Life is a tragedy when seen in close-up, but a comedy in long-shot (Sir Charlie Chaplin - English filmmaker)

Bahkan gelandangan, kaum terhormat, penyair, cerdik pandai, pemimpi, juga para penyendiri butuh romansa dan petualangan. Tapi apa yang mendorong seorang komedian film bisu memutuskan tetirah ke kota kecil di Nusantara ini.

Moii. Apakah karena sang ratu yang juga pernah dibuat kagum pada kota ini. Tengok saja, air terjun menumbuk panggul rimbun gunung-gunung, batu-batu pejal meletupkan kepulan air hangat, bukit-bukit kebun teh mencelat jauh. Sungai cantik meliuk agung jauh bermuara ke utara. Siapa tak butuh aku dan keindahanku? Seolah tanyanya.

Jika cinta bersandar pada keindahan, wajar jika kota ini begitu mengesankan bagi Sang Ratu. Dan menginspirasi tokoh komedian miliuner sederhana. Moii indie begitu lengkapnya, menurut sejarawan Fadly Rahman adalah konsep kaum kolonial untung menggambarkan alam dan masyarakat Hindia Belanda yang elok, tenang, juga menawan.

Sang ratu tak lain adalah Wilhelmina Pauline. Lalu, berabad setelahnya kemolekan kota ampuh menarik pelawak kaliber dunia, Charlie Chaplin, jauh-jauh dari Inggris. Bahkan di suatu pagi di halaman Hotel Ngamplang Chaplin bergumam: “In the morning we found the hotel had a beautiful view over the mountains and valleys.” Inilah Zwitsers van Java. Swiss-nya Jawa.

Saya berdiri di Stasiun Cibatu. Persis di mana Charlie Chaplin berdiri waktu itu. Lengang, kusam dan renta, itulah gambaran tentang stasiun ini. Lamat-lamat Gunung Guntur di barat. Lamat-lamat juga teman dari Leles menyembul. Perawakannya tak serupa si komedian, kumis petaknya pun baru tumbuh. Dengan senyumnya ia membawa saya ke situ di Situ Cangkuang di mana deretan rakit bambu tertambat menunggu.  

Desa dan Situ Cangkuang adalah manifes dari toleransi. Di tengah danau berdiri Candi Hindu yang persis bersisian dengan makam Islam. Di sana disemayamkan Arief Muhammad yang tak lain adalah leluhur pendiri Kampung Pulo. Pada hari tertentu, warga Kampung Pulo memiliki ritual memandikan benda pusaka.

Kampung Pulo sendiri merupakan kampung adat misterius yang memiliki tradisi unik. Di kampung ini hanya ada enam buah rumah dan satu tempat ibadah. Sudah menjadi ketentuan adat jumlah rumah dan kepala keluarga itu harus enam. Lalu, bagaimana mereka beregenerasi?  

Redup. Sore dan dingin memberi kabar Situ Cangkuang mulai tutup. Kami bergegas balik ke Leles. Malam, rintik hujan bercerita di luar jendela. Saya memeluk Dutch wife. Istri Belanda merujuk istilah kolonial untuk guling yang tidak ditemukan dalam budayanya. Memeluk “istri belanda” membuatku lebih tenang dan nyenyak. Jika tak tergerak melihat Garut pagi menyeruak rasanya ingin memeluknya tak henti-henti.

Apa yang kurang dari indahnya Garut pagi. Sementara surya pelan menyala, di ubun-ubun gunung kabut remang menghijab; Guntur, Papandayan, Cikuray, juga Haruman. Kami pun memecah dingin membelah jalan menuju Cisurupan, lebih kurang 30 kilo dari pusat kota. Terus melecut ke Papandayan.

Ada sesuatu yang kerap mencemaskan saat mengunjungi beberapa destinasi di Tanah Air. Infrastuktur jalan yang buruk dan sampah yang bertaburan. Padahal jelas-jelas bobroknya infrastruktur dan fasilitas pendukung lain, misal toilet yang super jorok, akan menurunkan angka kunjungan ke destinasi bersangkutan. Kenyataan ini juga menujukkan tata kelola destinasi yang mencurigakan.

Entah apa yang telah dan sedang terjadi di kota santri ini. Anugerah alam luar biasa rupawan berbanding terbalik dengan infrastruktur yang celaka bukan kepalang. Jalan aspal tipis berlubang rawan terkilir. Saya sangka jalan ini ditaburi aspal sekali-kalinya di era Orde Baru di mana pembangunan adalah hadiah bagi pencoblos Golkar.

Berada di ketinggian 2665 mdpl, Gunung Papandayan adalah partikel agung inspirasi bagi banyak puisi. Juga “Bianglala di Plateau Sunda 1980-an” punya Remy Sylado. Untuk tiba di puncak saya melewati Tebing Sunrise, kawah, hingga hutan mati. Hutan mati buah dari letusan Gunung Papandayan ratusan tahun silam. Ia dianggap bagian tereksotis dari Gunung Papandayan, sejauh penglihatan pohon-pohon suagi kering ranggas dan menghitam. Mati.

Melewati hutan mati, saya biarkan ufuk meredup dan kaki berhenti di Pondok Saladah. Setelah tenda didirikan, puisi itu mengiang: “...kutembangkan asmarandana bagi namamu. Tapi Citarum yang menumpang di Dayeuhkolot, meninggalkan celah Papandayan dan Malabar, saban penghujan menyuruhku berjaga-jaga...”

Saya pun terjaga di luar tenda, hingga sepi malam tekun memanggil. Waktu kecil malam dan gelap adalah akar semua kengerian. Kini kengerian itu tak kenal malam atau siang; gelap atau terang. Kengerian itu hidup.

Nasihat Kuntowijoyo: pandanglah bintang-bintang atau dengarkan rumpun bambu atau tanah yang bernyanyi. Itulah bila kau ingin melihat kehidupan. Tapi saya tak peduli. Hingga seorang yang mengaku tersesat menghampiri.

Ia dekat sejengkal jari. Dan setengah berbisik bercerita tentang pengalaman mistisnya mendaki satu gunung di Garut juga. “Saya pernah mengalami hal serupa, bahkan makhluk itu menampakkan diri depan mata.” Begitu ujarku tanpa mengerling raut muka lawan bicara. Dan memang gelap. Waktu itu, jam tiga pagi. Lanjutku. Saat saya bersiap qiamu lail di mushola tua di Jatinangor. Dulu sekali. Kini aktivitas itu tak menggairahkan lagi.