Sembilan tahun terasa bagaikan interferensi cahaya pada interferometer, sehingga jarak yang memisahkan kita selama ini menghasilkan interferensi konstruktif dan interferensi deduktif. kita berdua bagaikan dua gelombang cahaya yang berpaduan, sehingga dapat menghasilkan cahaya yang sangat terang dan kegelapan.

Aku kembali bermain dengan kenangan disaat kau mengulurkan tanganmu padaku. Kau hadir dengan gelombang cahaya yang menyinari kegelapanku saat itu. Aku langsung tersadar dari kegelapan, bagaikan kecepatan cahaya menerangi setiap sudut ruangan.

Ketika kau kembali menerangi kehidupanku yang sebelumnya gelap, kucoba untuk menulis beberapa surat untukmu, tapi aku masih saja menjadi pengecut dan tak berani sampaikan padamu.

Untuk Perawat Gila

Selamat pagi cantik yang tinggal di kawasan kekurangan listrik, saat ini tepat pukul 05:30, sepertinya kau masih tertidur di balik selimut. 

Pagi ini aku teringat padamu dan sengaja kukirim beberapa kalimat untuk memberimu semangat disaat kau terbangun nanti.

Jika nanti kau tersadar dengan cahaya mentari, jangan lupa untuk ucapkan syukur pada Sang Pemilik Fajar. 

Jika berbicara tentang mentari dipagi hari, aku teringat pada hari jumat pagi, saat aku ungkapkan perasaanku padamu yang merupakan awal dari hubungan kita. 

Sekarang kita memang tak memiliki hubungan lagi, tapi izinkan aku untuk mengingat kembali setiap kepingan kenangan disaat kita masih bersama.

Kenangan kita saat itu tak mungkin kulupakan, apalagi sifatmu yang selalu kuingat. Kadang kau pendiam dan kadang juga kau cerewet. karena terlalu pendiam, jika saat marah kau selalu diam bagaikan patung. Karena terlalu cerewet, kau yang selalu memulai percakapan terlebih dahulu dan yang mengakhiri percakapan kita.

Hai cantik, yang dulu pernah aku panggil dengan kata "Sayang". Sekarang kau telah tambah dewasa dan tambah cantik dengan tahi lalat kecil pada bagian atas bibirmu. Tidak terasa kau bukan anak SMA lagi seperti dahulu saat kita masih bersama.

kini kau merupakan seorang sarjana keperawatan. Setelah percakapan kita beberapa hari lalu, aku mengambil kesimpulan bahwa kau adalah perawat gila. Kalau kau sudah terbangun dari tidurmu, jangan lupa minum obat agar otakmu bisa sedikit waras.

Jumat pagi pernah menjadi hari yang spesial untuk kita berdua. Pagi yang mengajarkanku untuk berani mengungkapkan rasa padamu. Sekarang tepat pada jumat pagi, aku ingin terbang bersama dengan semua kenangan kita dulu.

Cepatlah bangun! Bangunkan dirimu agar sadar bahwa kau adalah perawat gila yang butuh obat agar kembali waras.

Cepatlah sadar! Sadarkan dirimu bahwa februari yang akan datang, kita masih bisa kembali bersama.

Untuk mengakhiri tulisanku di pagi ini, aku ingin ingatkan kembali bahwa nanti sore kita punya janji untuk bertemu. Oleh karena itu cepatlah bangun dan sambut pagi dengan obat waras, supaya kau tidak lupa akan janji kita hari ini.

Salam manis untukmu wahai perawat gila yang tinggal di kawasan kekurangan listrik.

Itu adalah surat yang kutulis dihari pertama kau kembali mengisi hariku. Ingin kusampaikan padamu, betapa bahagianya diriku disaat kau kembali, tapi surat itu hanya kutulis tanpa kusampaikan padamu.

Kepada: Yang Aku Perjuangankan

Boleh aku minta waktumu sedikit?
Kau tahu? Aku sangat senang bisa bertemu kembali denganmu, hatiku juga terasa tenang dan nyaman saat bersamamu. 

Sekian lama perpisahan kita, akhirnya bisa terobati dengan pertemuan itu. Aku harus jujur bahwa saat itu kau terlihat cantik, tapi aku merasa tak pantas lagi untuk memujimu.

Aku teringat pada kesalahanku sebelumnya, yang meninggalkanmu demi egoku. Kau juga harus tahu bahwa aku tidak meninggalkanmu sepenuhnya, aku selalu melihatmu dari kejauhan.

Apakah kau akan memaafkan semua tindakanku saat itu?

Ketika aku ingat kesalahan yang kulakukan sebelumnya, rasanya bagaikan air laut yang masuk ke dalam hidung. Sehingga membuat kepalaku terasa sakit dan pedih, serta badanku yang terasa lemah dan tak berdaya. 

Sungguh, aku menyesali tindakanku saat itu. Aku merasa tak pantas lagi untukmu, karena kesalahanku dulu yang telah meninggalkanmu demi egoku.

Mungkin aku hanya lelaki sederhana yang tak bisa menjadi pangeran tampan dan kaya seperti impianmu, tapi aku akan selalu berusaha untuk membuatmu bahagia di dunia dan di akhirat nanti.

Mungkin kau telah lewati banyak kesan dengan lelaki lain setelah aku, tapi aku masih memiliki rasa yang sama padamu dan berharap kau akan berikan kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahanku sebelumnya.

Rasa nyaman dan tenang saat bersamamu, memicu hormon endorfin yang diproduksi oleh kelenjar pituari dan syaraf pusat dikepalaku. Sehingga memberikanku energi positif yang membuatku ingin memilikimu kembali. Aku pun selalu berusaha untuk menahan energi tersebut, sehingga hanya kutuang dalam tulisan surat yang tak pernah kusampaikan padamu.

Kepada: Gadis Penunggu Takdir

Assalamu'alaikum.

Hai gadis penunggu takdir, bagaimana kabarmu sekarang? Apakah kau sudah temukan takdir yang kau tunggu? Padahal aku disini adalah takdirmu, hehehe becanda.

Mungkin saat ini kau masih merasakan sakit dari luka kehidupan yang kau katakan bernana dan membuatmu trauma. Sehingga kau putuskan untuk menunggu takdir. 

Kau mungkin masih merasakan pedihnya hidup yang pernah kau alami, tapi itulah estetika hidup.

Hai gadis penunggu takdir, kau terlihat tak lelah dalam menunggu, senyum yang kau berikan seperti menyimpan rasa yang kau sembunyikan. 

Kau memberikan kesempatan kepada semua lelaki untuk mendekatimu, tapi kau tak pernah berani memilih salah satu dari mereka.

Hai gadis penunggu takdir, janganlah hanya menyimpan rasa sakit dari luka itu, tapi kau harus merawatnya agar luka itu hilang. Sudah saatnya kau bangkit dan mengobati rasa sakit yang kau simpan, aku disini akan siap membantu disetiap proses penyembuhan luka itu.

Berhentilah! Berhentilah menjaga lukamu itu.

Hai gadis penunggu takdir, bagaimana kau bisa menunggu takdirmu dengan cara masih menyimpan luka yang bernana. 

Aku mungkin bukan takdirmu, tapi aku meminta kesempatan padamu untuk mengizinkanku menjadi penyembuh lukamu.

Salam manis untukmu, semoga kau siap untuk menyembuhkan luka bernana itu.

Aku bukanlah seorang fisikawan yang pandai tentang teori Fisika Kuantum, sehingga bisa menembus ruang dan waktu melalui kecepatan dan getaran yang kurasakan ketika bersamamu.

Aku ingin sekali menyerap energi dan gelombang kuantum itu, untuk pergi kemasa depan. Sehingga bisa melihat takdirku dan takdirmu nanti.

Kepada: Wanita Rebutan Para Lelaki

Hai sang juara, apa kabar? Iya, kau yang menerima surat ini, yang pernah menjadi sang juara hatiku. 

Maaf mengganggu aktifitasmu hari ini, aku hanya ingin meminta sedikit waktumu untuk membaca tulisanku, yang mungkin tidak terlalu penting bagimu.

Aku tahu sekarang kau telah bahagia dengan pilihanmu, yang merupakan sosok terbaik yang kau impikan. 

Aku tahu begitu banyak lelaki yang mengagumi dirimu, tapi maafkan aku yang telah mundur dalam memperjuangkanmu demi kebahagiaanmu.

Aku mundur demi memberikanmu kebebasan dan kemudahan untukmu memilih. 

Akhirnya kau telah membuat sebuah pilihan dan tampak bahagia. Kusampaikan salam untukmu dan pilihanmu agar selalu mendapatkan Ridha-Nya.

Semoga pilihanmu bisa menjadi seperti yang kau inginkan. Siap di manapun dan kapanpun untuk menjagamu, selalu siap sedia saat kau susah dan senang, sedih dan gembira, serta berada di sampingmu saat kau sakit seperti yang pernah kau ceritakan.

Keikhlasan dalam melepasmu merupakan puncak perjuanganku padamu, dan itu adalah akhir dari kisah kita.

Sekarang kau telah bebas dan bahagia bersama pilihanmu, begitu juga denganku yang telah bebas bersama sejuknya angin laut disore hari.

Beberapa kenangan kita telah terkubur di dalam pasir putih yang kini tenggelam bersama pasangnya air laut. Kenangan tentang kita telah terganti dengan merdunya suara ombak yang dinamis.

Untuk mengakhiri tulisan ini, dengan senyum yang ikhlas bersama cerahnya langit dan mentari disore hari, kusampaikan salam untukmu agar selalu bahagia dengan pilihanmu.

Sekarang aku akan terbang mengikuti arus angin yang tak beraturan, hingga kutemukan seseorang yang telah menungguku.

Itu adalah surat terakhir yang kutulis dan belum berani kuberikan padamu. Aku mencoba ikhlas menerima apa yang telah ditetapkan oleh Sang Pemilik Takdir. Aku hanya berharap memiliki sifat-sifat cahaya yang dapat dijelaskan dengan teori partikel, berharap setiap gerakku terletak dalam kerangka ruang dan waktu yang relatif. Sehingga dapat mengalahkan waktu yang terlihat sok tahu saat mengingatkanku tentang takdir.