Pada bagian akhir Filosofi Kopi karya Dee Lestari dikisahkan Rico De Coro. Rico De Coro adalah seekor lipas. Ia jatuh cinta dengan seorang manusia. Di tengah perjumpaannya itu, ia terkesima dengan paras manusia berjenis kelamin perempuan. Sarah, nama perempuan dimaksud.

Sarah mempunyai rambut sebahu, sedikit ikal, kulitnya cerah, dan wangi. Dialah, menurut Rico De Coro, satu-satunya manusia paling baik di kolong bumi ini. Seperti manusia kebanyakan, jatuh cinta merupakan peristiwa alamiah. Ketika orang jatuh, yang dibutuhkan cinta untuk menarik keluar.

Demikian alot cinta Rico De Coro. Rico De Coro jatuh cinta sekaligus terkesima terhadap sikap simpatik Sarah. Seluruh hari hidupnya dijejali oleh bayangan paras Sarah. Hingga nasib naas menyambangi Rico De Coro. Dipicu sikap romansa yang begitu menggelora, Rico De Coro memilih mati tragis ditimpuk sandal alih-alih menyelamatkan Sarah.

Dari kisah Rico De Coro ini, dalam pandangan saya, hidup memang selalu berkelindan dengan pilihan. Sokrates meneguk racun karena berani menolak pilihan. Ia memilih mati secara tragis daripada takluk pada dewa-dewa yang diakui negara. Filosof tua itu merasa lebih baik mengiris nyawa sendiri ketimbang berangkat pikun pada umurnya yang mau lewat 70.

Mereka yang takut mati, demikian konon ia berujar, membayangkan dirinya mengetahui apa yang tidak diketahui siapa pun juga. Sejurus pernyataan Sokrates ini, filsuf Heidegger melihat kehidupan sebagai pilihan menuju kematian. Begitu seseorang manusia lahir ia sudah terlalu tua untuk mati.

Karena itu, tidak bisa tidak, kematian adalah keniscayaan. Tidak perlu berdebat soal kematian. Kita hanya perlu diisadarkan terus bahwa kematian ditempatkan sebagai jalan purna kehidupan. Tidak ada satu makhluk hidup di bumi sanggup mengelak kematian.

Hanya, apakah di tengah dunia yang ditandakan dengan kemajuan dan tawaran duniawi saat ini, ada yang ingin cepat memilih kematian? Pertanyaan alegoris ini tentunya merujuk pada fenomena di Indonesia. Dikatakan fenomena, karena hampir di setiap televisi dan media cetak, kematian ditayangkan dan diberitakan dengan lugas.

Konteks pemberitaan yang sempat viral beberapa waktu lalu, perihal gembong narkoba menerima hukuman mati. Kematian mereka menjadi santer di jagat bumi Indonesia untuk beberapa saat, karena harus meregang nyawa di hadapan para serdadu tembak. Toh, membunuh juga adalah sebuah pilihan. Negara memilih nekat membunuh bos-bos narkoba.

Namun, ketika negara menembak mati gembong narkoba, di satu sisi para koruptor tetap berkeliaran. Padahal, di Cina para koruptor dihukum mati. Negara kita ini justru membiarkan sarang koruptor berkembang dan para bandit uang bercokol.

Lebih anehnya, jika tiba waktu dan giliran bicara keadilan semua lantang bersuara suara. Betapa tidak, sensitivitas masyarakat Indonesia begitu tinggi, ketika menyebut keadilan. Pertanyaan kita, mengapa keadilan seyogia dibela? Sebab muasab apa sehingga tidak sedikit orang melantangkan suara keadilan?

Memang semenjak zaman kolonialisme hingga detik ini, masyarakat Indonesia selalu berurusan dengan pemerintah yang tidak adil. Birokrasi tidak adil. Masyarakat tidak adil. Singkatnya, seluruh elemen yang digolongkan sebagai NKRI, berkecimpung dengan masalah ketidakdilan.

Fakta ini diperparah lagi oleh hukum yang cenderung tumpul ke atas, tajam ke bawah. Di Indonesia, misalnya, kasus intoleransi. Tidak dapat disangsi lagi, ketika golongan mayoritas menindas golongan minoritas. Hingga saat ini, perlakuan tidak adil terhadap minoritas menjadi catatan kelam bagi pemerintahan Jokowi jilid II.

Kita merasa ketidakadilan itu tampak karena hukuman terhadap intoleransi tidak menuai titik kejelasan. Toleransi semakin didengungkan oleh para elite, semakin intoleransi terjadi di akar rumput.

Ibarat dagelan, para elite adalah aktor di balik pementasan wayang. Seluruh panggung mereka kuasai dan hanya satu orang yang mengontrol aktivitas dagelan yakni, syah. Muncul kekawatiran kita dari adegan syah, adalah pemerintah hanya tampil sebagai penonton.

Tampil sebagai penonton, pemerintah ‘cuci tangan’ atas intoleransi. Buktinya, sudah banyak aksi korban intoleransi yang mempersoalkan hak-hak mereka dipasung. Mereka sering berorasi. Turun ke jalan. Bersuara. Berteriak. Bahkan mereka menyoalkan segala perkara mereka hingga ke jalur hukum. Namun, tidak menuai hasil memuaskan. 

Kita pun mengamini bahwa perlakuan ketidakadilan kian hari, kian merebak. Hal ini karena kebungkaman pemerintah. Kita berasumsi, bahwa persoalan ketidakadilan dan intoleransi hanya menjadi isu kaum minoritas. Semestinya kaum elitis dan pemerintah menjadi garda depan memetus rantai intoleran.

Jika dibiarkan terus, letupan pertikaian berbau SARA bisa meluas. Dan itu akan sangat fatal, karena kematian bisa bermunculan. Kemungkinan banyak berseliweran korban jiwa dan harta. 

Takutnya, seperti nasib Rico De Coro memilih mati demi membela nasib dan harga diri Manusia. Sedangkan manusia lain memilih bungkam di hadapan ketidakadilan. Kita pun berujar, tidak wajar sesunguhnya kita mati seperti Rico De Coro.