Sinar datang lagi
Selembar hijau gugur di pelataran baru
Mentari ini lentera putihku
Udaranya beku
Perlahan teduhkan tempat baringku
Rambahan nadi menarik waktuku kembali keluar dimensi
Pagi ini kutemui suaramu
Mengalun lembut menggenggam telapak tanganku
Basah nafasmu
Berjalan semilir merangkul tengkuk badanku
Seperti yang kau ajarkan sebelumnya dalam tulisan yang merujuk nyata
Bahwa aku masih seringkali jatuh dan terjerembab dalam jebakan nafsu dunia yang mengatasnamakan cinta
Dan aku tak selamanya ada untuk mewarnai pelangi di angkasa sana
Tertatih ku akan terus berdiri menahan luka
Demi tambatan sepucuk aksara
Kau tetap disana
Membentuk permata pagi yang membias doa
Bersama mata
Kau ajarkan cinta pandang dunia
Bagaimana ku berhembus untuk membaur cerita
Menatap masa datang untuk segumpal asa
Kita sepasang, tetap bertahan dalam kejauhan
Kau cinta
Semangat detak dada


*********

Aku merinduimu
Dengan secarik sore selepas malam berkemelut hujan
Sedikit celah kan menelisik pada sajak kita yang runyam
Aku merinduimu
Dengan aksara serabutan yang entah terkadang tak bisa kau baca maupun kutahu
Namun ku tak peduli
Tumpahan cecar atau diksi-diksi yang hilang pada jarak kita yang membelukar dengan angan yang membentang
Kadang pula kutemui gelap mulai acuh akan keangkuhan
Biar segala keterasingan mendesak apa yang ada
Aku merinduimu
Dengan segala peluh yang terkadang tumpah di antara sajak-sajak itu
Dan aku merinduimu


*********

Seperti aksara yang memilih bungkam
Rindu memilih tubuhku bersandar pada kau
(yang lekat dalam dekap)
Memilih terik saat sabit
Adalah kecurangan yang paling dendam

Aku menatap aksara pada wajahmu
Pada langit serupa purnama di tengah gegap gempita
Pada jendela kamar yang mendiami seluruh jeda
Pada terik
Pada aurora yang mengubah senyummu menjadi jelaga

Matamu kususun pada waktu-waktu tertentu
Mungkin selagi kau menatap layer seperti saat sekarang
Aku ingin sekedar menyelaminya
Memporak porandakan isi keteduhannya
Seperti mozaik kegundahan yang telah kau bangun
(sejak awal di dasar sunyian)

Lalu
Kususun lagi denganmu
Dengan tawa dan tanda tanya yang sudah berserakan
Dan
Sejak rindu kau bangun di sisiku
Kau perlu tahu
Bahwa kehadiranmu
BUkan sekedar tempat rebah yang hanya singgah