Di tengah derasnya arus kemajuan teknologi dan informasi, ada satu persoalan yang sering menjadi biang kerok munculnya berbagai masalah umat manusia dewasa ini, yakni terkait bagaimana menerima dan mengeluarkan suatu informasi.

Kemajuan teknologi dan informasi yang sedemikian canggih membuat setiap informasi menyebar ke seluruh penjuru dunia dalam hitungan detik, dengan berbagai latar belakang informasi dan tujuan informasi tersebut disampaikan.

Tak dapat dielakkan bahwa saat ini kita tengah berada dalam era Post-Truth (pasca-kebenaran), yakni situasi masyarakat yang menyerap informasi berdasarkan kepercayaan semata, bukan lagi berdasarkan fakta atau kebenaran, yang dalam hal ini rasionalitas mulai tersingkirkan oleh emosional.

Era ini ditandai oleh masifnya penyebaran hoaks melalui media sosial di tengah masyarakat. Robert Nares, seorang filolog Inggris, mengatakan bahwa hoaks berasal dari kata ‘hocus’ yang artinya ‘menipu’, kependekan dari kata ‘hocus-pocus’ yang sering digunakan oleh pesulap dalam dunia hiburan pada abad ke-18.

Penyebaran hoaks ini bisa terjadi karena sifat media sosial yang sangat cepat dan mudah dibagikan (share) serta kurang pedulinya warga internet (netizen) dalam mencari kebenaran dari suatu informasi yang disebarkan.

Fenomena yang terjadi sebagaimana yang kita saksikan, jika ada informasi tema yang menyinggung pihak tertentu, kemudian disebarkan ke dalam kelompok yang tertarik akan hal tersebut, maka informasi akan menyebar dan meluas dengan cepat (viral) karena pengguna media sosial sangat menyukai berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama, yang oleh Simeon Yates disebut sebagai "fenomena gelembung".

Keberadaan suatu informasi atau berita hoaks yang sedemikian masifnya seakan menjadi suatu fenomena yang seksi. Ibarat makanan yang tidak kita sukai, mau dimakan tidak enak tapi dibuang sayang.

Namun, menyadari keberadaan demikian, kita sebagai umat manusia, terutama umat muslim, diwajibkan untuk melawan hoaks, yang salah satunya ialah dengan ber-tabayun atau cek-ricek mencari kebenaran suatu informasi sebelum disebarluaskan, yang oleh penulis mengistilahkan "tabayun sebagai mesin penangkal hoaks".

Tabayun merupakan tradisi ajaran Islam yang dapat menjadi solusi dari zaman ke zaman yang sampai saat ini masih sangat relevan. Terutama bagi informasi-informasi atau berita-berita hoaks yang sangat berpotensi memunculkan konflik dalam masyarakat. 

Metode tabayun merupakan proses klarifikasi sekaligus analisis atas informasi dan situasi serta problem yang dialami umat dewasa ini. Harapannya adalah agar mendapatkan hasil kesimpulan informasi yang lebih bijak, arif, dan lebih tepat sesuai dengan keadaan masyarakat sekitarnya.

Mengingat saat ini, kita tengah menyaksikan ada banyak dan beragam konflik yang muncul karena manajeman dalam menerima dan memberi informasi tidak dikelola dengan cara yang baik, khususnya di media sosial. Baik dari kalangan masyarakat awam dari pelosok desa hingga kaum terdidik di perkotaan.

Meskipun adanya kemungkinan menghilangkan informasi hoaks di era digital saat ini sangatlah sulit, namun setidaknya dengan ber-tabayun kita bisa menjadi salah satu yang mengurangi penyebaran hoaks yang sampai saat ini makin melanglangbuana ke permukaan melalui akun media sosial dan sebagainya.

Kesadaran adalah hal yang utama yang mesti ditumbuhkan dalam diri setiap muslim. Bahwasanya Islam sebenarnya telah memiliki doktrin yang ketat dalam menangkal hoaks, yang dalam hal ini Allah swt memerintahkan kepada kaum mukminin untuk meneliti dan menginformasi suatu berita yang datang kepadanya. Khususnya ketika berita itu datang dari orang yang fasik. (QS. Al-Hujurat: 6).

Ayat tersebut mengandung makna yang sangat jelas, yang menyebutkan keharusan adanya sikap ber-tabayun terhadap suatu informasi atau berita yang datang dari pemahaman atau cara berpikir seseorang yang fasik, serta menyiratkan pula adanya proses tindak lanjut terhadap keberadaan suatu informasi yang belum diketahui, agar dapat diketahui secara benar dan jelas.

Jika kita bersandar pada QS. Al-Hujarat ayat 6 ini, Allah swt meminta kita untuk berhati-hati, tidak gegabah dalam menerima apalagi menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya. Tujuannya agar kita tidak terjebak dalam menyebarkan berita hoaks, apalagi sampai membuat hoaks atau berita palsu yang hanya akan memicu disharmoni sosial yang tak berkesudahan.

Dalam hal ini, kita diingatkan oleh Rasulullah saw melalui sabdanya, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam”. (HR. Bukhari dan Muslim). Semoga kita termasuk orang-orang yang dilindungi oleh Allah swt dari informasi yang belum pasti kebenarannya.