Di masa menjelang Pilpres 2019, antusiasme warga—khususnya para muballigh dan dai yang mengajak audiens memilih seorang pemimpin—didramatisir sedemikiran rupa yang jauh dari eksistensi ruh al-da’wah.

Paradigma masyarakat akhir-akhir ini dalam memilih pemimpin itu sudah terselubung dan menyatu dalam kontestasi politik, yang boleh dikata “trauma Ahok”. Agaknya mereka ogah benar kalau dipimpin sama orang non-Muslim.

Membuminya penafsiran sebagian umat Muslim untuk menolak memilih pemimpin (awliya’)—sebagaimana dalam QS al-Maidah ayat 51—terhadap non-Muslim, bagaikan besi yang sudah berkarat. Meski diusahakan untuk bersih dan kinclong kembali, besi tersebut mempunyai bekas yang sulit dihilangkan.

Larangan untuk menjadikan non-Muslim sebagai awliya’—sebagaimana penulis kutip dalam Mun’im Sirry (2013)—muncul beberapa kali dalam Alquran dengan identifikasi non-Muslim yang berbeda.

Di QS 5:51 menyebut orang Yahudi (al-yahud) dan Kristen (al-nashara) secara eksplisit. Dalam tiga kesempatan (QS 3:28; 4:139 dan 4:144), Alquran hanya menyebut non-Muslim (al-kuffar). Di tempat lain, larangan tersebut berlaku bagi “mereka yang menjadikan agamamu sebagai buah ejekan dan permainan” (QS 5:57).

Akhir-akhir ini, saya tidak sengaja menonton video YouTube dari KH Mustofa Bisri (Gus Mus)—dengan beberapa judul yang tertera—menafsirkan makna awliya’ secara berbeda daripada mufasir lain.

Di dua video yang beredar (3/08/2017 & 23/10/2018), Gus Mus mengawali diskusinya terkait makna dasar daripada awliya’ adalah wali. Namun, Gus Mus menolak bahwa awliya’ ini dimaknai sebagai pemimpin, sebagaimana mufasir lain (semisal Hamka dalam Tafsirnya Al-Azhar, jilid 3, t.t.: h. 1760).

Gus Mus mengakui bahwa makna awliya’ ini memang beragam. Dalam tafsir-tafsir konvensional, makna awliya’ bisa berarti kekasih dan pembela. Frasa ayat ba’dhuhum awliya’u ba’dh (QS 5:51; 8:73; 9:71 dan 45:19) dapat dimaknai: saya kekasih/pembela Anda dan Anda kekasih/pembela saya.

Jika pada akhirnya makna awliya’ dalam QS al-Maidah ayat 51 itu ditafsirkan sebagai larangan memilih pemimpin non-Muslim, lalu bagaimana dengan makna awliya’ dalam QS Yunus ayat 62, yang secara tersurat terdapat lafadz …awliya’ Allah..? Apakah diartikan Pemimpin Allah?

Dalam pernyataan Gus Mus tersebut, penulis berargumen, tidak seharusnya makna awliya’ di seluruh penempatan Alquran dimaknai secara terpisah; harus ada satu makna yang sesuai.

Gus Mus memaknai seluruh frasa awliya’ ini sebagai “bolo” (baca: teman seperjuangan atau sahabat). Dalam pernyataannya, beliau tidak mempunyai makna yang menurutnya lebih pas daripada “bolo”.

Bagi Gus Mus, makan awliya’ ini sering dikaitkan dalam konteks perang, seperti hadis yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah, Nabi Saw berkata:

Inna Allaha Ta’ala qala: man ‘ada li waliyyan faqad adzantuhu bi al-harbi… (sesungguhnya Allah SWT berfirman: barangsiapa yang berani memusuhi wali-wali (bolo-bolo) ku, maka Aku akan mengumumkan perang kepada mereka…)

Dalam QS al-Taubah [9] ayat 71; lafadz wa al-mu’minuna wa al-mu’minatu ba’dhuhum awliya’u ba’dh; dimaknai secara dialogis oleh Gus Mus menjadi: saya sama anda mu’min, anda dan saya sama-sama mu’min. Orang mu’min satu sama yang lain itu “bolo”. Kalau sudah “bolo”, yang ada itu adalah memerintah yang baik dan melarang yang buruk (amar ma’ruf nahi munkar).

Amar ma’ruf nahi munkar erat kaitannya dengan eksistensi berdakwah. Dalam QS al-Nahl ayat 125 (ud’u sabili rabbika bi al-hikmah wa al-mau’idzah al-hasanah…) sudah menjadi modal umum bagi para muballigh dan pendakwah siapapun.

Gus Mus mengawali diskusi ayat tersebut dengan mengotak-atik gramatika bahasa Arab. Beliau menanyakan, “yang diajak siapa?” Nggak ada, karena tidak ada maf’ul bihnya. Dalam terjemahan Quran, biasanya, ada sisipan “manusia”. Jadi, “serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu…”(terjemah Departemen Agama RI).

Bagi Gus Mus, sisipan terjemahan itu nggak perlu (pen. Mubadzir). Karena dalam ilmu sastra, yang jelas diajak itu adalah yang belum ke jalan Tuhan. Seperti halnya orang mengajak naik bis, jelas mereka hanya mengajak orang-orang yang belum naik bus.

Dakwah itu ngajak, sama seperti calo. Cuma ngajak saja, kalo yang diajak nggak mau ya sudah. Apabila ada orang yang posisinya nggak di jalan Tuhan main sikat aja—kata Gus Mus—apakah kanjeng Nabi Muhammad seperti itu? Kalau memang demikian, bukan tidak mungkin Islam hanya berhenti di zaman Nabi saja.

Gus Mus menyebut masa sekarang sudah krisis ruh al-da’wah. Peran Walisongo sudah mulai surut padam. Padahal, sistem dakwah yang dilakukan Walisongo mempunyai esensi ruh al-da’wah yang sangat tinggi melalui cara seni, budaya, dan lain-lain.

Dalam pemahaman penulis, esensi dakwah yang revolusioner, provokatif, dan jihadnya main fisik, sangat kontra-produktif bagi seorang da’i.

Ruh al-da’wah itu ngajaknya main hati dengan tidak menegasikan budaya yang plural-multikultural.

Oleh karenanya, hakikat berdakwah itu hanya mengajak kepada kebaikan menuju jalan Tuhan. Bukan malah memprovokasi secara revolusioner, harus gini dan harus gitu.

Para muballigh dan da’i hanyalah menyampaikan risalah ajaran yang kita anut secara proporsional dan tidak overdosis, apalagi suatu negara harus dilegitimasi dengan sistem agama tertentu.

Ini berbahaya bagi kemajemukan bangsa yang heterogen dengan budaya plural-multikultural. Dan untuk itu, berdakwahlah secara manusiawi tanpa membawa-bawa unsur yang dapat memecah kemajemukan bangsa.