Sekelompok nelayan di pesisir pantai tengah menyelesaikan sebuah kapal besar milik mereka. Kapal yang terbuat dari kayu ini akan melawan arus ombak untuk transportasi jasa angkut dan mencari ikan. Sehingga kayu yang digunakan harus berkualitas baik dan tidak ada kerusakan sedikitpun.

Saat hendak memasang kayu, Hawin, salah seorang nelayan, menemukan kayu yang sedikit keropos. Di dalamnya ada seekor rayap yang sedang menggerogoti kayu itu. “Ah, hanya seekor rayap saja. Tak mungkin ia bisa bertahan hidup di tengah deburan ombak dan menghabiskan kayu setebal ini,” ujarnya dalam hati. Tanpa disadari, ia telah memulai kesalahan yang akan berdampak besar pada kapal yang sedang dibuat.

Dua bulan berlalu, kapal yang didambakan oleh para nelayan ini selesai dikerjakan. Mereka sangat kagum dengan kegagahan kapal itu. Keyakinan kuat tertancap dalam hati mereka bahwa kapal itu akan tahan lama dan bisa menampung ikan lebih banyak.

Satu tahun berlalu, kapal tersebut beroperasi dengan baik. Manusia, ikan, hewan, dan barang-barang logistik sudah pernah diangkutnya. Pendapatan desa meningkat tajam seiring berjalannya waktu. Namun, di tengah kegembiraan mereka, terdengar kabar bahwa kapal tenggelam di tengah lautan. Puluhan orang tenggelam dan meninggal dunia. Bak Titanic, kapal para nelayan itu kini menjadi bangkai di dasar lautan. Ternyata kegagahan kapal tersebut sirna lantaran seekor rayap yang ‘istiqomah’ beroperasi selama satu tahun di salah satu kayu yang dipasang oleh Hawin. Seekor rayap kecil yang dipandang sebelah mata olehnya ternyata mampu merubah kehidupan banyak orang.

Dalam menjalani kehidupan, mungkin kita sering bersikap seperti Hawin, meremehkan. Baik meremehkan kebaikan yang nilainya amat kecil di mata kita, atau keburukan yang seakan tidak ada pengaruhnya. Kebiasaan mengucapkan kata ‘Saya kerjakan nanti saja, masih banyak waktu’ adalah salah satunya. Justru ketika sedang banyak waktu itulah seharusnya kita bisa menyelesaikan pekerjaan dengan lebih baik, bukan justru menunda.

Dalam bahasa Jawa kita mengenal istilah nggampangke atau menganggap mudah sebuah persoalan sehingga terkesan meremehkan. Sebuah persoalan kecil jika tidak diselesaikan dengan serius akan membesar. Pun sebaliknya, sebesar apapun masalahnya, jika diselesaikan dengan serius, tidak nggampangke, maka akan terasa ringan.

Kebiasaan Tahawun atau meremehkan sesuatu, jika dipelihara dengan tekun maka akan membawa kita kepada kehancuran. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa apabila seseorang melakukan kesalahan, maka akan meninggalkan bekas sebuah titik hitam di hatinya. Jika kemudian ia bertaubat, maka hatinya akan bersih kembali. Namun, jika ia kembali berbuat maksiat, maka titik hitam itu akan terus bertambah hingga menutupi seluruh hatinya (HR. At-Tirmidzi no. 3334). Sebagaimana larangan meremehkan keburukan, kita juga dilarang oleh Rasulullah untuk meremehkan sebuah kebaikan meskipun kecil, bahkan hanya berwajah manis kepada sesama manusia.

Tercatat dalam sejarah Islam, bahwa kekalahan kaum Muslimin dalam perang uhud tidak disebabkan oleh hal-hal yang sangat substantif, namun hanya karena terlena sekejap melihat rampasan perang, merasa sudah berada dalam posisi menang dan melihat musuh kocar-kacir. Sesederhana itu. Namun akhirnya, justru kemenangan sesaat itu berbalik menjadi musibah telak bagi kaum muslimin, bahkan Rasulullah pun mengalami cedera yang tidak ringan.

 Seandainya penyesalan datang di depan, pastilah kita enggan meremehkan berbagai persoalan yang kita hadapi. Sayangnya, penyesalan selalu datang di belakang sebagai teguran bahwa kita telah menjadi mutahawin (orang yang meremehkan) yang bersikap tahawun.