Pak, perkenankan saya yang jelata ini menyampaikan sedikit keresahan hati saya sendiri dan mewakili banyak teman-teman dan saudara saya di seantero negeri. Pak, sebagai rakyat Indonesia saya sangat berterima kasih atas semua kerja keras bapak dalam membangun negeri.

Banyak sekali kemajuan yang dicapai selama 2 tahun lebih dalam kepemimpinan bapak. Bapak selalu hadir bersama rakyat saat mereka membutuhkan Bapak. Ketegasan bapak dalam pemberantasan narkoba dan korupsi sudah banyak dibuktikan. Pembangunan infrastruktur juga sudah dijalankan di seluruh negeri tanpa kecuali. Murahnya harga bensin di Papua yang disambut dengan pesta adat bakar batu juga prestasi cemerlang bapak.

Tapi, Pak, ada sebagian saudara saya yang tidak bisa menikmati kemerdekaan sampai saat ini. Bahkan keberadaan mereka seolah dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan dan mengganggu iman dan ketauhidan bagi gerombolan yang sering melakukan pembenaran dengan mengusung ayat suci Al-Qur'an.

Jujur, Pak, sering kali kami sebagai umat Islam juga merasa jengah bahkan malu dengan tingkah pola mereka. Kami takut apa yang mereka lakukan lantas di generalisir bahwa seperti itulah wajah Islam sesungguhnya, tanpa keramahan dan selalu membawa keresahan bagi umat lain.

Tidak mudah bagi kami untuk meyakinkan kepada teman kami yang sudah terlanjur apriori. Disaat kami berusaha meyakinkan bahwa kita semua adalah saudara tiba-tiba saja mereka melempar bom ke sebuah gereja. Berulang kali kejadian seperti ini terjadi pak, kami seperti melakukan pekerjaan yang sia-sia, seperti melukis di atas es. Susah payah kami meyakinkan, semudah itu mereka merusak kepercayaan yang sudah kita tanamkan.

Tolonglah kami, Pak, kami semua merasa sangat iba saat teman kami melakukan ritual keagamaan sering kali diganggu oleh ormas yang memanfaatkan nama agama.

Saya menangis pak ketika untuk beribadah saja mereka dicekam ketakutan. Saya tidak membayangkan jika itu terjadi pada diri saya, istri saya dan anak-anak saya. Jangankan untuk bertindak dan melawan, Pak, untuk bersuara saja mereka takut. Keinginan teman-teman saya sederhana sekali pak, mereka ingin beribadah dengan tenang tanpa rasa takut. Mereka tidak akan memerangi kita, mereka hanya ingin melakukan persembahan kepada Tuhannya.

Seperti halnya saya yang setiap Jumat pergi ke masjid dan ke lapangan saat tibanya hari raya. Kejam sekali ketika mereka sedang beribadah di sebuah lahan dengan menggunakan tenda karena tidak ada ijin pendirian gereja pun masih diganggu dengan bermacam tetabuhan dengan menggunakan pengeras suara. Apa salah mereka, Pak?

Saya sangat mengapresiasi ajakan bapak untuk merawat persatuan dalam kebhinekaan, tapi ajakan saja ternyata belum cukup menyadarkan kaum pembuat onar bahwa pada dasarnya memang terdapat perbedaan dari sejak bangsa ini dilahirkan. Imbauan bapak selalu saja diabaikan, bahkan seperti dilecehkan dengan aksi intimidasi dan tindak kekerasan.

Saya tahu bapak seorang penyabar, bahkan saat difitnah sebagai kafir dan keturunan PKI pun bapak tidak pernah over reaktif seperti bapak mantan. Tapi hari ini persoalan sudah beda pak, sampai kapan teman-teman saya akan dicekam ketakutan kalau bapak belum mulai melakukan tindakan?

Penderitaan mereka sudah terlalu lama, Bapak, janganlah kami yang lemah ini terseret dalam rasa bersalah karena tidak kuasa membantu mereka.

Saat gereja tak mampu mereka dirikan karena tak kuasa melawan ormas bersorban saya sedih, teman-teman saya sedih, rakyat Indonesia juga sedih tapi bapak tidak pernah hadir diantara kami, kenapa, Pak? Ketika patung Buddha diturunkan di sebuah Vihara bapak juga tak kunjung datang menyapa, bapak kenapa?

Bapak mantan yang dari dulu tidak pernah memberikan sangsi sekarang justru memanfaatkan keberadaan mereka dan dianggap sebagai kongsi. Apakah ada kepentingan dan manfaat yang bapak ambil dari eksistensi gerombolan intoleran ini? Enggak kan, Pak?

Apalah artinya kalau hasil jerih payah bapak tidak bisa dinikmati oleh semua rakyat Indonesia pak. Berapa juta orang yang hanya bisa tersenyum pahit saat bapak mengumumkan tentang pertumbuhan ekonomi di Indonesia, tentang cita-cita bapak untuk menjadikan Indonesia macan asia.

Teman saya dari Ahmadiyah, Syiah dan saudara-saudara saya lintas agama mereka pendukung kebijakan bapak, hanya bisa tersenyum, pahit bahkan berlinang airmata karena untuk beribadah saja mereka masih terkendala.

Bapak Presiden yang saya hormati, saya warga NU, Pak, walaupun keadaan kami compang-camping karena para kiai sepuh kami dibombardir dengan fitnah keji tapi kami masih sanggup bertahan, kami masih bisa memaafkan, keporo ngalah, Pak, walaupun hati kami sakit. Dan dalam sakit itu kami masih berusaha untuk melindungi teman-teman dan saudara kami yang mengalami penistaan yang sesungguhnya.

Kami ditempa untuk bisa menerima bahkan dalam kondisi yang paling menyakitkan, Pak, saat junjungan kami Kiai Abdurahman Wahid dilengserkan kami bisa menerima dengan lapang dada. Tapi sampai kapan kami jadi dijadikan martir sementara bapak hanya diam?

Kami rela walaupun nasib kami mungkin akan berakhir seperti Riyanto teman kami, gugur dengan memeluk bom saat melakukan pengamanan perayaan natal. Bukan demi bidadari surga pak, tapi demi keutuhan bangsa. Kami seperti halnya bumper mobil, Pak, kami kuat walaupun harus terlebih dahulu penyok karena melindungi penumpang.

Apa yang diucapkan oleh Kiai Said Aqil saat muktamar kemarin itu mewakili keresahan kami pak, mestinya bapak bisa merasakan itu. Bukan hanya 90 juta an warga NU yang resah, saudara-saudara saya yang berbeda keyakinan lebih resah lagi. Kalau masih kurang, saya yakin Gibran dan Kaesang pun resah, Pak. Kalau Bapak mantan tidak memiliki keresahan serupa abaikan saja pak, seperti halnya bapak mengabaikan dia selama ini, luweh, Pak, luwehkan saja!

Bapak mungkin tidak percaya di daerah yang bebas dari gerombolan pembuat onar situasinya jauh lebih tenang. Tidak ada sweeping warung makan saat bulan puasa, tidak ada diskusi atau acara bedah buku yang dibubarkan paksa. Tidak ada teriakan berbau SARA apalagi orasi dan provokasi dengan TOA.

Di saat itulah pak teman-teman kami merasa merdeka. Kalau kepala daerah saja dengan gagah berani menolak kehadiran mereka, mestinya dengan kekuasaan yang bapak miliki akan sangat mudah membubarkan bahkan menumpas mereka. Siapa saja pak tanpa memandang latar belakang etnis dan agamanya.

Jangan ragu-ragu, Pak, jangan takut, umat Islam yang waras dan teman-teman lintas agama pasti dibelakang bapak. Coba saja bapak sowan kiai kami dan meminta agar para santri turun semua ke Jakarta, Jakarta tenggelam, Pak. Karena kami yakin akan ada jutaan umat lain yang juga akan turut serta bersama kami.

Yang kemarin itu belum seberapa, hanya buih saja. Tapi saya yakin para kyai tidak mau melakukan itu, mereka umat pilihan yang terjaga lisan serta hatinya, merekalah warosatul anbiyya yang sebenarnya.

Demikian, Pak, sedikit keresahan saya, mohon maaf jika bapak tidak berkenan dengan apa yang saya katakan. Sama sekali tidak ada maksud untuk menyepelekan kemampuan bapak sebagai kepala negara. Kami hanya gelisah atas apa yang sedang terjadi, di satu sisi kami ingin sekali membantu saudara-saudara kami dari teror dan intimidasi tapi disisi lain kami juga tidak ingin menabrak konstitusi, Pak.

Dalam konteks bernegara bapaklah pelindung kami, semua warga Indonesia tanpa terkecuali. Dan hanya dengan cara ini kami bisa bersilaturahmi dengan Bapak karena kami juga tidak ingin menggangu kesibukan Bapak.

Untuk Bapak ketahui sudah berapa ratus petisi ditujukan kepada Bapak yang diajukan oleh teman-teman saya, ribuan polling disebar di media sosial, semua menghendaki supaya Bapak bertindak lebih tegas dan membubarkan ormas anti-Pancasila dan antitoleransi.

Kalaupun semua polling dan petisi tidak sempat bapak baca, semoga untuk yang satu ini bapak berkenan sejenak membacanya. Terima kasih, Bapak, semoga bapak selalu diberi kesehatan dan selalu dilindungi serta diberi petunjuk oleh Tuhan dalam memimpin negeri, amin.