Dalam menapaki kesuksesannya, Suparni mempunyai prinsip bahwa sukses dapat dicapai oleh siapa saja yang mau terus belajar dan berusaha.

Berawal dari mengikuti seminar wirausaha yang diselenggarakan oleh Dinas Perindag Jambi, Suparni mulai termotivasi untuk memulai wirausaha. Motivasi itu makin menguat ketika ia difasilitasi magang sampai ke Yogyakarta. 

Tidak hanya sampai di situ, belajar membuat Keripik Jangek dengan pelatih yang didatangkan langsung dari Bukit Tinggi, ia ikuti.

Pelatihan terakhir yang ia dapatkan adalah dari sebuah program yang dinaungi oleh PT Lontar Papyrus Pulp and Paper Industry (LPPPI), yang disebut dengan CSR (Corporate Social Responsibility). Program ini membuatnya bertransformasi menjadi juragan keripik yang sukses, dengan omset sebesar 11 juta rupiah per bulan di Desa Purwodadi, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi.

Kerja Keras yang Membuahkan Hasil

Itulah wajah dari perjalanan Suparni menjadi seorang pengusaha sukses. Dimulai dari menjahit, selama bertahun-tahun ia mencoba peruntungannya di sana. Tapi tidak membuahkan hasil, sepi peminat, itulah yang ia rasakan saat itu.

Tidak ingin terus terpuruk dalam kemiskinan, Suparni bangkit dan mencoba peruntungannya di usaha yang lain, yaitu keripik, yang ia beri nama "Etika".

Meskipun dia sudah punya bekal pengetahuan dari seminar sebelumnya, tapi untuk menjalankan sebuah roda bisnis, itu masih belum cukup. Yang dibutuhkannya lebih dari sekadar pengetahuan tentang bagaimana cara membuat keripik; dia juga butuh dana untuk alat operasional dan cara marketing yang baik.

Suparni menuturkan, "Karena keterbatasan modal, banyak alat yang tidak bisa kami beli." Alat yang ia maksud, seperti mesin parut ubi, kuali besar untuk penggorengan, alat kukus, dan alat untuk packaging.

Di awal merintis sebuah usaha, dengan segala keterbatasan yang dia punya. Suparni memberanikan diri untuk memproduksi satu jenis olahan keripik. Tentu saja dengan kemasan seadanya.

Ia mencoba menawarkan barang dagangannya ke warung-warung di sekitar tempat tinggal, tapi tidak mendapatkan respons positif. Alhasil, hanya sedikit saja yang laku terjual. Barang dagangannya kurang diminati oleh pembeli.

Beberapa kali ia membawa keripik hasil olahannya ke rumah makan dan minimarket, berharap akan ada perubahan di sana. Sayangnya tidak, produk olahannya tidak mampu bersaing memperebutkan pasar. 

Sudah ada keripik lain yang serupa, yang lebih dulu hadir dan lebih inovatif dari keripik yang ia buat. Akibatnya apa? Bukan bisnis yang berkembang, melainkan kerugian yang ia dapatkan.

Lambat laun keuangan Suparni menjadi tidak stabil. Keadaan semakin memburuk. Modal usahanya habis terkikis karena minimnya perputaran uang dari hasil penjualan. Kerugian yang terus-menerus akhirnya menyeret usaha milik Suparni sampai ke ambang kebangkrutan.

Tapi takdir berkehendak lain. Pada tahun 2016, dalam sebuah seminar pelatihan wirausaha yang diadakan oleh PT LPPPI, ia bertemu dengan Moris, anggota Public Affairs yang menangani program CSR. 

Dalam pertemuan tersebut, Suparni menceritakan semua kendala yang ia hadapi selama merintis usaha. Seperti bertemu dengan dewa penyelamat. Moris merespons dengan baik setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh Suparni.

"Ada potensi besar yang mengalir dari dalam dirinya. Potensi itu harus segera dikembangkan. Kami ada tim di CSR yang siap memberikan bantuan berupa dana dan bimbingan," kata Moris.

Berkat bantuan dari tim CSR, satu per satu alat yang Suparni butuhkan mulai terpenuhi. Moris mengatakan, "Alat yang kami berikan itu termasuk hibah. Kami dari CSR tidak memungut biaya satu persen pun dari binaan kami."

Bukan hanya sekadar memberikan teori semata, tentang bagaimana cara pemasaran yang baik dan cara mengemas produk dengan kemasan yang menarik, tetapi tim CSR langsung terjun ke lapangan guna mendampingi dan membimbing Suparni.

Sebut saja, ketika produknya habis terjual di minimarket, tim CSR langsung memberikan info ke Suparni agar segera diisi kembali. Setiap kali ada pertemuan antarpilar Sinar Mas atau dengan perusahaan lain, tidak lupa keripik Etika selalu dibawa dan dipublikasikan di sana.

"Waaaw, mantap nih," saya berdecak kagum dalam hati. "Bisa sebagai motivasi juga buat yang lain, mana tahu ada yang mau bikin usaha juga," pikirku lagi.

Di sela-sela percakapan, Suparni menyuguhkan hasil olahan keripiknya. "Ini silakan dicoba," sambil menyodorkan 5 jenis varian rasa dengan teh hangat di sebelahnya, yang membuat suasana seisi rumah menjadi lebih cair.

Satu per satu saya coba. Dari rasa pangsit wortel, pangsit ubi ungu, pangsit sawi, keripik pisang, dan terakhir Keripik Jangek. Semua rasanya juara.

“Ini yang paling laris yang mana, ya, Bu?" tanyaku dengan spontan.

"Yang itu, Mas! Keripik Jangek," jawab Suparni sambil mengarahkan telunjuknya ke arah keripik yang dimaksud.

Menjadi pengusaha tidak hanya sekadar mencari keuntungan semata. Dampak positif yang ditimbulkannya lebih dari itu. Di antaranya, bisa menciptakan lapangan kerja baru dan menyejahterakan masyarakat sekitar. Hal tersebut sejalan dengan visi yang dibuat oleh program CSR.