Akhirnya pertandingan El Clasico tanpa dua alien mematikan, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Pertandingan besok malam akan menjadi ajang Barca tanpa Messi-nya dan Real Madrid tanpa CR7-nya. Kedua tim sama-sama mengusung misi untuk menang, terlebih untuk Real Madrid yang dipastikan harus bekerja lebih ekstra. Sebab, mereka di beberapa laga terakhirnya selalu tampil kurang memuaskan, baik dari segi permainan maupun dari penyelesaian akhir. 

Saya akan memulainya dari segi permainan Real Madrid. Mereka tampil kurang memuaskan sebab dari lima pertandingan yang diikuti tak satu pun yang menghasilkan kemenangan, hanya pada laga terakhir melawan Viktor Plezen (2-1) dalam lanjutan UEFA CHAMPIONS LEAGUE

Kemenangan Real Madrid terakhir didapatkan pada matchday ke 5 La Liga saat menjamu Espanyol di Barnebeu itu pun dengan skor tipis 1-0. Selepas dari itu, mereka tampak mulai kesulitan mengembangkan permainan dengan baik. Kalah lawan Sevilla 0-3 Real Madrid; Real Madrid 0 vs 0 Atletico Madrid; Deportivo 1-0 Real Madrid; dan kalah di kandang sendiri melawan Levante 1-2.

Ini sungguh sangat miris mengingat mereka merupakan jawara yang begitu perkasa pada musim kemarin, dan kita pun mulai bertanya ada apa dengan Real Madrid yang sekarang ini? Mereka seolah telah kehilangan taji di depan gawang lawan untuk mentuntaskan peluang-peluang. Ke mana sesungguhnya jiwa Real Madrid? 

Ada yang berwacana bahwa ini merupakan masa transisi dari yang ada kepada yang tiada. Siapa itu? Megabintangnya, Ronaldo yang memutuskan hengkang ke Juventus. Ada juga yang beranggapan bahwa tidak selamanya sang pemenang akan menang terus. 

Tetapi persoalan utamanya adalah ke mana jiwa Real Madrid, jiwanya yang riil? Bukankah ini tidak menyangkut masa transisi atau mekanisme pemenang tidak selamanya menang, tetapi ini menyangkut jiwa di dalamnya. Saya berpikir bahwa permainan Real Madrid sesungguhnya tidak lagi di bawah filosofi dasar mereka bermain sepak bola.

Mereka tampak hanya berjuang untuk mencari kemenangan yang sebenarnya tidak dapat diraih jika kemenangan tersebut telah kehilangan arah dan dasarnya. Arah dapat diperoleh lewat bagaimana manajemen klub menaruh perhatian penuh pada permainan, bukan hanya pada soal bisnis melulu. 

Real Madrid harus mengusung misinya kembali bahwa permainan untuk menang adalah ketika para pemainnya sungguh-sungguh menikmati permainan. Bermain tanpa beban atau ambisi-ambisi yang jelas semakin membutakan mata bahwa kita ada dalam tim. Memang ambisi itu perlu, tetapi haruslah dibarengi dengan kesadaran utama bahwa permainan ini adalah permainan tim.

Kemudian, bagaimana dengan Barcelona? Kehilangan Messi di saat laga-laga krusial memang terasa sangat merugikan, baik dari segi kualitas dan mental. Segi kualitas adalah permainan yang kurang bergairah. Ini bukan berarti saya katakan bahwa kualitas pemain Barcelona tidak bagus, tidak. Melainkan dari segi kualitas itu tampak dalam daya gedor permainan Barcelona. 

Daya gedor yang mereka pertotonkan tampak kurang bergairah untuk menusuk ke dalam pertahanan lawan. Itu terlihat saat menghadapi Inter Milan, di mana mereka begitu kesulitan membongkar pertahanan Inter Milan. Mereka “masih takut” untuk masuk membongkar, tetapi hasil akhir selalu menjadi acuan. 

Menurut hemat saya, Barcelona pada saat melawan Inter terasa kurang gret. Mereka memang begitu baik dalam pengusaan bola – ini kan ciri khas mereka? -  tetapi spirit untuk menusuk ke dalam pertahanan Inter masih minim.

Sikap ketergantungan pada Messi memang masih terlihat dalam diri para pemain Barcelona. Akan tetapi, laga melawan Inter juga telah dibuktikan para penggawa Barcelona without Messi we party. Messi adalah senjata utama Barcelona di setiap pertandingan. Messi-lah yang membuat Barcelona meraih kemenangan demi kemenangan yang menghantar mereka semakin jauh meninggalkan pesaing utamanya, Real Madrid. 

Hasil yang diraih Barcelona juga sejauh ini lumayan bagus dengan 5 kemenangan, 3 imbang, 1 kalah. Hasil ini masih kalah jauh dari musim kemarin yang di mana mereka mencatatkan hampir tidak terkalahkan. Rapuhnya pertahanan tim ini akan menjadi sorotan utama saat menghadapi Real Madrid. Kita cukup mengamati pada laga melawan Sevilla pekan kemarin, bagaimana rapuhnya pertahanan Barcelona.

Dengan demikian, baik Valverde maupun Lupetegui kayaknya harus membiarkan anak-anak asuhnya bermain agak sedikit lepas. Bermain lepas dalam artian tidak perlu dibebani tekanan-tekanan emosional, karena hanya untuk meraih kemenangan. Karena sejatinya, kemenangan itu sudah ada dalam kedua tim. 

Hasil akhir selalu menjadi yang utama, tetapi kiranya permainan yang indah atraktif serta fair play perlu dijunjung tinggi. Kita tidak hindari panasnya aura di Camp Nou besok bakal mempertontonkan mental dan fisik para pemain. 

Jika kita melihat setiap komposisi para pemain dari kedua tim, kayaknya adil. Tetapi, menilai dari kacamata history laga-laga sebelumnya, orang tentu lebih menjagokan FC Barcelona untuk menang. Kepercayaan diri yang tinggi usai mengalahkan Inter Milan adalah modal utama mereka.

Walaupun begitu, Real Madrid bukan tidak akan memberi perlawanan sebagaimana mestinya. Mereka akan tampil berbeda dari laga-laga sebelumnya, khusus untuk mengalahkan Barcelona. Jadi, tanpa Messi-nya Barca dan tanpa Ronaldo-nya Real, laga El Clasico akan selalu menarik ditonton dan kedua klub masih mempunyai senjata rakitannya masing-masing untuk menghancurkan tembok pertahanan masing-masing tim.