Jatuh cinta, rindu dan patah hati adalah serangkaian proses kehidupan yang alamiah. Semua manusia pasti akan dan sudah mengalaminya. Saya yakin bahwa masing-masing pribadi memiliki pengalaman yang unik tentang hal itu. 

Pengalaman secara pribadi  tentang cinta jika ditulis biasanya akan menggunakan kata "aku" dan "kamu".

Saya mencoba menggambarkan proses itu secara umum dalam puisi-puisi saya ini. Jika kita mau merenungkan lebih dalam, maka setiap peristiwa baik itu jatuh cinta, rindu maupun patah hati memiliki keindahan yang dapat dinikmati.

Dalam proses itu pula terkandung kesetiaan dan pengkhianatan. Kesetiaan membuahkan cinta yang langgeng, sedangkan pengkhianatan membuahkan luka bahkan perpisahan.

Tidak ada kata "aku" dan "kamu" dalam puisi-puisi saya ini, karena apa yang saya tuliskan menjadi pengalaman semua orang.

Kasmaran

Ada detak yang menyentak dada menggetarkan hati
Denyutnya mengalirkan sebuah nama dalam darah
Menyusuri setiap nadi hingga menggapai syaraf ingatan
Mencipta lukisan wajah indah di pelupuk mata

Gelombang resah memancarkan sinyal rindu yang tak segera terhapus oleh waktu
Menggulung ketenangan kalbu
Menghanyutkan kewarasan diri

Kekasih nama itu
Akan terus dibunyikan serupa nyanyian yang didendangkan sepanjang waktu
Diiringi terangnya pagi dan gemerlapnya malam
Tubuh menari di setiap melodinya 

Jika temu adalah kenyataan
Kebahagiaan menjalar dalam relung-relung suci
Serasa surga didapatkan

Cinta Dalam Diam

Dalam kesenyapan yang menggemuruh
Terbayang gambaran sang pujaan penghias impian
Memeluk hanya perasaan

Berbicara pada angin
Sudilah menyampaikan salam berwujud getaran hati
Kabar pujaan selalu dinanti

Dalam sua
Tak kuasa tuk berkata-kata hingga diam seribu bahasa
Hanya ada gemuruh mengumandang dalam dada
Curi pandang pun curi perhatian

Tak ingin menyakiti apalagi membuatnya pergi
Namun merasa diri sering tersakiti

Banyaklah doa dipujakan sewangi bunga melati
Bahagia dan sejahtera dipintakan bagi sang pujaan
Harapan dilambungkan untuk diri

Kadang rasa hati bagai luka tersiram garam
Pedih yang diamini sendiri
Namun demikianlah dia buat untuk menjaga martabat
Lalu pasrah dengan apa yang akan terjadi

Sajak Kangen

Saat dewi malam ditinggalkan bintang dan rembulan
Terangkai huruf-huruf dalam kata menjelma sebuah syair
Goresan  kenangan disuratkan mengharu biru
Karena dalamnya rasa pada dia yang tersayang

Berjejer rapi kata demi kata yang begitu indah untuk dieja
Membentuk baris-baris dalam bait yang menjerit
Mengobati rindu dalam kalbu yang kian menggebu

Ada hening, diam dan sunyi
Lalu menyembul dalam mimpi di tengah malam
Sebuah wajah selalu membayang dalam mata yang terpejam
Sebagai harapan semu entah kapan dapat bertemu

Hingga datang sinar dari timur menerangi sudut-sudut peraduan
Membangunkan angan-angan yang kian jalang
Menutup cerita tentang kerinduan
Dibarengi ocehan burung yang menutup sebuah syair yang getir

Cinta

Cinta serupa bunga mekar yang membiarkan lebah mengambil sarinya
Ditaburkanlah sari yang terbawa hingga tumbuhlah tunas baru

Cinta bagaikan rangkaian lirik yang melengkapi nada-nada
Hingga mengalunlah sebuah lagu merdu di telinga semua yang mendengarnya

Cinta serupa  daun yang rela gugur dan membusuk di tanah
Ia menjelma pupuk yang menyuburkan kembali sang pohon

Cinta mengingatkan pada matahari yang tak jemu melihat bumi di setiap pagi
Memberikan kehangatan serta sumber kehidupan bagi segala yang hidup di bumi

Cinta  bagai lilin dinyalakan dan diletakkan di atas gantang
Terangnya menjamah setiap kegelapan hingga akhirnya dia rela habis terbakar

Cinta bagaikan garam yang larut dalam setiap masakan ibu
Membuat setiap lidah tak kapok untuk terus mengecap dan mulut tak berhenti mengunyah

Demikianlah cinta
Di balik duka membawa rupa-rupa keberkahan

Pilihan Hati

Penglihatan hendaklah dibutakan
Intailah dengan rasa yang dipandu oleh semua indra
Luruhkan sepenuh jiwa lalu pastikan
Itulah yang diinginkan

Hati nurani biarkan berkata-kata
Akal sehat berikan tempat tuk menemaninya
Niat baik pelitanya

Hingga saatnya tiba yang dinanti
Apa yang menjadi pujaan hati
Tersanding di tempat indah dalam mahligai megah
Impian tergapai sudah 

Secangkir Kopi 

Sosok pengisi hari telah pergi membawa sebagian hati
Enggan sudah dia kembali 

Cinta yang tlah retak tak dapat disatukan
Ada luka yang menganga
Nyeri pedih sungguh menusuk hati
Gambar pun tak pernah dapat dipeluk lagi

Kembali mereguk pagi dalam sepi
ingin berlari dan terus mencari
Remahan bahagia mulai dikumpulkan satu demi satu 

Kalaulah patah hati
Obati sunyi dengan secangkir kopi
Pekat dan buihnya menguarkan aroma wangi
Iringi hari bersama gundah yang mulai sembunyi

Untaian Lara

Tergores cinta putih oleh pekatnya kata dalam dusta
Luka begitu menyesak dalam dada

Duri dendam menancap kuat membuat jiwa makin rebah
Resah dan gelisah menemani setiap langkah

Balas keji tersusun dalam ciutnya nyali
Hanya ikhlas dan pasrah yang dapat mengobati
Agar tenang dalam diri


Rindu yang Berbunga

Rindu kini telah berbunga
Resah merimbun dalam dada
Akankah jadi riba?