Tanah air boleh dimaki. Tapi yang boleh mencercanya hanya kita saja. Tidak boleh orang lain, karena kita akan sakit hati, marah, merasa terhina. Tanah air seolah bagian dari kita, atau kita yang merupakan bagiannya — bagaimanapun, ia dekat. Kita bisa merindukannya, mencintainya, seakan ia manusia. Mungkin karena sejak zaman Prometheus, atau bahkan sebelumnya, kita tercipta dari tanah liat. Tanah dan air.

Tanah itu seperti rumah, tempat di mana kita mengenal setiap pojok. Kita boleh gusar kalau kerannya bocor, lampunya mati atau cat dindingnya tidak seindah yang kita inginkan. Tapi ketika seorang tamu mengritik hal-hal yang sama, kita jengkel. Tanah air serupa rumah, kita tidak nyaman kalau bentuk dan isinya dikritik, kecuali oleh kita sendiri.  

Konon yang baik untuk menjadi bahan rumah itu kayu jati. Saya melihat pohonnya pertama kali di Indonesia. Kayunya indah, kuat. Saya suka berpikir bahwa "jati diri" berasal dari jati itu, meskipun ini tidak benar dari sudut pandang ilmu bahasa. Seperti pohon jati, jati diri juga saya temukan di luar tanah air saya.

Dalam bahasa Polandia tidak ada "jati diri". Kami cuma punya pelbagai istilah untuk "identitas". Identitas terbentuk oleh ciri-ciri yang diwarisi. Kita mendapatkannya dari pengasuhan, pengaruh keluarga, lingkungan. Ia sangat berganda. 

Saya kira identitas merentang dari cinta, agama, bahasa, sampai semua hal lain yang penting bagi kita. Jati diri adalah muara identitas yang bisa melintasi atau mengaburkan sempadan kepercayaan, wawasan, didikan dan tanah air — campuran yang membuat kita lebih terbuka, mampu mengupas orang lain dari keasingan, dan mengupas kita dari kehendak untuk menghakiminya.      

Saya belajar jati diri melalui bahasa Inggris yang bukan bahasa asuhan saya. Selfhood. Sebelumnya saya tidak membayangkannya.

Yang membuat saya sadar akan perbedaan antara selfhood dan identity juga bukan orang Polandia, tapi penyair dan penerjemah dari India, Ranjit Hoskote.

Satu kalimat Hoskote di esainya tentang seorang pujangga, filsuf dan politisi, Allama Muhammad Iqbal, terus-menerus berbunyi dalam pikiran saya: "Iqbal adalah ahliwaris beraneka macam garis keturunan agama dan budaya, beraneka pemetaan diri". Pergulatannya dengan kerawanan afiliasi dan identitas sangat mendalam dan subur. Amat canggih juga.

Pergulatan saya jauh lebih rendah, tapi dengan latar belakang Polandia yang Slavia dari segi tradisi dan Katolik konservatif dari segi agama, saya suka menganggap Indonesia tanah air — tanah air kedua, tanah air pilihan. Saya mengritiknya, sering sekali, sesering saya merindukannya.

Saya melihat Indonesia sebagai pilihan, pilihan jumlah besar orang yang berasal dari berbagai budaya, etnik, identitas, bebagai "pemetaan diri". Beberapa tahun lalu saya membaca Catatan Pinggir tentang makna "Indonesia". Menurut Goenawan Mohamad, salah satu yang paling berhasil mengisinya adalah tokoh Indische Partij, pahlawan nasional, Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara.

Suwardi juga berhasil memikat hati saya. Dalam majalah Hindia Poetra, pada 1919, dia menulis: "orang Indonesia adalah siapa saja yang menganggap Indonesia tanah airnya". Mungkin bukan suatu kemustahilan saya menganggapnya demikian.

Ada satu lagi pernyataan, dari Goenawan sendiri: "Indonesia adalah sebuah proses yang eklektik, bercampur, berbaur dengan bebas".

Proses eklektik tersebut terjelma di bahasa. Ada banyak kata dalam percakapan kita sehari-hari yang dilahirkan oleh sejarah dan tradisi negara-negara yang jauh di India, Timur Tengah, Eropa, Cina. Sangat jauh. Identitas di latar belakang kosakata itu bisa menciptakan dari aneka macam garis keturunan sesuatu yang melampaui dirinya sendiri.

"Putra", "putri" atau kata ganti "yang" berasal dari bahasa Sansekerta. Identitasnya tidak berubah ketika ratusan tahun lalu kata-kata itu diterima di Nusantara. Tapi melalui pertemuan dan percampuran muncul makna yang khas Indonesia.

Kalimat "kami, putra dan putri Indonesia, bertumpah darah yang satu" adalah bagian dan hasil proses yang eklektik itu, di mana pelbagai identitas seakan mengukirkan makna baru.

Saya percaya sesuatu yang tidak selesai, yang terus-menerus melampaui dirinya sendiri mampu memberikan hasil yang tangguh, seperti ukiran pada jati. Seperti, mungkin juga, Indonesia.