Surat ini akan membuat Anda bertanya-tanya tanpa memberikan Anda jawaban. Surat ini saya tulis untuk mengajak Anda berpikir ulang tentang hal yang mungkin selama ini Anda anggap hukum alam (taken for granted). Surat ini saya dedikasikan untuk para ayah dan ibu, serta calon ayah dan ibu sebagai bahan refleksi tentang bagaimana Anda memandang anak.

Anak sebagai Manusia?

Apabila saya ganti kata “manusia” pada subjudul di atas dengan “Homo sapiens sapiens” mungkin sudah tidak perlu ada perdebatan lagi. Sudah jelas, keturunan yang dihasilkan dari parental nonhibrida sesama Homo sapiens sapiens pastilah satu spesies dengan induknya. Anak adalah homo sapiens sapiens. Tetapi, apakah anak adalah manusia?

Saya akan mencoba menempatkan kata “manusia” di sini dalam arti yang sama dengan kata “manusia” pada “hak asasi manusia”. Apakah kita memberikan hak asasi manusia kepada anak? Dalam Deklarasi Universal HAM (DUHAM), disebutkan sederet hak dasar yang melekat dan tidak dapat dilepaskan dari manusia (inalienable rights).

Salah satunya adalah “setiap orang berhak atas kehidupan, kebebasan, dan keselamatan sebagai individu” (DUHAM pasal 3). Tampak bahwa manusia berhak atas 3 hal, yaitu (1) Kehidupan, (2) Kebebasan, dan (3) Keselamatan.

Saya tertarik untuk menyoroti hak butir (2). Sepengamatan saya, jauh lebih mudah bagi para orang tua untuk tidak membunuh anaknya (menjamin hak hidupnya) ketimbang membiarkan anaknya bebas (menjamin hak atas kebebasannya).

Anak bahkan tidak diberikan otonomi diri (self autonomy) yang setara dengan manusia dewasa. Beragam kebebasan dari mulai menonton film porno sampai sekedar keluar malam dibatasi dari anak, hanya karena dia anak.

Pembatasan itu bukan tanpa alasan. Katanya, anak belum siap secara mental untuk menonton film porno, karena cenderung meniru. Sekarang, bagaimana jika anak menonton tapi tidak meniru (karena ia menonton bersama dengan orang tuanya dan ia mendapatkan penjelasan mengenai apa yang ada di dalam film tersebut)? Apakah anak masih harus dilarang menonton film porno?

Selain pembatasan yang dilakukan dalam bentuk larangan, ada juga pembatasan yang dilakukan dalam bentuk kewajiban. Kebebasan untuk memilih agama dan kepercayaan, misalnya. Berapa banyak dari Anda yang memberikan kebebasan tersebut kepada anak? Sebagian besar dari Anda mungkin mewajibkan anak memilih kepercayaan yang sama dengan Anda.

Alasannya beragam. Sebagian mungkin merasa bertanggung jawab atas iman anaknya di akhirat, sebagian lagi mungkin merasa anak belum cukup rasional untuk memilih. Keduanya sama-sama aneh. Asumsikan anak Anda beragama sama seperti Anda hingga suatu hari, saat usianya 15 tahun, ia menemukan kepercayaan lain.

Anda histeris karena takut berdosa akibat ‘kemurtadan’ anak Anda. Di sisi lain, anak Anda pun histeris karena takut berdosa akibat tidak bertobat dari ‘kemurtadan’ di agama Anda. Kalau sudah begini, siapa yang lebih berhak atas jiwa anak?

Sementara itu, terkait dengan alasan kedua bahwa anak belum cukup rasional untuk memilih. Saya rasa, apabila tidak ada ketakutan akan pertanggungjawaban akhirat tadi, tentulah Anda akan memilih untuk membiarkan anak tumbuh tanpa pilihan iman hingga ia cukup rasional untuk memilihnya.

Dalam konteks anak belum rasional untuk ikut Pemilu, misalnya. Orang tua membiarkan anak untuk tidak memilih kan? Anda tidak mewakili anak Anda untuk memilih.

Itu baru menyoal anak sebagai manusia di mata orang tua di dalam keluarga, belum lagi anak sebagai manusia di mata negara dalam ruang publik. Negara dengan seasyiknya sendiri menentukan batasan terhadap anak. Karena anak tidak termasuk dalam subjek demokrasi, anak tidak dimintai pendapat ataupun hak voting terhadap kebijakan. Maka sah saja kalau saya bilang negara dengan “seasyiknya sendiri” menentukan batasan tersebut.

Virus “the knower” (merasa paling tahu segalanya) tidak hanya menjangkiti orang tua, tetapi juga negara. Semua berebut menentukan apa yang baik dan tidak baik buat anak. Enak sekali, bukan? Anda menentukan sendiri apa yang baik dan tidak baik buat anak, lalu Anda tidak perlu memberikan anak hak bertanya apalagi menyanggah.

Jadi, apakah anak adalah manusia? Lebih jauh lagi, apakah anak adalah manusia otonom? Manusia dewasa yang tidak diberikan otonomi berarti terbelenggu dalam perbudakan. Sementara manusia dewasa sibuk memperjuangkan kemerdekaan manusia dewasa baik laki-laki maupun perempuan, sedikit sekali dari mereka yang memikirkan posisi anak sebagai manusia.

Dalam konteks kekerasan dalam rumah tangga, adakah yang meminta pendapat anak? Tidak. Semua asyik sendiri menentukan bahwa ayah yang memukuli anak itu salah dan bahwa ayah harus dipenjara. Dalam konteks prostitusi anak, adakah yang meminta pendapat anak? Tidak.

NGO, orang tua, negara, dan lembaga advokasi yang berperang menentukan nasib anak. Masing-masing dengan dalilnya sendiri, tanpa memikirkan kehendak anak. Anak dikondisikan sudah pasti (1) tidak mampu berpikir rasional, (2) tidak berkapasitas memilih, dan oleh karena itu (3) tidak layak diberikan otonomi.

Orang sering berkampanye menolak eksploitasi anak. Pertanyaan saya, kapan anak tidak dieksploitasi? Ketika anak dipaksa menjadi pengamen atau menjadi buruh pabrik, ia dianggap tereksploitasi.

Ketika anak dipaksa untuk tidak menjadi pengamen atau menjadi buruh pabrik, bukankah itu eksploitasi juga? Saya rasa ada baiknya manusia dewasa membiasakan diri bertanya pada anak bukan mendikte. Anak sebagai manusia seharusnya diberikan ruang untuk memahami isu dan membangun perspektifnya sendiri terhadap isu bukan langsung digiring pada kesimpulan.

Anak sebagai Barang Investasi?

Apabila sedemikian beratnya bagi Anda untuk memosisikan anak sebagai manusia, maka saya tertarik untuk menawarkan alternatif. Mungkin akan lebih mudah bagi Anda untuk memposisikan anak sebagai barang investasi. Ya, persis seperti saat Anda membeli saham di perusahaan.

Pada mulanya, ibu menginvestasikan ovum dan ayah menginvestasikan sperma untuk menghasilkan zigot. Setelah terbentuk janin, orang tua menginvestasikan sejumlah waktu, uang, dan energi untuk merawat janin di dalam rahim hingga akhirnya anak lahir dengan selamat ke dunia. Investasi waktu, uang, dan energi terus dikucurkan selama anak bertumbuh.

Pilihan yang dipilihkan pada anak dapat kita lihat sebagai return dari investasi. Pilihan itu dipilihkan orang tua dengan pertimbangan bagaimana pilihan tersebut menguntungkan orang tua. Dari mulai agama dan kepercayaan, sekolah, jurusan kuliah, pasangan hidup, profesi kerja, dan seterusnya.

Ketika anak punya kehendak lain yang mungkin secara langsung atau tidak langsung merugikan sang investor, sudah pasti sang investor marah. Kalau mau main kasar, tinggal ancam anak dengan pemotongan bahkan pemutusan investasi.

Kalau mau main halus, tinggal pakai propaganda “orang tua selalu mau yang terbaik untuk anak” tanpa kejelasan yang terbaik itu menurut siapa atau propaganda “surga di telapak kaki orang tua” sehingga anak merasa demikian tidak berdayanya untuk berotonom atas dirinya bahkan saat ia sudah dewasa sekalipun.

Relasi investor-investasi ini kadang berlaku implisit. Namun demikian, tidak jarang juga terucapkan secara eksplisit saat orang tua marah. “20 tahun hidup kamu saya tanggung, bisa-bisanya kamu membangkang pada saya!” begitulah kira-kira bagaimana relasi tersebut diucapkan secara eksplisit. Kalau dipikir, ya relasi ini sangat wajar terbentuk.

Mana ada orang berinvestasi demikian besarnya tanpa mencari return? Lihat saja ibunya Malin, saking ruginya, sampai mengutuk investasinya jadi batu! Dapat dipahami bahwa memandang anak sebagai barang investasi sebetulnya adalah hal yang sangat manusiawi.

Mungkin di mata sebagian orang, akan terkesan sangat tidak etis apabila anak menjadi skeptis kepada orang tua. Begitulah rezim bekerja, ia membuat Anda merasa bersalah ketika Anda suuzan atau curiga kepadanya.

Karena itu, saya perlu menegaskan bahwa kekritisan yang dibangun di dalam surat ini memang secara sengaja dibuat untuk menembus batas etis itu dan mendekonstruksi nilai dan norma rezim. Akhir kata, urusan moral adalah urusan pribadi. Saya tidak dapat mengatakan bahwa cara pandang yang satu lebih bermoral atau lebih baik dari yang lain.

Bagi para calon orang tua, coba rehat sejenak dari renungan soal bagaimana membayar mahar, gaun pengantin, atau biaya persalinan. Coba renungkan ini: Bagaimana Anda akan memandang dan menyikapi anak?