Di suatu sore yang gamang, di balik kegelapan yang meliputi kota sunyi ini, terdengar sebuah khotbah para petuah yang menyampaikan tentang kedamaian dan kesejahteraan. Di balik kota sunyi itu semua bisu sekan buta tak melihat fenomena jalanan yang mungkin sedikit di lihat oleh para pemenang.

Kita memang di pinggiran jalan kata anak yang bermandikan hujan, tanpa payung dengan rintikan hujan melukis baju putih yang kian menguning. Katanya aku bingung apa yang harus kulakukan dengan hidupku, aku tak lagi punya cita untuk hidup baik kedepan.

Dunia terasa gelap di balik rinai hujan dan guyuran yang mendinginkan suasana sore itu. Aku takut pulang, aku takut melihat ibu yang sudah sesakitan, dan ayah yang batuk- batukan. Kenapa hidupku demikian? Tanyaku kepada hujan.

Sejak aku lahir kita sudah tinggal dengan kardus di pinggir jalan, rumahku pun di bangun tanpa jaminan hukum yang garang. Mereka semua memotivasiku untuk terus berjuang, namun apa daya teman. Aku hidup tanpa harapan.

Segala usahaku berujung kelimpangan. Setiap hari kulalui dengan perasaan senang walau terkadang sering iri ketika melihat mereka yang besar dengan harta, bisa menghabiskan waktunya senang- senang. Aku habiskan diriku diam di ujung jalan sembari menyelesaikan hujan sore ini.

Besoknya aku kembali ke parkiran, seperti biasa banyak kendaraan lalu lalang. Hidup bergantung parkiran kadang tak tentu, tak tentu kita makan enak setiap harinya. Setiap hari Ayah yang batuk- batukan hanya bisa diam di rumah, Ibupun yang sesakitan tidak bisa memasakan sesuatu kepadaku. Jadi aku terpaksa mencari sedikit rejeki di jalanan. Supaya aku bisa hidup tenang.

Ada orang baik yang datang kepadaku dan menawarkan aku sekolah supaya aku bisa merubah hidup kedepan. Hasil pengelihatanku “sepertinya sama saja”, tak ada beda antara yang sekolah dan yang bukan, bahkan aku membuang peluang diriku untuk bisa hidup dari parkiran.

Jikalau aku sekolah siapa yang akan menghidupi orang tuaku yang sesakitan? Mereka kan hanya berharap hasil pendapatanku dari parkiran.

Aku juga melihat fenomena mereka yang sekolah enam tahun, sembilan tahun, sampai dua belas tahun. Akhirnya harus kembali ke parkiran. Kata mereka susah mendapat kerjaan. Di zaman penuh persaingan menghendaki setiap orang harus bersaing untuk untung. Terkadang harapan tak sesuai kenyataan kata mereka.

Di sekolah mereka di cekoki dengan segala ilmu yang nantinya kadang tidak terpakai di lapangan. Ujung- ujungnya sekolah dua belas Tahun menjadikan aku pembantu di rumahan. Akupun memilih untuk tetap menjadi anak jalanan yang hidup di parkiran.

Hari- hari kulalui di jalanan makin banyak temanku di sini, berteman dengan anak jalanan mengenakan walaupun hanya aku perempuan yang berteman dengan mereka. Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat, aku harus menerima rasanya di tinggal Ayah yang kusayangi.

Aku hanya tinggal memiliki Ibu, kepergian Ayahku ku hantarkan dengan tangisan panjang. Banyak mereka yang simpati datang dalam kehidupan kita. Mereka menawarkan aku menjadi pembantu rumahan agar aku bisa menghidupi Ibuku yang sudah sakit- sakitan.

Mau tak mau atas tuntutan hidup aku harus berusaha demi mencari sesuap nasi untuk aku dan Ibu. Terkadang setiap malam aku terdiam, sering terlintas dalam benakku. “maafkan aku ibu, aku masih belum menjadi anak berguna dalam kehidupan”.

Aku tak tau apakah hidupku berarti atau tidak. Setiap malam hanya bisa ku lihat Ibu terbaring sakit di ranjang. Aku tak mampu berbuat apa- apa dengan kondisi yang terjadi hari ini ibu. Kenapa begini. Kata mereka “kita bisa merubah nasib kita asalkan kita mau berusaha” kenapa dengan usahaku hidup kita tak pernah berubah?

Setiap hari aku hanya bisa menyalahkan Dia kenapa memberi hidup yang sangat menyusahkan untuk aku dan ibu ku. Hari demi hari sakit ibuku bertambah parah, di tambah waktuku terbagi untuk merawatnya, waktuku susah ku bagi dengan pekerjaanku sebagai pembantu.

Keadaanku makin terdesak, aku harus membawa Ibu ke Rumah Sakit. Namun dengan hasil pendapatan ku sebagai pembantu rumah tangga aku tak bisa membawanya di rumah sakit. Kecuali memberinya obat- obatan tradisional. Di tengah runyamnya hidupku, di tengah perjalanan aku melihat ada wanita yang memakai rok pendek memenuhi jalanan malam. Ada yang turun dari mobil dengan segenggam uang merah Soekarno di tangan. Apa yang mereka kerjakan tanyaku dalam hati?.

Fikir ku daripada aku hanya bertanya dalam hati bagaimana aku langsung bertanya kepada mereka. Siapa tau aku bisa dapat pekerjaan baru yang bisa membuatku dapat uang untuk memasukan ibuku ke dalam Rumah Sakit. Akupun menghampiri mereka,

“Hai, kakak apa yang kamu buat sehingga bisa mendapatkan Uang sebanyak itu. Kataku dengan lugu”

“merekapun sontak memandangku dengan aneh dan tertawa, hahahahaha”

“kakak, kenapa kalian menertawaiku?”

“kami bekerja adik. Siapa namamu? Kata seseorang yang kemudian timbul di balik para wanita yang menertawaiku”

“namaku mawar kak. Kataku”

“kamu mau bekerja, katanya sambil memperkenalkan namanya melati”

“iya kak aku butuh pekerjaan, ibuku sedang sakit dan aku tak punya uang untuk memasukanya ke Rumah Sakit”

“dengan tersenyum melatipun berkata, apakah kamu benar- benar ingin kerja seperti kami?” tanya melati kepadaku.

“sontakpun aku menjawab ia kak aku mau kerja apapun supaya bisa menyembuhkan ibuku yang telah lama terbaring sakit”

“ok. Kata melati, besok kamu datang. Jangan lupa gunakan pakaian yang menarik, dan wangi. Katanya.”

“iya kak terima kasih telah menerimaku”

Sepulangnya di rumah dengan bahagia, aku pun menghampiri Ibu dan menceritakan bahwa aku telah mendapat pekerjaan dengan uang yang banyak nantinya. Ibu pun tersenyum dan berkata. Terserah nak apapun kerjamu ibu pasti akan mendukung mu yang penting kau jaga dirimu baik- baik. Iya bu jawabku “aku akan mengingat terus apa pesan ibu”.

Besok malam pun tiba, waktunya aku kerja pertama kali, walaupun nantinya aku memilih akan meninggalkan pekerjaanku sebagai pembantu.

Tibalah aku di jalan jingga. Disana aku bertemu dengan kak melati yang sudah menantiku dengan teman- teman sekerjaku.

“Tunggu ya kata melati, sebentar lagi kau akan dapat pelanggan.”

“baik ka, aku tunggu kataku dengan senangnya”

“waktupun menunjukkan pukul 00:00. Tiba saat dimana datang mobil ke tujuh di malam ini.”

“dari hasil pembicaraanya dengan kak melati akhirnya aku di panggil. Ini pelanggan mu yang pertama katanya.”

“tak perlu berlama- lama cepatlah aku di ajak ke mobil oleh seorang lelaki yang bernama Sonny”

Di perjalanan aku dan Sonny terlibat dalam perbincangan panjang. Tentang dirinya. Katanya ia adalah seorang pebisnis dari pulau seberang. Ohh begitu kataku. Sepanjang perjalanan kita lalui, tibalah kita di sebuah penginapan di ujung jalan kota malang.

Sonny pun mengajakku masuk dan mengajakku untuk menemaninya di sebuah kamarpenginapan. Waktu semakin malam sehingga perbincangan kian hangat sehingga hal yang tak diinginkan terjadi pada malam itu. Aku sontak kaget, baru pertama kali aku di perlakukan demikian, ternyata inilah kerjaku!

Setelah hal bejat itu di lakukan oleh Sonny akupun menangis tersedu tak henti. Kehormatan ku telah di renggut oleh Sonny pertama kali.

Dengan tersenyum Sonny pun datang padaku dan berkata berhentilah menangis bukankah kau butuh uang untuk memasukkan ibumu ke rumah sakit? Iya kataku sambil menghapus air mataku, Sonny pun mengeluarkan dompetnya dan mengambil segenggam uang yang tak ia hitung lagi di dalam dompetnya, kira- kira jumlahnya sekitar Rp.5jt.

Sonny pun mengajakku balik ketempat kerja ku di jalan jingga. Sesampainya di sana dengan membelai rambutku Sonny mengatakan berhentilah menangis dan mulai kerjamu untuk ibumu.

“kak melatipun yang telah menungguku datang kepadaku dan bertanya, bagaimana kerjamu?”

“aku terdiam dan tak kuasa airmataku pun jatuh membasahi bajuku”

“Awalnya memang begitu kata kak melati. Lama kelamaan kamu akan terbiasa katanya, besok balik lagi setelah membawa ibumu ke Rumah Sakit”

“aku pun pulang ke rumah”

Di rumah ibu sudah menunggu dengan tersenyum bagaimana kerjamu nak?

“aku yang tak ingin ibu bersedih mendengar kisahku pun berkata, kerja hari ini baik- baik bu. Besok ibu sudah bisa ke rumah sakit”

“ibupun senang, syukurlah katanya. Terima kasih anakku”

Keesokan harinya aku membawa ibu ke Rumah sakit dan menebus obatnya, namun ibu harus terus diobati agar sakitnya kian membaik. Melihat wajah ibu yang kian cerah akupun senang, namun aku masih berfikir panjang untuk melanjutkan kerjaku.

Semalaman aku berpikir apakah aku harus melanjutkan kerjaan ini atau tidak. Dari berbagai macam pertimbangan demi kesehatan ibu akupun harus terus melanjutkan kerjaanku.

Dengan terpaksa dan berat hati pikirku mungkin inilah takdirku. Hidup untuk membahagiakan orang lain di atas perut. Tanpa terus memprotes kenapa kalian menghinakan aku di atas perutku. Semoga kalian mengerti tentang ceritaku. Cerita orang yang menerima nasib sebagai pemuas nafsu hidung belang.