Baru-baru ini, muncul dua kelompok berkaus dengan tulisan tagar; pertama, kelompok berkaus “#2019GantiPresiden” dan kedua, kelompok berkaus “#DiaSibukKerja”. Kelompok pertama menyebut bahwa presiden saat ini membuat rakyat semakin susah, banyak janji yang tidak ditepati, membuat ekonomi Indonesia semakin tertinggal, banyak hutang, suka pecitraan, dlsb. Sehingga di tahun 2019, apapun alasannya presiden harus diganti.

Sedangkan kelompok kedua berpendapat bahwa presiden saat ini lebih baik dari pada presiden-presiden sebelumnya. Presiden saat ini sudah membuat pembangunan merata di seluruh Indonesia, membangun infrastruktur-infrastruktur yang dampaknya untuk jangka panjang, dicintai rakyatnya, selalu blusukan bahkan ke daerah-daerah pedalaman, dlsb. Oleh karena itu, tahun 2019, presiden harus lanjut dua periode, tak peduli berapapun biaya dan resikonya.

Gerakan berkaus seperti yang dijelaskan sebelumnya menjadi semakin viral di media sosial dan mendapat banyak persepsi dari berbagai kalangan, ketika dua kelompok melakukan gerakan berkaus yang berlangsung di Car Free Day (CFD), sekitaran Bundaran HI Jakarta. Gerakan dari dua kelompok ini menjadi viral karena sebuah video tersebar di media sosial yang diunggah oleh sebuah akun Channel Youtube bernama Jakartanicus. Video itu menampilkan kelompok berkaus “#2019GantiPresiden” yang kemudian dianggap mengintimidasi kelompok berkaus “#DiaSibukKerja”.

Dalam video yang berdurasi 2 menit 26 detik tersebut terlihat kelompok berkaus pertama meneriakkan “2019 Ganti Presiden, Takbir! Allahu Akbar!” Sebagian ada yang meneriakkan “cebong, cebong kena, woy sambil menyodorkan uang” kepada sebagian kelompok berkaus kedua. Bahkan ada seorang ibu yang sedang berjalan bersama anakanya dari kelompok berkaus kedua dikerumuni oleh sekelompok berkaus pertama dengan perlakuan yang kurang baik, yaitu diteriakin cobong, nasi bungkus hingga anaknya menangis karena merasa tertekan.

Peristiwa yang terjadi di atas tidak bisa dipisahkan dari aktivitas sensasi politik dan memang tahun ini sedang menuju ke sana. Sehingga tidak heran bila setiap orang di Indonesia dijamin kebebasannya dalam mengekspresikan padangan dan pilihan politiknya dengan cara yang veriatif, tak tekecuali gerakan berakus dengan tulisan bertagar. Namun, peristiwa itu juga mengungkapkan bagaimana stimulus, dalam hal ini, pesan komunikasi “#2019GantiPresiden” dan “#DiaSibukKerja” yang mengambil tempat di CFD Jakarta telah melahirkan tanggapan yang beraneka ragam.

Ketika proses persuasi sudah dimulai oleh dua kelompok berkaus, berbagai reaksi timbul. Menurut seorang Pakar Hukum Tatanegara sekaligus mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, "Mau ganti Presiden itu hak, mau mempertahankan Presiden itu hak. Silahkan saja, itu ada mekanisme konstitusionalnya. Tapi hati saya sangat tersayat dan menangis jika ada ibu yang hanya berduaan dengan anaknya dipersekusi ramai-ramai."

Beda lagi dengan tanggapan Ferry Juliantono, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra. Menurutnya, persitiwa itu masih dalam batas yang wajar toh tidak ada kontak fisik dan menurut saya tidak ada masalah, itu hanya kejadin insiden kecil. Menurutnya juga, orang yang memakai kaus “#DiaSibukKerja” sendirian itu aneh dan berupaya melakukan provokasi. Menanggapi Ferry, Maruarar Sirait, Politisi PDIP, mengatakan bahwa itu bedanya pendukung Jokowi dan Prabowo. Bagi dia justru peristiwa itu tidak wajar dan biarkan masyarakat sendiri yang menilainya.

Mustofa Nahrawardaya, pegiat media sosial yang kebetulan dia hadir dalam lokasi CFD bersama kelompok berkaus pertama, berpandangan berbeda soal peristiwa dugaan intimidasi kepada seorang wanita yang sedang bejalan dengan anaknya. Menurut dia, aksi saling sindir atau ejek saat dua kelompok berbeda bertemu adalah hal yang wajar, tapi tidak ada intimidasi. Dalam akun twitternya juga mangatakan “Ibunya harus paham situasinya. Kalau gak mau ribut, copot kausnya. Biar anaknya tenang.”

Pegiat media sosial yang lain, Permadi Arya atau yang terkenal dengan sebutan Abu Janda berpendapat lain. Menurut Permadi dalam akun twitternya, “belum ganti presiden saja mereka sudah berani injak-injak wibawa hukum lakukan intimidasi biadab ke ibu dan anak tak berdaya. Bayangkan jika presiden pilihan mereka yang menang nanti, kebiadaban semacam di CFD akan mereka lakukan di ruang tamu rumah anda. Waktunya orang-orang waras mikir keras.”

Berbeda dengan pihak-pihak yang lain, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) justru melaporkan aksi intimidasi terhadap seorang ibu dan anaknya. Pelaporan dilakukan Dini Prabowo, salah satu juru bicara PSI ke Direktorat Reserse Kriminal Umum, Mapolda Metro Jaya. Perempuan yang juga lawyer di Jaringan Advokasi Rakyat Solidaritas mengecam tindakan intimidasi tersebut. Menurutnya, itu merupakan perbuatan pidana, tak boleh dibiarkan supaya tidak diulangi lagi.

Sementara salah satu penggagas kaus dengan tagar “#2019GantiPresiden”, Mardani Ali Sera, Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera memiliki pandangannya sendiri. Mardani berpendapat bahwa kalau melihat psikologi massa, orang sudah kumpul ramai-ramai, polisi juga sudah bagus memisahkan. Satu sebelah sana, sebagian di sebelah sini. Yang sebelah sananya datang sebelah sini. Dia menambahi "Orang sudah kumpul ramai-ramai, tiba-tiba.... Jadi nanti bisa juga dipertanyakan yang memprovokasi siapa."

Tentu masih banyak tanggapan-tanggpan lain yang berbeda-beda, namun tidak bisa dimuat di sini semua. Yang menarik, meskipun peristiwanya sama, orang-orang akan menanggapinya berbeda-beda. Bisa jadi, sendainya tukang ojek online diminta menanggapi peristiwa ini, si tukang ojek akan menaggapi begini “itu bukan urusan saya, lebih penting urusan perut.” Beda dengan tanggapan politisi, pegiat media sosial, atau seorang pakar. Kenpa bisa demikian?

Setiap orang akan memberi tanggapan kepada setiap peristiwa secara berbeda sesuai keadaan dirinya. Dalam psikologi komunikasi, terdapat penjelasan sistem komunikasi intrapersonal bahwa setiap orang mempersepsi stimuli (pesan komunikasi #2019GantiPresiden dan #DiaSibukKerja) sesuai dengan karakteristik personalnya. Dari sini bisa diidentifikasi, jika politisi pendukung kelompok berkaus pertama, maka tanggapannya cenderung membela alias tidak mempermasalahkan peristiwa di CFD dan menganggap itu bukan bentuk intimidasi.

Berbeda dengan tanggapan politisi pendukung kelompok berkaus kedua, pasti mereka cenderung memermasalahkan bahkan melaporkan peristiwa itu ke polisi karena dianggap sebagai tindakan pidana. Seorang pakar akan terlihat netral dalam memberi tanggapan. Khusus tukang ojek online, atau mungkin yang sejenis, mereka menanggapi gerakan dua kelompok berkaus “#2019GantiPresiden” dan “#DiaSibukKerja” di liur dugaan.