Saya tak habis pikir melihat kelembagaan mahasiswa hari ini. Kelembagaan mahasiswa yang seharusnya menjadi sarana untuk menempa ilmu pengetahuan baik di bidang akademik maupun non-akademik, kini tak ubahnya menjadi organisasi yang ada di Taman kanak-kanak. Saya punya analisa kenapa saya bisa berkata demikian.

Pertama, lembaga mahasiswa hari ini hanya sibuk menjalankan program kerja. Program kerja tersebut tak jauh dari hal yang berbau event. Event memang penting dalam dunia kampus sebagai media untuk menunjang minat dan bakat mahasiswa dalam hal akademik maupun nonakademik. Akan tetapi, jika selama 1 periode kepengurusan hanya menjalankan event, lalu apa bedanya lembaga mahasiswa dengan event organizer yang hanya berorientasikan pada profit oriented?

Ada sekilas pandangan yang sarkas mengatakan bahwa event hanya melahirkan  para pekerja yang tak ubahnya seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Contoh konkretnya seperti ini, berikan tanggung jawab kepada panitia acara untuk mengkonsep dan panitia akan mencari dana sebanyak-banyaknya dengan menjual proposal dengan harapan mendapatkan dana besar. Hal seperti demikianlah yang terjadi berulang kali, bukankah anak TK juga bisa jika hal tersebut dilakukan berulang-ulang?.

Yang kedua, lembaga mahasiswa hari ini telah menjelma menjadi kumpulan badut-badut yang siap menjilat atasannya. Tentu, yang saya maksud atasan di sini ialah pihak struktural kampus, baik itu pihak Rektorat maupun Dekanat. Entah mengapa, lembaga mahasiswa menjadi perpanjangan tangan atau ounderbouw dari pihak struktural kampus. Mereka tak paham akan peran dan fungsinya yakni sebagai tokoh yang dipercaya oleh masyarakat mahasiswa untuk membawa kelembagaan lebih baik ke depannya dan menjunjung tinggi independensi.

Sekedar mengingatkan bahwa lembaga mahasiswa haruslah berpihak pada kepentingan masyarakat mahasiswa bukan hanya terjebak dalam gemuruh event hura-hura yang bersifat hedonis. Yang mana event tersebut hanya berdampak kepada anggota kelembagaan itu saja tanpa memberikan sumbangsih besar terhadap masyarakat mahasiswa.

Jikalau masih bisa untuk memperbaiki kesalahan, sudah semestinya juga lembaga mahasiswa berjuang dengan seksama untuk menuntut hak kawan-kawan mahasiswa supaya ke depannya tidak ada lagi mahasiswa yang dikorbankan oleh kebijakan struktural kampus yang tidak pro-mahasiswa.

Selama ini kita telah mendengar banyak kawan-kawan kita yang menjadi korban kebijakan seperti tidak bisa melanjutkan kuliah dan berdampak BSS (Berhenti Studi Sementara), fasilitas kampus yang tidak memadai karena tidak mampunya kampus menyediakan sarana dan prasana untuk menunjang jalannya perkuliahan. Lebih ironis lagi potret perekonomian saat ini dalam fase keterpurukan uang kuliah malah membumbung tinggi.

Beranjak dari hal ini, sudah selayaknya kelembagaan untuk merefleksi keberadaannya saat ini. Fenomena kelembagaan mahasiswa pada zaman selfie lebih kepada wilayah eksistensi yang menghasilkan kesibukan tak menentu alias STM bagaikan robot yang digerakkan ketika remotenya berada posisi On. Pikiran dangkal tersebutlah yang dihuni oleh orang-orang berkecimpung di kelembagaan.

Apa hendak di kata  terlalu banyak terbesit permasalahan yang menjadi tanda tanya mau saya ungkapkan di sini. Apabila lembaga mahasiswa hari ini masih juga menutup mata dan telinga dengan tidak adanya upaya untuk membenahi diri dan memperbaiki pola pikir, maka tunggulah kehancuran yang tanpa disadari  berdampak dari ke generasi selanjutnya.

Generasi kelembagaan hari inilah yang menciptakan dosa turunan kepada generasi selanjutnya, yang mana generasi hari esok akan menjadi generasi menunduk. Tak akan lagi pekik perlawanan ketika ditindas oleh kesewenang-wenangan. Sejatinya hal seperti inilah yang diinginkan oleh pihak struktural kampus untuk menjaga bisnis yang bernama komersialisasi pendidikan tersebut.

Semoga kegelisahan gugatan suara hati saya ini menjadi bahan perenungan, refleksi, dan teresapi oleh pemangku jabatan  kejayaan mahasiswa. Jayalah Mahasiswa. Hidup mahasiswa!