Malam menjelma jadi sunyi, lentera tak lagi menerangi. Sayup-sayup bayangmu menghantui, tepat di kelopak mata yang tengah meneteskan air mata.

Ibu Aku merinduimu, tutur katamu, doa-doamu. Aku yang selalu menengadahkan tangan saat kau ucap doa keajaiban, agar kelak anakmu ini menjadi penerang di kegelapan liang tanah tak berterang.

Jemari manismu, menggenggam erat tangan mungilku. Tatapan tajam kelopak mata indahmu menghujam mataku. "Nak, sekolah dan ngaji yang rajin ya... Pintamu dengan tulus nan halus". "Agar kelak bisa jadi anak yang berguna dan berbakti kepada orang tua". Lanjut tuturmu.

Penyesalan, ya hanya penyesalan. Butir-butir dosa telah kukumpulkan, sekarang menjelma jadi lautan. Bingung melanda alam idea juga surga rasa.

Ibu maafkan Aku, impian itu tak lagi kuperjuangkan. Malam ini, Aku ingin curhat padamu Bu. Biarkan, jangan sergah Aku mengeluarkan kata-kata meskipun entah nanti bisa jadi berbusa tak bermakna.

Ibu, kakiku sudah layu, tak lagi mampu menopang tubuh kecilku. Jangankan untuk beribadah kepada Rabmu, untuk bangkit saja Aku tak mampu. Sering kali Aku menyalahkan makhluk Tuhan bernama setan, karena dogma yang tertanam sebab ajaran keagamaan, bahwa yang menggoda manusia untuk beribadah adalah setan. Tapi Aku sadar, setan tak lagi mampu menggoda makhluk bernama manusia Bu. Sebab manusia kejahatannya melampaui setan. Termasuk a-a-ku.

Awan tak lagi mampu menampung kandungan uap yang berasal dari air. Ia jatuhkan kembali muasal itu. Tanah gersang terguyur hujan, kedamaian alam dirasakan tetumbuhan.

Tidak dengan diriku, sejak akhir kata itu, lidahku pilu, bibirku bisu, terkunci sehingga tak lagi bertutur. Mataku yang mulai bercerita, tentang apa yang Aku dera. Kisah hidupku terlampaui, seperti air mata menetes dipipi. Kesombongan menimbulkan keangkuhan dan penganggapremehan, kekerdilan menimbulkan prasangka keburukan, kebodohan menghantarkan menuju jurang kehancuran.

Hidupku tak lagi seperti dulu Bu, yang rajin berjamaah di masjid, meski dengan jalan kaki atau pakai sepeda butut. Aku bukan lagi anak impian, di mana setiap kata yang terucap adalah doa untuk kebahagiaan. Mulutku penuh dusta, serta kebohongan tak terjaga. Masihkah Kau mengharapkan ku Bu? Seandainya kau masih hidup di sampingku. Aku tetap yakin, pribadimu yang menyejukkan kalbu akan senantiasa dengan sabar menasehati anakmu yang penuh dengan dosa.

Andai kau di sana bisa berdoa, Aku juga ingin mendengarkan doa itu, akan kutengadahkan kembali kedua tanganku Bu. Aku butuh tuntunanmu, Aku butuh doa di sepertiga malam-mu.

Izinkan Aku bercerita Bu. Aku ingin bercerita, tentang apa yang dinamakan cinta.

Gagah berani menjadi pribadi, tak gentar ia menyuarakan arti kebenaran. Meski cerca mendera, tetap tegar dan lantang namun dengan kesyahduan menjaga pilar-pilar ajaran kehidupan. Anak itu bernama Sakra. Sejak lahir Ia dididik dengan peraturan namun tak mengekang, bahkan menjadikan kedewasaan. Setiap detik Ia lalui dengan menyerap pengetahuan, ajaran moral kehidupan tak luput dari pandangan. Sakra melanjutkan perjalanannya mencari hikmah dan pengetahuan.

Hutan, lautan, pegunungan menjadi saksi nyata perjalanan Sakra. Kadang singgah di gubuk sederhana, tapi menurutnya penuh makna. Tepat di pelataran rumah, kakek dan Sakra berbicara. Obrolan itu dimulai sejak setelah maghrib sampai fajar tiba. Nak Sakra, kakek mau tanya, apa yang membuat nak Sakra menjadi bahagia? Uang kah?, ketenangan batin kah?, atau kepintaran?

Sakra diam sejenak.

"Gimana Aku menjawab, perjalananku ini untuk mencari kebahagiaan sejati, belum Aku menemukan sudah ditanya duluan". Batinnya berbicara.

"Belum tahu kek, Sakra masih mencari-cari. Mungkin lain kali Sakra baru bisa jawab. Tentunya setelah menemukan makna hakikat kebahagiaan. Hehe". Jawab Sakra malu.

***

Ketika suara lantang kebenaran Aku gaungkan didampingi dengan kesejukan hati penuh keikhlasan, yang kudapatkan bukanlah kebaikan, melainkan cela dan ejekan meskipun tidak semuanya demikian, tetap