Salam Hormat, Sis!

Sengaja aku tulis pakai "sis" biar dianggap temanmu. Apalagi kamu pernah bertemu langsung denganku saat penggerebekan teroris di Temanggung—saat itu aku 'hanya' menemani Utet, Bobby, dan Steph mengibarkan panji Al Jazeera. Kalau dianggap teman, aku bisa bergaya di kampungku bahwa temanku adalah seorang ketua umum partai. Keren, kan?

Begini, sis. Menurutku, sampeyan itu memang manusia kurang kerjaan. Bagaimana mungkin partai hebat dan merakyat seperti PDI Perjuangan kamu ragukan nasionalismenya? Mereka adalah kumpulan manusia-manusia hebat yang tak mungkin salah.

Cobalah berpikir, sis, pakai logika dan akal sehat mana saja, PDIP itu, kan, jelas menyebut diri partainya "wong cilik", berasaskan nasionalisme, lha kok kamu tuduh berada di balik lahirnya perda-perda syariah? Dari ketua umumnya saja jelas, yang terhormat ibu Megawati Soekarnoputri. Itu sudah jaminan ada darah nasionalisme dan marhaenisme. Nekat kamu, sis.

Nggak mungkinlah kalau PDIP lupa bagaimana mereka ditindas, dimusuhi sebagai kaum abangan yang tak religius kok memperjuangkan perda syariah. Mustahil itu, sis.

Sista Grace, kalau mau mengkritik, pilih saja yang jadi musuh mereka. Kalau perlu partai-partai yang nggak jelas. Lha wong PDIP itu pemenang pemilu kok ya kamu kritik? Banyak pengikut, pemuja. Nanti kalau mereka semua mendatangi rumahmu, gimana coba? 

Kalau merusak sih mending, bisa dilaporkan ke polisi. Lha kalau minta foto-foto bareng dan minta makan minum gratis, kan kamu tekor, sis.

Tetapi kamu juga harus bersyukur, sis, sebelum pemuja mendatangimu, para pengurus partai sudah ramai berteriak. Lebih gaduh dari kritikmu. Eh, kemarin katanya kamu dilaporkan polisi; jadi nggak sih?

Selain PDIP, kamu juga mengkritik Golkar. Itu juga kesalahan fatal. Bagaimana mungkin partai yang berpengalaman 32 tahun nempel bos kamu kritik? Bahkan ketika ramai-ramai aksi reformasi, mereka masih bisa selamat dari ancaman pembubaran. Mana mungkin partai busuk bisa bertahan sampai sekarang?

Golkar itu partai hebat. Tak ada koruptor di tubuh partai itu. Karena begitu ditangkap KPK, mereka langsung memecat. Keren, kan? 

Itu partai berpengalaman. Kalau soal perda syariah, tentu itu hanyalah masalah yang remeh-temeh dan tak layak dibahas partai besar sekelas mereka.

Golkar pasti akan membahas kepentingan nasional, persatuan, kesatuan. Merancang anggaran untuk sosialisasi hal itu dalam angka besar. Mana mampu PSI berlaku seperti itu? Soal perda syariah mah receh itu.

Terbukti, kan, Ketua Bidang Pemenangan Partai Golkar menyebutmu ketua partai ingusan yang tak tahu apa-apa? Itu benar banget. Cobalah berkaca, mana ada sih partai yang tak bekerja sama ketika di parlemen? Mereka hanya heboh saat kampanye pemilu, ngeklaim paling baik dibanding lainnya.

Biar lebih kece, menirukan guyonanmu untuk milenial, aku mengingatkan kalau nyisir, nyindir, dan nyinyir kan sama-sama butuh cermin. Jangan berharap pihak lain bercermin, sis; mereka nggak mungkin salah.

Meskipun anak-anak milenial suka bikin meme kalau perempuan tak pernah salah, tetapi untuk urusan ini, kamu harus selalu salah. 

Grace...Grace. Sista yang cantik. Bayangkan saja, andai kamu diam ikut menjilat mereka, barangkali mereka akan sukarela membantu membesarkan PSI. Membantu membiayai survei dan menempatkan PSI di posisi menengah. Kalau posisi atas, ketinggian, kan?

Ngapain juga kamu mengorbankan kariermu sebagai jurnalis. Perjalananmu dari SCTV Goes to Campus itu sudah sangat fenomenal. Aku bisa ngomong gitu, karena tahun 2017 lalu, aku menjadi mentor jurnalistik Citizen Journalist Academy yang masih satu atap dengan SCTV.

Murid-muridku nggak ada yang langsung direkrut seperti kamu. Meskipun Semarang juara umum, sukses merebut tujuh terbaik dari dua belas kategori. 

Kegelisahanmu melihat situasi politik yang hipokrit sejatinya tak mengharuskanmu menerjuni dunia itu, apalagi mengubahnya. Itu utopis, sis. Kurang kerjaan!

Politik dalam pandanganmu itu hanya indah dalam teori. Bahkan belum sempat kamu praktikkan, sudah digempur sana-sini, kan? Semua partai, kan, tanpa mahar, tanpa korupsi. Lihat saja visi-misi mereka, tak ada yang menulis korupsi sebagai salah satu hal yang mereka perjuangkan.

Bahkan partai berbasis agama sekalipun akan tetap menyuarakan menghormati keberagaman.

Sis Grace, sebagai orang yang pernah bertemu dan kamu pasti tak kenal saya, saya hanya mengingatkan saja, berhentilah menggelisahkan kehidupan politik Indonesia. Sejak dulu masyarakat Indonesia juga baik-baik saja. Mereka makan sambel, kerupuk, bahkan nasi aking itu bagian dari strategi perang global. Kamu masih terlalu hijau, nggak tahu kalau itu strategi perang.

Bayangkan saja sekarang, mana ada negara yang pamer ketidakadilan, pamer keberingasan massa, pamer kemiskinan tetapi masyarakatnya masih bisa tertawa cengengesan? Nggak ada, kan? 

Negara lain pasti ngeri lihat Indonesia. Dijajah VOC dilanjutkan Jepang, dikuasai pemimpin yang hebat semacam Pak Harto, dilanjutkan dengan eksploitasi sumber alam oleh asing, korupsi yang terus-menerus. Tetapi nyatanya nggak bangkrut dan warganya masih bisa cengengesan.

Koruptor yang tertangkap juga masih bisa cengengesan. Jangan baperan, dong. Hidupmu lebih penting.

Latar belakangmu, kan, jurnalis, jangan ikut-ikutan seneng mendramatisasi seperti FTV religius yang entah itu. Tetapi coba lihat dengan perspektif berbeda, bahwa kemiskinan, utang luar negeri, dan perda syariah itu memang penting. Kalau nggak ada itu, rasanya kurang keren jadi negara. Nanti ada seloroh, politik kok diem-dieman, makan gaji buta?

Apalagi partaimu mendukung calon presiden yang berasal dari orang kebanyakan dan merakyat. Tidakkah itu jaminan Indonesia bakal gemah ripah loh jinawi dan berkeadilan?

Tidak ada gunanya kritik. Kamu, dan banyak pejuang politik, telah keliru melawan ketidakadilan. Indonesia tidak butuh itu semua. Kamu tahu, kan, yang terpenting adalah ekonomi, ekonomi, dan ekonomi; investasi, investasi, dan investasi?

Kamu yakin, kritikmu bakal jadi pintu masuk perbaikan? Atau malah justru akan mempersulit hidupmu sendiri? Seperti kini kritikmu terhadap PDIP dan Golkar, kalau mereka mau, kamu bisa masuk penjara lho. Nanti aku yang sedih kalau anakku meminta sebuah cerita tentang keadilan.

Grace yang cantik, belajarlah untuk tidak bicara. Ibu Megawati itu tak banyak bicara juga bisa menjadi ketua umum partai luama buanget. Kalau mau berpolitik, ya yang wajar-wajar saja. Jangan membongkar keburukan partai lain. Nanti kamu dituduh cari sensasi, cari popularitas. Dan ending-nya, kamu dan partaimu akan dihabisi dengan hasil survei.

Oh ya, sebelum lupa, secara pribadi kuucapkan terima kasih banget, ya. Iklan-iklanmu sudah membuka konten-konten videoku di akun medsos berbasis video yang berafiliasi ke kantor. Lumayan kok sharing profitnya, 50:50.

Grace, sebelum kututup surat terbuka ini, aku sampaikan pesan penting dari entah siapa. Berhentilah mengkritik ketidakberesan. Karena pasal satu, yang kau kritik itu tak pernah salah. Pasal dua, kalau ada salah, baca ulang pasal satu.

Bagaimanapun, calon presidenmu nanti akan menemuimu dan berkata: "Kami pernah genting, tetapi tetap seiring."

Salam hormat untuk keluarga dan anak-anakmu, ya.