Ma, kali ini aku mencoba benar-benar berpikir kritis, jernih dan positif. Aku ingin mengirimkan sebuah surat yang berisikan curahan hati dari lubuk hatiku yang mungkin paling dalam. Bahwa aku sangat rindu pada mama. Rindu akibat kita berdua tak sering lagi bertemu. Rindu akibat kita berdua jarang bertemu.

Rindu akibat entah kapan belum bisa terprediksi aku bisa bertemu lagi dengan mama. Meskipun beberapa hari yang lalu aku menyempatkan untuk pulang ke rumah dengan sedikit keperluan selain menemui dirimu, Ma. Namun aku akan menjadi kuat ketika mengingat nasihat yang pernah disampaikan oleh Gus Candra Malik, bertemu dalam diam saja sudah lebih dari cukup.

Ma, terkadang memang aku bingung membedakan akan hal mengenai rindu. Apakah rindu itu sebab. Ataukah ia adalah akibat. Apakah rindu itu tesis. Ataukah rindu itu adalah antitesis.

Namun, bagiku rindu adalah sebuah keniscayaan. Orang boleh merindu pada siapa saja. Pada Tuhan. Pada makhluk. Pada alam. Namun yang lebih penting dari rindu adalah tak untuk berlebihan di dalamnya. Merindulah yang sewajarnya. Merindulah untuk hal yang bersifat progresif. Rinduku pada mama mungkin seperti apa yang aku jabarkan barusan.

Ma, barangkali baru kali ini aku memanggilmu dengan sebutan “mama”. Bukan untuk bermaksud apa-apa, hanya sedikit klaim saja yang hinggap dalam benakku kali ini. Harapanku tak akan mengurangi esensi apa yang harus dilakukan antara anak kepada orang tua. Selain berbakti kepada orang tua, pasti akan ada tanggung jawab yang harus aku emban dari setiap pertambahan umurku ini.

Aku yakin mama pasti sudah tahu bahwasannya enam hari yang lalu aku menginjak umur yang ke dua puluh. Iya, secara administrasi tepat tanggal 5 Agustus kemarin. Pasti mama sudah tahu secara lahir maupun batin akan hal itu. Meskipun dalam notifikasi gawaiku tak ada ucapan khusus dari mama.

Bagiku, doa baik ; keselamatan, panjang umur, rezeki sampai jodoh akan selalu mama lantunkan dalam setiap menghadap kepada yang kuasa baik dari kegiatan ritus maupun di luar itu. Tanpa memperhatikan sebuah momentum, mama akan terus melakukannya.

Ma, beberapa hari yang lalu aku menemukan kiasan yang cukup menarik selama hidupku. Ucapan itu dari seorang manusia bernama Roberto Bolano. Ia menyampaikan bahwasannya yang lebih penting daripada menulis adalah membaca. Mama tahu apa maksudnya, ndak?

Sejak lama Ma, anakmu ini memiliki sebuah keinginan dan cita-cita menjadi seorang penulis. Meskipun sejauh ini belum pernah sekalipun tulisanku dimuat oleh harian surat kabar yang tersebar secara cetak maupun online. Meskipun usaha yang ditempuh hanya sebatas menulis yang cenderung ngudarasa dan hanya dimuat di alamat blog pribadi. Namun, keinginanku yang satu ini masih aku pertahankan dan aku perjuangkan sampai sekarang.

Memang benar, Ma. Sedikit demi sedikit aku memahami, merasakan dan menghayati bahwa hidup ini tak mudah dilalui oleh siapa pun. Begitupun mengenai cita-cita. Aku sadar bahwa cita-cita itu harus diperjuangkan dan diwujudkan. Kita tidak boleh hanya berlama-lama untuk bermimpi, sedangkan tak ada usaha sedikitpun untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Hidup, cita-cita, keinginan maupun berjuang kalau bahasanya presiden Republik Jancukers alias Sujiwo Tejo mungkin adalah “tak sebercanda itu”. Namun dengan keadaan seperti ini, aku masih tetap bersyukur. Tetap ingin berusaha. Tetap ingin berjuang. Tetap berdoa pada Yang Maha Kuasa. Hingga suatu saat nanti akan terwujud. Mungkin aku bisa membuat buku yang pertama kalinya, entah apa judulnya. Heuheuheu.

Sejauh ini, beberapa usahaku yang perlu mama ketahui antara lain adalah belajar membaca. Membaca apa pun ketika hati ini berkehendak untuk membacanya. Setelah itu coba menghayati dan meresapi akan hal tersebut. Mulai dari membaca buku dengan aneka ragam genrenya maupun judulnya.

Membaca orang-orang ketika aku berhadapan. Membaca lingkungan sekitar atas dinamika yang terjadi. Maupun membaca situasi dan kondisi yang aku hadapi. Memang, kalau sudah asik dengan membaca, terkadang aku lupa entah untuk sekadar menceritakannya kepada orang lain maupun membuat sebuah tulisan yang menarik dan renyah kalau dibaca setelah itu.

Kolektor buku, mungkin hal tersebut identik dengan anakmu saat ini, Ma. Memang semenjak aku memasuki masa transisi di dunia perkuliahan ini, setidaknya memiliki prinsip yang hingga kini masih aku coba untuk pertahankan. Membeli minimal satu buah judul buku dalam setiap bulan untuk mengisi lorong-lorong kosong yang ada di bagian lemariku.

Entah sudah berapa puluh judul buku yang ada hingga kini. Bagiku mungkin itu adalah garis takdir dalam menjalani kehidupanku ini. Usaha tersebut kini aku menyebutnya sebagai hobiku. Namun aku berharap hobiku tersebut tak hanya sampai sebatas hobi saja tanpa ada sebuah transformasi dari perkembangan pola pikir yang terbentuk.

Ma, usaha tersebut kalau boleh aku ceritakan kepada mama. Bahwasannya aku pengin lebih dari itu dalam menjalankan hobiku itu. Mengembangkan hobi mungkin adalah suatu kewajiban yang harus aku lakukan. Di masa kuliahku yang sudah menginjak semester kelima ini, aku ingin dan terus berusaha dalam melakukan pengembangan tersebut.

Asalkan mama tahu, aku mempunyai sebuah gagasan dari hobi mengoleksi buku tersebut. Suatu saat ketika aku sudah lulus dari kuliah ingin berkarya di kampung halaman kita berupa mendirikan rumah baca yang nantinya sebagai pusat kegiatan sosial maupun literasi dari warga masyarakat sekitar. Mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Sejauh ini belum ada konsep yang sudah jelas. Namun aku yakin hal tersebut tidak akan menjadi sebuah ilusi semata.

Terakhir, mungkin aku meminta kepada mama. Aku mohon mama untuk terus mendoakanku. Pun juga aku, akan senantiasa mendoakan mama dari setiap aku berjumpa pada Sang Ilahi. Sang Rabb. Yang harus kita sembah daripada yang lain. Karena tak ada satupun makhluk yang setara dengan-Nya.

Aku dan mama harus tetap berjuang. Aku dan mama harus tetap membaca. Aku dan mama harus tetap bisa bermanfaat orang lain. Aku dan mama harus tetap yakin. Aku dan mama akan tahu bahwa berjuang akan menghasilkan apa yang diperjuangkan. Terima kasih, Ma. Dari anakmu yang belum bisa berguna untukmu. Aku rindu. Di ruang rindu semoga kita bisa bertemu.