Setelah pede kebal virus covid-19, akhirnya negara kita terkena "tsunami"-nya juga. Alien yang tak kasat mata seakan menyerang dan memaksa kita berdiam diri seperti pada film A Quiet Place

Argumen-argumen yang mengatakan bahwa orang Indonesia akan sembuh dari segala penyakit hanya dengan teh anget atau kerokan mendadak terbungkam. Jumlah pasien covid-19 meledak bagaikan jumlah user tiktok yang juga meledak belakangan ini.

Pemerintah pun mulai bergerak dengan memindahkan hampir semua kegiatan di rumah masing-masing. Rakyat kita yang jumlahnya ratusan juta diminta untuk menyibukkan diri di rumah. 

Sebuah langkah yang bagus tentunya, walaupun terkesan agak sedikit terlambat, tapi lebih baik dari pada tidak sama sekali. Namun memang sepertinya sahabat-sahabat kita tidak tahu diuntung.

Sehari pasca kegiatan dialihkan ke rumah, pantai dan Puncak mendadak ramai. Semua orang tiba-tiba liburan seakan negara sedang baik-baik saja. Budaya santuy kita santuy kita yang sebelumnya dipuji oleh orang-orang barat sepertinya sudah mulai berlebihan.

Di lain pihak, orang-orang panik jauh lebih menyebalkan. Masker diborong dan harganya melonjak seperti resell sepatu lokal. Begitu juga dengan handscoon yang seharusnya digunakan oleh tenaga medis ludes.

Ya, dokter-dokter dan perawat-perawat yang kita harapkan aksinya kehabisan stok alat kesehatan. Miris. Tidak saya sangka saudara-saudara kita bisa sejahat ketika panik. Tidak sadarkah kalian bahwa petugas medis di suatu daerah rela menggunakan jas hujan sebagai ganti alat pelindung diri.

Oke. Mari kita kembali membahas perlindungan diri sendiri. Awal virus corona masuk ke Indonesia, saya juga bukan termasuk orang yang panik, bahkan cenderung menyepelekan. Hingga akhirnya Jogja mulai terinfeksi.

Beberapa saat kemudian saya mengalami batuk dan flu. Walaupun membaik dengan cepat dan saya tidak punya kontak dengan orang yang terinfeksi, tapi sakit ini membuat saya menjadi waspada.

Berhari-hari saya menahan diri untuk tidak banyak keluar dari kamar kos hingga pulih. Saya tidak pulang karena takut menulari keluarga di rumah yang hampir semuanya berada dalam usia rentan. 

Saya juga membatalkan semua acara pertemuan dan menolak ajakan teman-teman untuk bertemu. Hal ini saya lakukan karena saya tidak ingin tubuh saya menjadi perantara virus sehingga mencelakakan orang-orang di sekitar saya.

Satu hal yang membuat saya kesal. Di antara banyak teman-teman saya yang sadar untuk diam di rumah untuk menghentikan rantai infeksi, masih saja ada beberapa teman sesama mahasiswa yang cenderung menyepelekan. 

Mereka nongkrong di warkop-warkop sampai pagi. Padahal pemerintah jelas memberi instruksi untuk menjauhi kerumunan demi kebaikan bersama. Mosok iya mahasiswa gak paham juga.

Belum lagi ada teman yang melontarkan jokes-jokes semacam “Corona diobati nggo rokok karo kopi langsung mati”. Come on, dudes, jokes semacam itu sudah terlalu sering terdengar dari orang-orang yang berdiri di atas sana dan sudah garing macam meme Salty Spitoon.

Sebenarnya kalian itu tidak hanya perlu mempedulikan diri sendiri. Okelah usia kalian masih muda dan resiko kematian tidak besar. Tapi sebenarnya yang harus kalian perjuangkan sebagai anak muda itu ya menjaga diri agar orang-orang yang lebih tua, yang memiliki penyakit kronis, dan orang-orang beresiko lainnya tidak tertular oleh virus covid yang kalian bawa setelah ngumpul-ngumpul ngopi.

Sebenarnya apa sih susahnya berdiam diri di rumah selama kondisi sedang tidak baik di luar? Kalau kata dr. Tirta di live instagramnya kemaren kita bisa main game, resik-resik omah, motongi suket, biarkan orang-orang pekerja harian dan tenaga medis saja yang keluar. Kamu gak usah.

Setahu saya soal sepatu kalian lihat dr. Tirta sebagai referensi. Masak iya soal virus yang notabene beliau punya otoritas sebagai tenaga medis untuk berbicara kalian gak percaya? 

Kan enak tinggal di rumah, baca buku, nonton youtube, makan tinggal delivery biar sekalian ngeramein ojol yang katanya semenjak kedatangan corona jadi sepi order. Memakmurkan saudara pekerja harian di sekitarnya malah dapet pahala to.

Apalagi kalian ngopi jelas sambal begadang. Begadang terbukti melemahkan imun. Imun lemah, tambah kumpul-kumpul. Ambyar wes.

Ya semoga saja kita tidak perlu sakit dulu baru sadar. Atau memang pepatah yang berbunyi “manusia hanya ingin mendengarkan apa yang ingin mereka dengarkan, bukan apa yang seharusnya mereka dengarkan.”. 

Mbuh kui pepatah dari mana, pokoknya pesan saya untuk teman-teman mahasiswa yang masih ngopi di tempat-tempat ramai, sadarilah  bahwa kalian tidak hany beresiko opname, tapi juga beresiko untuk membawa penyakit ke saudara-saudara kalian baik di rumah maupun di kosan.

Untuk jadi berguna bagi orang-orang di sekitar, tidak perlu sok kuat. Gundala saja masih bisa meriang, apalagi kalian.