Systematic chaos bukanlah kata yang asing di telinga saya. Sebuah album dari band progresif metal Dream Theater. Saya sering mendengarkan lagu yang ada didalam album tersebut. Tapi, saya tidak akan membahas soal musik, tapi politik.

Systematic chaos yang bisa diartikan kekacauan yang teratur, logis, dan terancana. Suasana politik akhir-akhir ini kacau, dan itu sistematik. Bukan hanya akhir-akhir ini, tapi juga diwaktu sebelumnya. Kekacauan politik itu sudah diatur alias "by design".

Akhir-akhir ini kekacauan politik rata-rata berhubungan erat dengan agama. Bisa disebut mempolitisir agama. Kita kembali ke zaman awal mula kemerdekaan. Sejak awal negara ini merdeka, tidak sedikit elit politik ingin membuat negara ini menjadi negara agama.

Salah satunya adalah DI/TII, kita tahu salah satu pentholannya adalah Kartosuwiryo. Di mana dia melakukan pengumpulan massa menggunakan basis agamanya, seletah basis massa terkumpul dia melakukan pemberontakan. Apa tujuan pemberontakan ini? Tentunya untuk memperoleh kedudukan politik tertinggi, yaitu Presiden.

Kita akan jalan-jalan keluar negeri, Timteng tepatnya. Dimana kita tau, disana ada organisasi radikal bernama ISIS. Kita sama tau bahwa ISIS mengakui diri mereka adalah pejuang agama. Mereka ada untuk menegakan agamanya. Tapi kenapa mereka palah bikin kacau situasi politik dan stabilitas regional dimana daerah tersebut mayoritas dari agama yang diakui oleh ISIS.

Lalu apakah ISIS ini sebenarnya? ISIS adalah suatu alat yang diciptkan, menggunakan jubah agama tertentu. Yang bertujuan untuk membuat kacau secara politik dengan melakukan pemberontakan kepada penguasa. Jubah agama dibuat untuk menarik banyak massa. Semakin banyak massa, semakin kuat dan semakin mudah mereka mengguasai daerah tersebut. Terus siapa yang untung? Tentunya pembuat ISIS itu sendiri.

Sekarang kita bahas lagi situasi dalam negeri. Politisir agama kembali jelas terlihat pasca reformasi. Dimana saat itu Bu Mega yang jadi sasaran. Mereka menggunakan agama untuk menghalangi Mega menjadi Presiden mengantikan Gus Dur.

Mereka mengatakan bahwa haram wanita itu menjadi pemimpin. Tetapi kenapa Mega bisa jadi Wapres mendampingi Gus Dur? Wapres kan juga pemimpin. Terus apakah negara ini dalam memilih suatu pemimpin menggunakan hukum agama? Tentu tidak, tetapi mengunakan aturan perundangan yang jelas. Tentu saja akhirnya Mega jadi Presiden.

Beberapa tahun yang lalu. Lagi-lagi politisir agama terjadi lagi. Saat Pak Jokowi maju menjadi cagub DKI. Di mana Wakil Walikota Solo berasal dari agama minoritas. Keluar kata-kata sakti. Di mana umat minoritas DILARANG jadi pempimpin. Kenapa waktu jadi Wakil Walikota kok kalian diam saja.

Ini kan jadi aneh. Dan terulang lagi ketika Jokowi selaku Gubernur DKI maju jadi Capres. Dan wakilnya yaitu Ahok menjadi Gubernur. Dan lagi-lagi terulamg lagi kasus yang sama di mana sang petahana maju lagi di pilkada.

Politisir lagi hingga terjadi kekacauan seperti sekarang di mana agama menjadi hal paling mudah untuk menggalang massa. Sangat mudah sekali bukan? Di mana kasus yang sudah ditanggani oleh pihak kepolisian dan mereka belum puas kalau keinginan mereka belum terpenuhi? Yaitu gagalnya sang petahana maju lagi. Padahal sang pentholan juga jadi terlapor kasus pencemaran Pancasila dan Proklamator.

Apakah jika sang petahana ini adalah umat mayoritas, dan diduga melakukan penghinaan terhadap agama minoritas. Akankah kalian sebagai agama mayoritas akan turun kejalan seperti yang akan kalian lakukan besuk?

Apakah kalian yang turun kejalan besuk benar-benar paham betul permasalahannya? Ataukah anda juga jadi bebek yang hanya ikut-ikutan saja? Atau jangan-jangan kalian dibayar untuk aksi besuk? Apakah kalian tak berpikir bahwa yang kalian lakukan itu sarat ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu yang akan menghancurkan negara ini? Apakah kalian yang mayoritas tak pernah menghina minoritas? Tak pernah menyakiti minoritas?

Mari kita merenung. Jangan sampai negara kita ini menjadi Suriah berikutnya.