Duhai pemuda yang pernah menuliskan tentangku. Tiba gilirannya aku harus menyuratimu. Entah ini merupakan keterpaksaan atau suatu hal yang harus kulakukan, intinya merupakan suatu kebaikan bagi kita bersama dalam menjalani hidup ini. Ambillah hikmah yang ada, karena kamu pasti tahu hakikat dari makhluk hidup adalah berusaha dan berharap menjadi sesuat yang bermanfaat bagi lainnya.

Barangkali tulisanmu yang berjudul “Belajar Hidup dari Lumut Hati” itu sudah dibaca oleh beberapa orang baik dari kalangan pelajar, guru, dosen, sastrawan, penulis bahkan masyarakat biasa. Aku tak akan mempersoalkan hal tersebut, bagiku itu tak penting dalam kehidupanku. Perlu kamu tahu, kemarin aku berkesempatan membacanya. Setidaknya diriku perlu waktu kurang lebih lima menit untuk menyelesaikan narasimu yang berbentuk esai tersebut.

Namun, sekali membacanya aku belum paham sama sekali apa yang kamu sampaikan kepada khalayak tentang diriku itu. Aku perlu membacanya berulang-ulang. Membawa referensi lain untuk mempermudah pemahamanku terhadap istilah-istilah asing yang ada di sana.

Bahkan, aku harus mendiskusikannya dengan beberapa kawanku yang kala itu aku berikan kabar tentang tulisanmu. Dari sekian jam aku melakukan diskusi dan pembahasan, setidaknya ada beberapa hal yang kamu perlu ketahui, duhai pemuda.

Duhai pemuda, hal pertama yang ingin aku sampaikan kepadamu adalah jangan berlebihan dalam memuji makhluk sepertiku, kamu harus tahu bahwa dirimu adalah insan yang diharapkan senantiasa menjadi religius, dinamis dan kritis. Hakikat dari hidupmu adalah membentuk sebuah hubungan harmonis dan berkesinambungan baik dengan Sang Pencipta, dengan makhluk sesama dan hubungan dengan alam.

Maka sebelum dirimu mengenal makhluk sepertiku hingga menyebabkan rasa kagummu atau bahkan mungkin pujian dan sanjungan akan keluar dari lisanmu kenalilah lebih mendalam atas apa yang menciptakan diriku. Ya, Dia Yang Maha Pencipta, berkuasa atas segala keterciptanya alam semesta ini.

Harapanku dirimu harus senantiasa mau mengetahui dan ingin belajar terus menganal Dia. Jangan pernah berhenti. Jangan pernah putus asa di tengah jalan. Jangan pernah kamu merasa sudah cukup pengetahuanmu tentang-Nya.

Pemuda, hal selanjutnya yang perlu kamu ketahui adalah dari beberapa spesies yang semarga denganku merasa terdiskriminasikan oleh tulisanmu itu yang hanya membahas mengenai salah satu spesies yang ada di genus Marchantia. Dengan dalih kesamaan marga, tulisanmu itu dianggap tidak adil oleh mereka yang hingga kini masih memendam amarah dan sedikit maenjauh dariku.

Aku mohon kepadamu untuk melakukan klarifikasi terhadap mereka, supaya konflik di margaku tidak akan menjadi berkepanjangan. Aku takut kami menjadi semakin jauh dan tidak harmonis seperti sebelumnya. Aku tahu kamu pasti seorang intelektual yang mampu memikul tanggung jawab apa saja yang memang harus kamu emban. Jangan sampai ada dusta dari tulisanmu, katakanlah yang sejujurnya dari lubuh hatimu terdalam.

Pemuda, hal yang ketiga perlu kamu ketahui adalah berkaitan mengenai kebermanfaatanku bagi kehidupan manusia. Dalam esaimu disebutkan ada dua manfaat yang kamu sampaikan masing-masing adalah untuk mengatasi erosi dan menyembuhkan radang hati. Lagi-lagi aku menyalahkan dirimu. Dengan landasan apa dirimu bisa berkata seperti itu?

Bagiku aku hanyalah salah satu perantara saja sebagai makhluk hidup yang berada di tempat fana ini. Bahasa dalam penulisanmu seolah-olah menganggap diriku sebagai sebuah energi yang bisa mengatasi dua masalah tersebut. Kamu harus tahu, ada Dzat Yang Maha Segalanya. Kembali lagi aku hanyalah salah satu yang menjadi perantara.

Pemuda, terakhir yang ingin aku sampaikan kepadamu adalah berkaitan dengan musim kemarau yang kamu jelaskan. Sebelumnya aku berterima kasih pada dirimu yang telah mengingatkan bahwa sebentar lagi adalah musim kemarau. Musim di mana kita harus menerimanya, jikalau sudah tiba gilirannya.

Musim itu akan ditandai dengan keringnya beberapa daun, ranting, bunga yang ada dalam tumbuhan, terbakarnya rumput-rumput di lapangan karena panas matahari yang begitu terasa. Kecenderunganku adalah hidup dalam tempat yang lembab.

Barangkali aku dan kawan-kawanku dengan kehadiran musim itu akan merasa sedikit terbatas ihwal ruang kehidupan. Tetapi, dengan segala kerendahan hati aku akan mencoba sekuat tenaga dalam menjalani setiap kehidupan yang ada.

Begitulah pemuda yang pernah menuliskan tentangku. Aku sangat berharap kamu tidak merasa sakit hati dari setiap ucapan dalam tulisan  yang baru hari ini bisa kukirimkan kepadamu. Aku mencoba mengatakan apa yang sebenarnya ada dalam hatiku. Kalau kamu ada kesempatan, sudilah membalas suratku ini terutama berkaitan mengenai beberapa permintaanku yang telah aku sampaikan di atas itu.