Pertama-tama, sebelum memulai tulisan ini, saya tegaskan, saya tidak akan golput di 17 April 2019 nanti. Kedua, saya sangat mengagumi sosok dan pemikiran Franz Magnis Suseno atau kerap dipanggil Romo Magnis.

Saya membaca utuh tulisan Romo Magnis, seorang rohaniawan, budayawan sekaligus filsuf di harian Kompas, dua hari yang lalu, tanggal 12 Maret 2019 berjudul Golput.

Pada paragraf ke-6 (enam), Franz Magniz menulis: "...Kalau Anda, meskipun sebenarnya dapat, tetapi Anda memilih untuk tak memilih atau golput, maaf, hanya ada tiga kemungkinan: Anda bodoh, just stupid; atau Anda berwatak benalu, kurang sedap; atau Anda secara mental tidak stabil, Anda seorang psycho-freak."

Saya tidak paham, kata bodoh menjadi diksi yang dipilih Franz Magnis dalam tulisannya untuk menjustifikasi orang-orang golput, kelompok orang yang memutuskan tidak menggunakan hak pilihnya (non-voting behaviour) pada saat pemilu.

Pun saya menganggap bahwa Franz Magnis hanya sedang silap menggunakan kata itu. Sebab, kata bodoh tak jauh beda artinya dengan dung"; bahasa yang sering dilontarkan seorang filsuf lainnya, Rocky Gerung.

Membaca tulisan Franz Magnis, saya teringat 10 tahun lalu, ketika saya masih menjadi seorang mahasiswa di Fisip USU. Saat itu, sedang berlangsung kampanye Pemira (Pemilihan Raya) untuk memilih gubernur/wakil Gubernur (BEM) di kampus. 

Saya dan teman saya, waktu itu, memilih untuk tidak memilih di pemilihan. Lebih lanjut, saya waktu itu menulis gugatan saya dalam bentuk esai poin-poin penolakan saya soal pemilihan di kampus. Saya print dan bagikan sikap itu dalam bentuk selebaran.

Alasan saya, waktu itu karena calon yang tersedia tidak merepresentasikan pilihan rasional saya dan beberapa teman. Tidak hanya itu, terkait visi, misi, dan program kandidat pun tidak mewakili perasaan kami.

Seingat saya, itu adalah tulisan pertama saya yang dipublikasikan dan dibaca banyak orang. Dicetak sendiri dan disebar sendiri pula.

***

Artinya, tidak menggunakan hak pilih atau golput bukan soal sikap immoral seperti narasi yang dituliskan Romo Magniz. Bagi saya pula, kebebasan untuk Golput itu adalah adanya jaminan bagi warga negara untuk berbeda pendapat soal politik. Entah itu secara sadar atau tidak sadar pada akhirnya tidak datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) di hari H pemilu.

Pada paragraf terakhir, Franz Magnis menulis: "Kenyataan ini harus diterima. Sekali lagi, kita tak memilih yang terbaik, melainkan mencegah yang terburuk berkuasa. Dalam suatu demokrasi kita wajib memberi bagian kita."

Sekali lagi, saya ingin menyanggah argumen ini. Sebab, Korea Utara, setiap 5 (lima) tahun, rutin melaksanakan pemilu dan angka partisipasi politiknya adalah 99,97% (hampir 100%). 

Namun, tetap saja Korea Utara dipimpin oleh seorang diktator, pemimpin yang suka mengeksekusi mati warganya. Tentu saja, saya yakin, pada konteks ini, pada bagian humanitas. Kekejaman, kekerasan, dan pembunuhan adalah nilai yang sangat buruk.

***

Saya juga paham arah Franz Magnis terkait tulisannya kemarin. Tentu saja, sebagai seorang intelektual dan filsuf, ia membaca berita politik terkait kemenangan Donald Trump di AS tahun 2016 dan Jair Bolsonaro di Brazil 2018 disebabkan oleh angka golput yang tinggi.

Donald Trump menang saat angka golput di AS mencapai 42,4% (setara 98 juta orang). Hampir 50% pula masyarakat Brazil tak menggunakan hak pilihnya saat Bolsonaro menang di Brazil. Pun, baik Trump dan Bolsonaro adalah tipe pemimpin rasis, kasar, dan arogan. Jika alat ukur yang digunakan adalah moral, maka keduanya adalah contoh pemimpin yang buruk.

***

Saya pun paham, risiko tingginya angka golput di Pemilu 2019 nanti berpotensi memenangkan Prabowo dibandingkan calon petahana, Jokowi. Hal ini terlihat dari ragam rilis survei menyebutkan orang-orang yang belum menentukan pilihannya (undecided voters) jumlahnya masih cukup tinggi, yaitu sekitar 17-20%, membuat potensi angka golput diprediksi akan tinggi.

Saya tegaskan, sekali lagi, saya tidak mendukung orang-orang golput. Saya jelas berharap angka partisipasi politik di pemilu nanti tinggi. Pun saya tidak pula menyebut mereka yang memilih golput adalah orang-orang bodoh atau dungu.

Ini bukan soal Jokowi atau Prabowo, tapi sebagai warga negara, saya berharap perbedaaan pendapat tidak berujung pada bahasa-bahasa yang mendehumanisasi. Seperti: diksi cebong atau kampret, dungu atau bodoh, yang menguasai bahasa politik kita hari-hari ini.

***

Lebih lagi, tantangan terbesar kita adalah politik uang yang semakin merajalela. semuanya menjadi paradoks, saat banyak kandidat mengampanyekan antipolitik uang, sementara sering kali masyarakat membaca, mendengar, dan melihat para wakil rakyat dan pejabat berakhir di tahanan KPK karena terlibat korupsi.

Moral politisi, moral pejabat kita tentu yang perlu diperbaiki. Agar masyarakat semangat, bergembira, dan iklas tanpa imbalan menggunakan hak suaranya. Pun agar supaya angka partisipasi politik kita semakin baik.

Sekali lagi, saya saya tegaskan, saya mengagumi anda Romo Magnis. Tak ada niat buruk mengkritik pemikiran Anda, apalagi melawan. Kekaguman saya pada Anda masih sama, sama seperti saya pertama membaca tulisan Anda, menyisihkan uang jajan untuk membeli buku Anda, 11 tahun yang lalu. 

Kebahagiaan saya makin lengkap ketika Anda bersedia berfoto bersama saya, pada tahun 2011 lalu.

Saya selalu berharap, Anda senantiasa tetap jadi panutan, selalu setia menjaga jarak dengan kekuasaan. Doa saya, Anda selalu dilimpahkan kesehatan dan umur panjang. Merawat kebajikan di negeri ini. Tuhan Yesus yang memberkati.