alat pembersih, atau bahan dekorasi, dan yang lainnya.

Namun, bagaimana untuk masa puluhan tahun ke depan ketika peradaban semakin modern? Akankah suatu saat nanti kertas ‘sama sekali’ tidak lagi dibutuhkan?

Asal Mula Kemunculan Kertas

Salah satu momen krusial dari peradaban manusia adalah ketika manusia mulai mengenal tulisan, guna mempermudah dalam ihwal berbagi informasi dan gagasan.

Purwakala tulisan tidak berbentuk huruf, melainkan berupa gambar yang merepresentasikan suatu objek atau pekerjaan tertentu yang dapat dimengerti oleh penduduk setempat. Sistem tulisan ini disebut piktograf (pictograph).

Kuneiform (cuneiform) kreasi bangsa Sumeria dan hieroglif (hieroglyph) invensi bangsa Mesir Kuno merupakan dua jenis tulisan yang berawal dari sistem piktograf. Kedua jenis tulisan kuno ini telah digunakan pada sekitar tiga ribu tahun sebelum Masehi.

Pada perkembangan selanjutnya, bangsa Yunani Kuno memperkenalkan sistem huruf untuk pertama kalinya dan berhasil menggusur penggunaan piktograf. Tetapi kemudian, hasil reka cipta bangsa Yunani Kuno itu dikembangkan dan disempurnakan kembali oleh bangsa Romawi Kuno sehingga menghasilkan cikal bakal huruf alfabet yang berlaku saat ini.

Selain itu, bangsa-bangsa lain di belahan dunia lainnya juga mengembangkan karakteristik tulisan mereka masing-masing. Semisal di antaranya bangsa Maya di Meksiko dan bangsa Tionghoa di daratan China.

Jika diselisik, ternyata proses berkembangnya aksara secara berangsur-angsur menjadi bentuk yang lebih sederhana dan abstrak ini berjalan koheren dengan transformasi media tulis menuju format yang lebih praktis dan elegan.

Sebagaimana diulas oleh Nicholas Carr dalam bukunya, The Shallows, bahwa awalnya manusia menulis pada apapun yang bisa ditulis, semisal di batang pohon, dinding gua, kain, tulang, batu, dan lain sebagainya. Tak dinyana, itulah media tulis perdana dalam sejarah peradaban manusia.

Baru pada sekitar tahun 3000 SM, bangsa Sumeria—yang merupakan nenek moyang bangsa Babilonia dan mendiami lembah Mesopotamia di Timur Tengah—mencatatkan diri sebagai manusia pertama yang menggunakan media khusus untuk menulis. Yakni, loh dari lempung (tanah liat) yang dibakar di tempat pembakaran atau dijemur di bawah terik matahari.

Mereka memahat huruf paku (kuneiform) pada lempengan tanah liat yang waktu itu banyak ditemukan di Mesopotamia. Selama berabad-abad lamanya lempengan tanah liat menjadi media tulis populer bagi masyarakat Sumeria.

Akan tetapi, media tulis ciptaan orang Sumeria tersebut cenderung hanya digunakan secara eksklusif untuk dokumentasi formal dan ditulis oleh juru tulis resmi. Hal ini dikarenakan kesulitan dalam hal memproduksi, membawa, dan menyimpannya.

Di kisaran tahun 2500 SM, bangsa Mesir—di masa wangsa Pharaon (Fir’aun) berkuasa—membuat gulungan dari papirus (cyperus papyrus) yang banyak tumbuh di sepanjang delta Sungai Nil.

Biasanya, gulungan tersebut terdiri atas dua puluh lembaran berwarna putih yang direkatkan membujur. Bentuknya tidak jauh berbeda dengan kertas yang ada saat ini. Dibandingkan loh tanah liat, gulungan jauh lebih unggul sebab bobotnya yang lebih ringan, fleksibel, serta mudah dibawa dan disimpan.

Gegara keunggulannya itu, bangsa Yunani dan Romawi mengadopsi gulungan menjadi media tulis utama mereka. Tetapi mereka mengganti papirus dengan perkamen dari kulit kambing atau domba.

Di sisi lain, harga gulungan itu masih terbilang mahal. Sebab, pemroduksiannya dilakukan dengan mengimpor papirus dari Mesir. Sementara pembuatan gulungan dari perkamen membutuhkan keterampilan khusus, di samping pengerjaannya yang memakan waktu lama.

Seiring semakin populernya tulisan, kebutuhan akan media tulis yang lebih murah menjadi sebuah keniscayaan. Kondisi ini menuntut kehadiran media tulis inovasi baru dan kali ini tablet lilin hadir sebagai jawabannya.

Tablet lilin terbuat dari kerangka kayu sederhana yang dilapisi lilin. Berbeda dengan media-media tulis pendahulunya, tablet lilin membuat aktivitas tulis-menulis jadi sedikit lebih luwes. Tulisan pada media tulis satu ini bisa dihapus dengan mudah sehingga bisa dipakai menulis berkali-kali. Praktis, tablet lilin jauh lebih murah ketimbang gulungan.

Media tulis prakemunculan kertas lainnya adalah kain sutra yang digulung serta gulungan dari kulit rotan atau potongan bambu. Kepopuleran media tulis semacam ini berbarengan dengan penerapan tinta pertama kali. Selain itu, ada pula sabak atau batu tulis yang berpenakan gerip—sejenis kapur yang juga familiar disebut ‘anak batu tulis’—dengan kain halus sebagai penghapusnya.

Beberapa tahun kemudian setelah itu, barulah prototipe kertas muncul. Adalah bangsa Tionghoa Kuno yang mula-mula memperkenalkannya dengan nama bo yang terbuat dari sutra. Kendati lebih praktis dan elegan daripada media-media tulis sebelumnya, produksi bo tergolong sangat mahal dikarenakan faktor kelangkaan bahan baku, yakni sutra.

Pada awal Abad Kedua Masehi, seorang pejabat pengadilan di kerajaan China pada masa Kaisar Ho Ti bernama Tsai Lun menemukan kertas jenis baru. Dengan berbahan bambu yang mudah diperoleh di seantero China, kertas jenis ini relatif lebih murah, berbobot ringan, berukuran tipis, dan awet.

Awalnya teknik pembuatan kertas merupakan sesuatu yang ‘sangat rahasia’. Tetapi seiring berjalannya waktu, ia tersebar sampai ke wilayah Korea dan Jepang pada Abad Ketiga; mencapai semenanjung Arab di masa dinasti Abbasiyah (tahun 751 M); memasuki daratan Eropa di Abad Kedua Belas, terutama pasca-Perang Salib; dan baru menjangkau benua Amerika di Abad 16 M. Akhirnya, kertas pun tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Di masa-masa selanjutnya, kertas mengalami inovasi bahan baku dan alat produksinya. Mulai dari pemakaian mesin fourdrinier dan mesin silinder, sampai dengan transformasi bahan baku yang beralih kepada pulp (bubur kertas dari kayu) melalui proses kraft temuan Carl Dahl pada penghujung Abad 19 M.

Seterusnya kertas berjaya. Peran kertas tidak hanya sebatas jadi media tulis atau arsip semata. Lebih dari itu, peran kertas semakin luas menyentuh berbagai lini kehidupan manusia. Antara lain, kertas sebagai pengganti nilai (mata uang, kwitansi, dan voucher), penyampai berita (koran, majalah, dan warkat pos), pembungkus (amplop dan kardus), alat pembersih seperti tisu, dan kegunaannya yang lain-lain.

Awal tahun 1960-an, tatkala komputer mulai memasyarakat, menjadi awal petaka bagi keberlangsungan kertas dalam sejarah peradaban manusia. Ditambah dengan koneksi internet yang makin mengglobal belakangan ini menyebabkan tren penggunaan kertas oleh masyarakat menjadi cenderung berkurang.

Akhir-akhir ini, upaya mereduksi peran kertas tampak nyata terlihat. Pasalnya, kampanye paperless (gerakan untuk meminimalisir penggunaan kertas) kian gencar digaungkan.

Merunut Peran Kertas

Kembali kepada pertanyaan, bagaimana untuk masa puluhan tahun ke depan ketika peradaban semakin modern? Akankah suatu saat nanti kertas ‘sama sekali’ tidak lagi dibutuhkan?

Seorang mantan konsultan yang sekarang menjabat sebagai CEO Canvas Worlwide, Paul Woolmington, menyatakan bahwa dimensi kecerdasan emosional manusia (Emotional Quotient) butuh keterpuasan. Sementara pengalaman digital tidak akan mampu memberikan kepuasan emosional. Karena itu, manusia akan terdorong mencari pemenuhannya melalui pengalaman fisikal. Ini dilakukan manusia demi upaya menyeimbangkan kondisi IQ dan EQ yang dimilikinya.

Pandangan Paul Woolmington di atas hampir selaras dengan penjelasan Dr Quraish Shihab tentang sebagian sifat dasar (fitrah) manusia yang terkandung di balik penamaan manusia di dalam Alquran. Dimana dalam Kitab Suci umat Islam itu, Allah SWT menamakan manusia dengan tiga sebutan, yakni al-insan, al-basyar, dan an-nas.

Menurut beliau, secara harfiah ketiga sebutan itu berasal dari akar kata yang berbeda sehingga kandungan artinya tidak sama. Al-insan diambil dari akar kata yang berarti bergerak, lupa, dan ‘merasa bahagia atau senang’. Al-basyar ditekankan pada sesuatu yang bersifat jasmani dan naluri. Sedangkan an-nas berasal dari kata nausu (gerak) dan unas (tampak).

Karena itu, berdasar fitrahnya sebagai al-insan, setiap manusia butuh untuk ‘merasa bahagia atau senang’ (kesenangan=kepuasan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia), termasuk dalam konteks ini yakni keterpuasan secara emosional.

Dipahami pula bahwa manakala kehidupan serba digital meningkat, maka kebutuhan emosional untuk memiliki sesuatu yang bisa diindera secara langsung (bersifat fisikal) juga akan ikut meningkat. Fenomena ini lantas dikenal dengan istilah Digital Counter Trends yang berkembang sejak awal tahun 2013 silam.

Alhasil, perkembangan dunia digital saat ini tidak akan pernah bisa lepas dari eksistensi fisikal berupa produk-produk analog dan konvensional semisal kertas. Dengan demikian, kendati upaya reduksi peran kertas seperti kampanye paperless dan semacamnya banyak bermunculan, yakinlah bahwa peran kertas tidak akan mudah untuk tergantikan.