Ketika beberapa hari lalu Leonard Cohen pergi untuk mendiami tempat yang tak berpenghuni, saya hanya mau mendengarkan lagu "Hey, That's No Way to Say Goodbye." Saya sering sekali mendengarkan lagu itu waktu masih sekolah.

Saya juga pernah menulis surat kepadanya. Saya sudah lupa isinya, tapi pasti norak dan aneh sekali. Waktu itu saya baru belajar bahasa Inggris. Kosakata saya terbatas. Saya belum pandai menggunakan kamus. Tulisan itu tidak mungkin bisa dimengerti baik oleh manusia mau pun makhluk lain, termasuk penyair.

Selain masalah bahasa ada juga soal rasa. Saya mencintainya dan, tentu saja, seperti rata-rata pemudi tigabelas tahun, saya malu mengakui dan menghadapi perasaan itu. Saya hanya berharap dia akan tahu.

Ada sesuatu yang sangat mengharukan dalam mengharapkan orang lain akan tahu kita mencintainya; seolah cinta itu bisa menyentuhnya, tanpa kata, tanpa suara, melampaui akal dan semua indera. Bagi anak-anak semua harapan hampir sama dengan kepastian.  

Saya menulis surat cinta yang sok bukan surat cinta. Karena cinta memunculkan rasa malu. Entah mengapa kita semua sejak kecil tahu bahwa cinta adalah sesuatu yang memalukan. Mungkin ini berarti cinta merupakan bagian kondisi manusia yang kurang benar, berbeda dengan kebiasaan — cinta seakan hal yang pelik, ajaib. Lebih ajaib lagi adalah ketika ia dibalas.

Cinta saya dibalas dengan satu kalimat: "Natalia sayang, terima kasih kata-katamu yang manis. Leonard Cohen."

Saya berkali-kali menulis kembali kalimat itu, meniru bentuk huruf tulisan tangannya. Dia membuat seorang gadis kecil dari Polandia merasa sangat istimewa. Dia pasti tidak paham isi surat saya. Saya  bahkan tidak percaya dia membacanya, tapi dia tahu dia dicintai.

Sejak lama saya mengaitkan cinta dengan perpisahan. Barangkali hanya perpisahan, dengan dan melalui rasa sakitnya, yang mampu membuat kita sadar bahwa kita pernah mencintai. Atau tidak.   

Dulu saya yakin "Hey, That's No Way to Say Goodbye" adalah cerita perpisahan yang unggul, kisah tentang kepergian, kematian. Baru belakangan, ketika pertama kali saya tonton rekaman lama Cohen, yang membawakan lagu itu berasama Julie Felix, saya mulai melihatnya sebagai lagu cinta.

Jika tidak ada kata untuk berpisah, mungkin perpisahan, seperti cinta, juga kurang benar. Tapi untuk cinta ada kata, kata-kata yang manis dan memalukan. Perpisahan tidak memalukan karena ketiaadan kata-kata itu, tapi dia menyakitkan. Nyerinya melampaui dan melumpuhkan semua rasa lain, bahkan rasa malu yang paling tinggi.  

Ketika perpisahan melembabkan mata dengan kesedihan, "selamat pergi" tidak mungkin ada. Hendaknya kita cukup mencintai untuk tetap bisa mengucapkan "terima kasih kau pernah datang." Terima kasih kau pernah istimewa.