Assalamu’alaikum Wr. Wb

Salam ta’dhim dan sejahtera saya haturkan. Semoga bapak Menteri beserta sekeluarga senantiasa berada dalam limpahan taufiq, hidayah dan ma’unah Allah SWT, sehingga dapat menjalankan ibadah dan tugas kepemerintahan dengan baik dan istiqomah.

Demikian yang saya harapkan, Amien. Saya kira ini mungkin surat pertama saya pada bapak Menteri. Sebanarnya saya sangat ingin sekali menulis surat semacan ini pada bapak setidaknya satu bulan satu kali, namun tidak apalah saya sudah cukup senang jika surat ini bisa bapak baca.

Hari ini adalah hari sabtu, tanggal 13 agustus 2016. Empat hari lagi kita semua sebagai warga negara Indonesia akan merayakan hari kemerdekaan bangsa kita yakni Indonesia, tepatnya pada tanggal 17 agustus 2016. Bendera merah-putih sebagai lambang Negara ini sudah mulai berkibar di sekolah-sekolah, jalan-jalan raya dan jalan perkampungan warga. Tidak terasa sudah 77 tahun Indonesia merdeka, dalam tujubelasan nanti tentu kita mengharapkan bangsa ini menjadi bangsa yang beradab, dan lebih baik dalam segala bidang khususnya dalam bidang pendidikan.

Hari-hari ini media-media tiada hentinya memberitakan tentang rancana bapak Menteri dalam melaksanakan full day di sekolah-sekolah. Bagi saya adalah tindakan yang baik dan benar, dengan tujuan bapak Menteri agar tidak ada siswa yang berkeliaran (pergaulan bebas). Hal ini bagi saya pribadi adalah tindakan yang sangat mulia. Sebab, sebelum bapak merencanakan full day tersebut, saya sudah merasakan full day di pesantren tempat saya menuntut ilmu, dan benar-benar saya rasakan sangat berguna.

Pak Menteri yang terhormat,saat ini saya adalah salah satu santri di Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura. Saya berdomisi asli Manado. Di pesantren ini kami berasal dari keadaan suku, budaya, yang berbeda-beda. Ada yang berasal dari Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Bali, Lombok Jawa dan ada juga yang asli Madura.

Kami memiliki perbedaan kondisi ekonomi yang berbeda-beda pula. Ada yang orang tuanya seorang petani, pedagang, gubenur, bupati dan lain-lain. Meskipun kami berasal dari konsisi ekonomi, suku dan budaya yang berbeda-beda, tapi kami tetap satu tujuan menjadikan pendidikan bangsa ini yang beradab, dan bermoral.

Di pesantren inilah saya dan teman-teman hidup mandiri, jauh dari keluarga, namun kami tetap saling tolong-menolong dalam segala hal. Kami belajar full day semua kegiatan bernilai positif. Mulai jam 03.00 kami harus bangun untuk melaksanakan shalat witir, tahajjud, dan dilanjutkan shalat subuh berjama’ah di masjid.

Setelah shalat subuh berjama’ah kami mengikuti kegiatan tazwidul Mufrodat atau kegiatan kebahasaan hingga sampai jam 06.00. pada am 07.00 dilanjutkan kegiatan belajar formal di kelas-kelas. Dan pada jam 13.00, shalat dzuhur berjama’ah setelahnya kami kembali ke kelas pelajaran tambahan belajkar bahasa arab dan inggris.

Hingga adzhan ashar berkumandang kami menuju masjid untuk melaksanakan shalat ashar berjamaah dan setelahnyua dilanjutkan dengan kegiatan ektra kurekuler seperti seni, olah raga, kesusastraan, pramuka dan lainya.

Sekali lagi di pesantrenlah kami belajar full day, kami selalu menjalaninya dengan penuh ikhlas dan sabar. Serta saya sangat merasa bangga sebagai santri. Nah, saya kira jika bapak Menteri ingin melaksankan full day di sekolah-sekolah saya kira kegiatan full day di pesantren di atas.

Saya rekomendasikan terhadap bapak Menteri. Saya paham banyak menolak dan tidak setuju dengan ide bapak untuk melaksankan full day. Namun, bapak harus tetap semangat dalam menjalaninya. Demikian surat ini saya buat. Saya ucapkan terima kasih.

Salam Indonesia, Salam Sejahtera.