Jakarta oh jakarta.. 

Entah kenapa kau suka sekali heboh oleh hal-hal yang remeh-temeh. Suka sekali heboh oleh hal-hal yang nggak penting hingga kehebohan yang kau cipakan itu kadang-kadang sampai menular ke daerah lain. Bahkan ke belahan dunia lain.

Media massamu begitu lebay hingga masalah seupil sekalipun mereka angkat ramai-ramai seakan masalah segunung. Masalah daerah yang harusnya cuma jadi konsumsi lokal di dalam rumahmu mereka angkat seakan-akan masalah nasional. Akhirnya yang mengelami perpecahan bukan hanya penduduk lokal tapi juga penduduk satu negeri. Lebay sekali.

Jika mereka memang tidak punya bahan untuk menulis berita penting, coba mereka suruh ke daerah-daerah agar meraka tahu bahwa di daerah lain masih banyak hal lebih penting untuk diangkat. masih banyak daerah yang sekolahnya hampair ambruk, masih banyak jalan rusak, masih banyak daerah yang belum teraliri listrik dan itu adalah masalah yang sangat penting untuk diangkat. Bukan masalah receh yang ujung-ujungnya hanya menimbulkan perpecahan.

Beberapa hari ini kau sibuk membahas perempuan telanjang yang berjalan di tempat umum. Kau rekam lalu kau edarkan videonya di media sosial dan kau kutuk perempuan itu ramai-ramai. Jika kau peduli, kenapa tidak kau ambilkan kain lalu kau kasih pada wanita malang itu untuk menutupi tubunya. Bukan malah kau rekam. Norak sekali kau.

Saya yang orang kampung tinggal di bali hampir tiap saat melihat orang telanjang. Bukan hanya di pantai tapi kadang di tempat umum juga. Kadang juga saya lihat turis hampir telanjang sambil naik motor. Tapi kami orang daerah tidak senorak kau. Jika tidak suka kami cuek saja. Jika suka ya silahkan dilihat. Tapi kami tidak pernah merekam. Jika telanjang itu adalah sebuah dosa, kami pantang mengabadikan dan menyebarkan dosa orang.

Beberapa bulan lalu kau heboh sekali dengan salju yang katanya ada di sebuah jalan di jakarta. Ku kira benar itu salju. Tapi ternyata itu adalah busa hasil pecucian jalan yang baru selesai dibangun. Sudah jelas-jelas itu busa, masih saja kau bahas terus menerus selama tujuh hari tujuh malam. Saya tak habis pikir bagaimana bisa hal-hal seperti itu bisa membuat sangat heboh. Aneh sekali kau.

Saya masih ingat dulu tetanggamu, Kota Bekasi kau bully habis-habisan dengan sebutan 'Kota Dari Planet Lain'. Kau ketawa terbahak-bahak dibalik kesedihan Bekasi. Tapi kini, tim sepakbolamu yang tidak pernah punya prestasi dan stadion itu malah bermain di Bekasi . Di stadion megah pariot yang dulu kau sebut kota planet lain. Tak malukah kau bermain di planet lain?

Sejak dahulu, saya tidak pernah mendengar kau punya prestasi selain yang selalu disebut oleh semua orang: macet, bising, banjir, tawuran, begal dan lain-lain. Waktu itu kami sampai bosan tentang berita kau selalu dilanda banjir tiap hujan. Ya tiap hujan bukan tiap tahun. Barangkali hanya kau ibu kota di dunia ini yang paling sering banjir. Pemimpin kau waktu itu hanya sibuk berkeliling naik perahu seperti tak ada solusi jangka panjang untuk menyelesaikannya. Mungkin pikirannya sudah buntu.

Kini, saat kau dipimpin oleh orang yang bergelimang prestasi, kau malah lengserkan dia dengan sangat kejam. Kami yang inggal di daerah begitu kagum pada pemimpinmu itu. Kami iri. Bahkan kami bermimpi suatu saat akan memiliki pemimpin seperti pemimpinmu yang cina itu di daerah kami. Kami pernah melihatnya dia memeluk piala hasil kerja kerasnya. Saking banyaknya piala yang dia dapatkan sampai-sampai dia kesulitan saat memeluk piala itu. Kami yang di daerah ikut bangga karena kau adalah ibukota negara ini.

Kini, orang yang memberikan segalanya untukmu, memberikan jiwa dan raganya malah kau jebloskan ke penjara dengan alasan yang mengada-ngada, menista agama katanya. Jika benar dia menista agama, bagaimana mungkin dia membangun masjid yang begitu megahnya. Jika dia benar banci islam, bagaimana mungkin dia punya saudara dan orang tua angkat muslim. Jika benar dia benci muslim bagaimana mungkin mungkin dia memberangkatkan umroh ribuan orang. Jika benar dia musuh islam bagaimana mungkin dia menutup diskotik dan tempat prostitusi terbesar yang tempat-tempat itu jelas-jelas dilarang oleh islam. 

Tapi kini kami tahu, kenapa kau berbuat begitu. Kami tahu kenapa kau malah menjebloskan pemimpin kafirmu yang tulus dan penuh prestasi itu ke penjara dengan sangat kejam. Tak lain dan tak bukan karena kau tak bisa lepas dari masa lalu, kau tak bisa move on dari masa dimana kerewetan birokrasi, banjir, macet, tawuran, korupsi dan segala kesembrautan lain sudah mendarah daging dalam dirimu. Sudah menjadi mentalmu. Dan sudah terpatri dalam otakmu hingga kau tak lepas dari itu semua. Kau sudah terlanjur menikmati  semua kebobrokan itu hingga kau tak bisa lepas darinya.

Tahukan kau, kadang kami di daerah ada ribut-ribut kecil akibat keributan yang selalu kau bagikan pada kami. Kami seakan dipaksa untuk turut ikut campur atas permasalahn yang terjadi dalam rumahmu. Jika ada satu tetangga yang tiap hari kerjaanya selalu ribut, maka hal wajar jika tetangga lain ikut bersuara. Tapi ribut-ribut kami kecil sekali karena kami ya memang lebih dewasa daripada kau.

Kadang saya birpikir, kenapa kami orang daerah harus tahu urusan nggak pentingmu itu. Kenapa kami harus menikmati urusan remehmu yang kadang kau bungkus seperti sinetron itu. Apa urusannya dengan kami hingga kau sebar semua itu ke berbagai daerah dan ke penjuru dunia. Jika alasannya karena kau adalah ibukota negara, maka seharusnya kau memberi kami contoh yang baik. Bukan contoh murahan seperti itu.

Maka tak benar jika ada orang yang bilang bangsa ini mengalami perpecahan. Itu hanya omong-kosong. Buktinya kami orang daerah masih fine-fine aja. Kami masih beribadah dan beraktivitas seperti biasa. Toleransi masih kami junjung tinggi, pancasila masih jadi pegangan kami dan NKRI masih harga mati bagi kami. Mungkin hanya kau saja yang sedang sakit.

Tolonglah, jangan semua hal kau bagi pada kami. Biarkanlah kami hanya menikmati sinetron absurd yang tiap hari kau suguhkan pada kami. Walaupun isinya susah dicerna akal sehat tapi kami masih menontonnya. Jangan kau tambah penderitaan kami oleh hal-hal lain selain sinetron absurd itu. Kami masih menyalakan TV dirumah kami yang siarannya berasal dari rumahmu. Itu sudah cukup membuat rumah kami tidak sepi. Namun jangan aku tambah dengan kegaduhan yang lain.