Karen Armstrong, yang seorang penulis dan feminis itu, menulis sebuah buku menarik dengan judul The Battle for God (Berperang demi Tuhan). Buku ini merupakan kelanjutan dari karya dia sebelumnya yang berjudul A History of God (Sejarah Tuhan).

Kedua karya tersebut memiliki keterkaitan yang sangat erat sekali, sebagaimana saya akan mengaitkannya dengan judul artikel di atas, Taksonomi Alutsista ala Kitab Suci.

Ketika Karen Armstrong mencoba mendeskripsikanusaha pencarian Tuhan oleh para pemeluknya, maka saya pun mencoba untuk mendeskripsikan relasi alutsista (alat utama sistem senjata) dengan kitab suci.

Fenomena fundamentalisme dalam tiga agama monoteistik: Kristen, Yahudi, dan Islam, beriringan dengan pengembangan alutsista dari masing-masing pihak yang bertikai.

Perlombaan atas kemampuan dan kualitas persenjataan tidak dapat dielakkan lagi. Rasa bangga dan besar hati ada di setiap pemuja alutsista yang merupakan mesin-mesin pembunuh itu. 

Kegilaan atas Tuhan “kedua” yang bernama “alutsista” ini makin menarik ketika mereka menghubungkannya dengan redaksi-redaksi yang ada di kitab suci masing-masing. Jadi, makin sempurna saja keberhalaan ini.

Tiap-tiap kitab suci dipastikan membawa pesan ekspansif dan invasif dalam relasi gerak dakwahnya. Keganasan teks-teks suci (lingua sacra) itu biasanya terlihat pada sisi esoterisnya atau dalam artian sisi pembacaan biasa yang tanpa adanya campur tangan tafsir esoteris.

Baik Alkitab ataupun Alquran, keduanya saling berlomba memberikan semangat pembelaan dan spirit invasi dengan ayat-ayat pedangnya (ayatul saif).

Keganasan teks esoteris pada Alkitab yang mengajarkan kekerasan dengan ayat-ayat pedangnya, misal pada Yosua 6:21, Ulangan 20:16, Matius 10:34, dan Lukas 12:51.

Untuk Alquran, ayat-ayat pedangnya bisa dilihat pada al-Anfal 39 dan 60, Muhammad 4, dan Annisa 89. Di situ, terlihat jelas ajaran keganasan dalam konteks esoterisnya.

Dengan pemicu dan pemantik ayat-ayat pedang tersebut di atas, maka untuk selanjutnya akan terus memberikan inspirasi keganasan pada taksonomi atau penamaan alutsista pada masing-masing kelompok yang bertikai agar lebih terlihat "fasih" ayat-ayat pedangnya. 

Spirit taksonomi alutsista ini juga dipengaruhi sejarah yang mengiringi kitab suci tersebut. Lintasan masa akan memberikan inspirasi-inspirasi penamaan alat-alat perang dan mesin-mesin pembunuh itu.

Semisal saja, inspirasi pada Perang Khaibar, yang merupakan kisah legendaris para dueller (pelaku duel) atau pertarungan satu lawan satu itu.

Pertarungan antara Ali bin Abi Thalib yang Islam dengan seorang Yahudi yang bernama Marhab. Ali bin Abi Thalib dengan alutsista pedang Zulfikar melawan Marhab dengan alutsista baju zirah dua lapis, helm pelindung kepala (mighfar), dan perisainya.

Lintasan sejarah di atas menjadi inspirasi dan dendam tersendiri bagi kedua belah pihak. Kekinian hal tersebut bisa dilihat dalam taksonomi beberapa alutsista kedua kelompok yang bertikai.

Sebut saja Hamas dengan dukungan Iran dan Hisbulloh Lebanon, menggunakan roket yang bernama “Khaibar”, sesuai dengan nama Perang Khaibar dan inspirasi surah al-Fath 20.

Roket Khaibar adalah produksi Iran dan merupakan bantuan dari Iran kepada pejuang Hamas. Jadi, jangan keras kepala kalau perjuangan Palestina itu juga didukung penuh oleh Syiah Iran.

Roket Khaibar memiliki daya lontaran dengan radius 160km. Jika diluncurkan dari wilayah otoritas Palestina, mampu menjangkau Kota Haifa yang terletak di utara Israel itu.

Roket Khaibar juga digunakan oleh pejuang Hizbullah Lebanon dalam melawan Israel pada perang Lebanon di tahun 2006.

Roket lainnya yang diproduksi Iran, semisal roket “Sijjil” yang berbahan bakar padat itu, juga terinspirasi kitab suci. Kekuatan batu Sijjil yang membumihanguskan pasukan Gajah dalam surah al-Fil adalah roh utama roket ini. Begitu pun roket produksi Iran lainya, seperti roket "Zilzal", adalah inspirasi surah al-Zalzalah.

Agar tak terkesan mendapat bantuan dari Iran, maka Hamas juga memproduksi roket sendiri dari pipa tiang listrik yang diberi nama dengan roket “Qossam”.

Roket Qossam terinspirasi oleh nama sayap militer mereka, Izzudien Al Qossam, dan juga oleh surah al-Waqi'ah 76 dan surah al-Fajr 5. Roket ini mempunyai jangkauan sekitar 10km.

Untuk mengantipasi roket Khaibar, maka Israel tak mau kalah memberikan taksonomi ala Kitab Sucinya. Mereka membuat sistem penangkis terpadu yang mengandalkan roket “Rafael” yang terinspirasi nama malaikat di Kitab Tobit 12: 17-22.

Roket lainnya, selain Rafael, juga ada “Delilah” yang merupakan misil penjelajah yang diilhami oleh Kitab Hakim-hakim pasal 16.

Selain Israel dan Iran, Amerika Serikat juga tak mau kalah memberikan taksonomi alutsistanya, seperti pada main battle tank (tank tempur utama) yang bernama “M1 Abrams” yang terinspirasi kitab Kejadian 11:26.

Israel lagi-lagi tak mau kalah dengan Amerika Serikat. Israel memberi nama main battle tank-nya dengan nama “Merkava Mk 4M”yang terinspirasi dari Ezekiel's vision (1:4–26).

Israel makin menggila dengan taksonominya dengan memberi alutsista lainnya, seperti senapan serbu (riffle assault) dengan nama “Tavor” yang terinspirasi dari kitab Hakim-hakim 4:6. Termasuk senapan “Galil” yang terinspirasi oleh John 6:1.

Begitulah kitab suci memberikan inspirasi taksonomi alutsista mereka. Entah apa alasannya, yang pasti, ayat-ayat pedang pada kitab suci telah menciptakan budaya penafsiran esoteris yang ganas sekali. Pengaruhnya terlihat jelas pada gaya taksonomi alutsista yang merupakan mesin-mesin pembunuh manusia itu.