2018 telah usai, kini saatnya membuka lembaran baru ditahun 2019. Semua orang mulai membuat resolusi yang baru ditahun yang baru pula. Tidak sedikit orang yang mengingat bahwa tahun ini juga akan diadakan pemilu.

Pemilu merupakan singkatan dari pemilihan umum yaitu kegiatan atau proses memilih orang untuk mengisi jabatan jabatan politik tertentu. Contohnya seperti presiden dan para wakil rakyat yang lainnya.

Pemilu di Indonesia mulai diadakan pada tahun 1955. Pemilu pertama di Indonesia merupakan pemilu untuk memilih DPR. Para wakil rakyat yang telah dipilih biasanya menduduki jabtan selama 5 tahun.

Hasil pemilu diputuskan berdasarkan vote terbanyak terhadap calon wakil rakyat. Rakyat yang boleh mengikuti pemilu harus memenuhi syarat syarat. Salah satunya harus berumur 17 tahun dan tentunya harus memiliki kartu tanda penduduk atau biasa disingkat KTP.

Tidak terasa 5 tahun sudah bapak Ir. H. Joko Widodo menjabat sebagai presiden republik Indonesia. Tentu bukan perkara yang mudah bagi beliau untuk memimpin negara kesatuan yang majemuk ini.

Banyak suka duka yang beliau rasakan. Mulai dari permasalahan negara, permasalahan politik, ataupun permasalahan dalam keluarga. Namun, seperti yang terlihat di televisi, beliau adalah sosok yang sabar dan tenang dalam menghadapi masalah.

Bisa dilihat dari tahun 2018 yang lalu. Tidak henti hentinya Indonesia diterjang musibah yang harus merenggut ribuan nyawa dan harta benda yang ada. Tentu sebagai pemimpin, Jokowi tidak bisa tinggal diam dan melipat tangan saja.

Sebenarnya beliau bisa saja memerintahkan para wakil rakyat yang lain untuk mengurus hal hal yang terjadi. Namun, apa yang beliau lakukan? Beliau mau turun tangan dan terjun langsung ke lokasi yang tertimpa bencana.

Contohnya, pada waktu penutupan Asian Games, Jokowi rela tidak menghadirinya, beliau lebih memilih untuk berada di Lombok. Beliau melihat langsung keadaan masyarakat Lombok yang terkena musibah gempa bumi.

Beliau memberikan bantuan dan menghibur masyarakat Lombok. Tidak berhenti hanya disitu. Palu kembali diguncang gempa bumi dan tsunami yang merenggut ratusan bahkan ribuan nyawa. Bapak Jokowi tidak tinggal diam tentunya.

Beliau kembali mengunjungi Palu yang terkena dampak bencana gempa bumi dan tsunami. Belum lagi masalah masalah negara yang harus diselesaikannya. Tsunami kembali menyapa masyarakat daerah Banten.

Mungkin, jika kita menjadi Jokowi maka kita sudah mengeluhkan keadaan yang begitu berat kita hadapi. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Kita tidak pernah tahu masalah apa yang akan menimpa Indonesia di masa depan.

Sebagian dari kita mungkin menganggap enteng pekerjaan seorang presiden. Bahkan banyak dari kita yang mudah sekali mengeluakan kata kata yang menjatuhkan bapak Jokowi. Contohnya seperti yang viral tahun lalu yaitu #2019gantipresiden.

Pertanyaannya adalah mengapa harus diganti jika kita sudah memiliki pemimpin yang mau berjuang untuk rakyatnya? Memang belum sepenuhnya berubah keadaan Indonesia. Atau mungkin kita yang terlalu menutup diri terhadap perubahan yang sudah terjadi.

Kinerja yang dihasilkan oleh Jokowi bukan sekedar janji belaka. Namun, beliau langsung mewujudkannya. Seperti proyek jalan tol yang pernah dijanjikannya. Kini, proyek tersebut mulai dijalankan, bahkan sudah hampir terlihat hasilnya.

Baru baru ini masyarakat mengeluhkan keadaan dengan dikeluarkannya kebijakan menaikkan tarif BBM. Banyak masyarakat yang protes dan tidak sedikit pula yang mencemooh kinerja Jokowi. Bahkan sosial media pun tidak luput dari pemberitaan tersebut.

Apa harus kita melakukannya? Apa harus kita terus menerus demo bahkan mencemooh seorang presiden kita hanya untuk menurunkan harga BBM? Kita mungkin boleh merasa geram terhadap kebijakan tersebut.

Tetapi kita juga harus memahami tujuan dari kebijakan yang dilakukan oleh bapak Jokowi. Tidak ada kebijakan yang dikeluarkan hanya untuk menyusahkan rakyat Indonesia. Justru, kebijakan dinaikkannya BBM untuk membantu menyelamatkan negara Indonesia dari hutang yang membludak.

Terkadang kita terlalu sibuk mencari kesalahan orang lain, sehingga kita lupa akan tugas dan kewajiban kita sebagai warga negara. Bahkan kita tidak sadar bawa apa yang kita lakukan dapat merugikan kita sendiri.

Kita boleh saja tidak suka dengan kepribadian bapak Jokowi. Namun, kita harus tetap menghargai beliau sebagai presiden kita. Kita sebagai warga negara yang menganut sistem demokrasi harus menjunjung tinggi rasa saling menghargai untuk persatuan dan kesatuan negara kita.

Tahun boleh baru tentu sikap kita juga harus diperbarui. Yang semula kita terlalu banyak mencari cari hal buruk dari Jokowi, tetapi kini kita harus berusaha menghargainya dan cobalah untuk melihat sisi positifnya.

Pemilu sebentar lagi diadakan. Jangan sampai kita tidak menggunakan hak suara kita. Jangan pula kita salah memilih pemimpin yang akan memimpin negara kita 5 tahun kedepan. Karena pilihan kita menentukan nasib kita kelak di masa depan.

Jika kita sudah melihat kinerja yang benar benar nyata, lalu mengapa kita harus mencari janji manis yang belum tentu terkabul atau bahkan bisa saja membuat kita menangis? Jadi, mari kita memilih pemimpin yang mau bekerja untuk rakyat bukan untuk uang dan jabatan semata #2019JanganGantiPresiden.