Seharusnya Nuril tak mengatakannya seperti itu kemarin pada Alisa. Ia  selalu saja lupa tentang bahasa yang kadang baginya baik bahkan bermanfaat baginya. Namun setiap nasihat pasti berimbas pada kesedihan.

Beberapa akhir ini Nuril sangat jarang melihatnya. Kabar pun tiada. Diamatinya, ketika berkunjung ke rumahnya—ia  hanya berdiam diri. Wajahnya ditengadahinya dan matanya bengkak; kini wajahnya diliputi kesedihan.

Sore hari Nuril mengajaknya jalan-jalan dengan harapan mengeluarkan Alisa dari keterpurukannya. Sudah dititipi pesan ketika pertama kali ia hendak mengunjunginya di mana saat-saat itu Alisa tidak seperti yang dikenal sebelumnya; Ya, perempuan yang nyaris dibaluti wahana malam.

Biasanya Alisa langsung bercakap-cakap, kadang juga ia sering mencubit lalu mencandai. Iya-iya saja kesempatan itu dicerna Nuril. Asalkan ia bahagia tanpa mengundang eksotis.

Lamat-lamat waktu sukar diajak mengerti. Alisa bukan lagi Alisa. Nama itu nyaris menjadi doa bagi Nuril. Sempat terpikir olehnya jangan-jangan inilah yang menjadi satu alasan manusia memang ber-Tuhan, ketika terjadi perubahan dalam dirinya.

Sementara perjalanan sudah sampai di patas kota. Alisa mengembangbiakkan bisunya dengan kepala merunduk dan tatapan yang amat-amat sayu. Keanehan nyata mencuat. Ekspresi itu menjadi keresahan bagi Nuril. Hal yang semestinya Alisa lakukan adalah membuka percakapan—atau paling tidak ada semacam keresahan yang ia keluarkan agar Nuril pun tahu ia membutuhkan sesuatu yang mampu menenggelamkan kesedihannya.

Diambillah keputusan bahwa seorang lelaki yang wajib memulainya: percakapan yang dibaluti rasa takut dan cemas sembari menyembunyikan groginya. Ia menanyakan kepadanya beberapa hal yang menyangkut perubahan dalam dirinya.

Dulu menjadi sebuah tradisi ketika nasihat-nasihat yang diberi oleh Nuril lantang menghunus, maka Alisa dengan lantang pula mengelaknya. Sepatutnya dunia hitam yang dikelabuinya merupakan logika yang absurd dan benar-benar ia mengusik dengan remeh-temehnya nasihat itu.

Betapa irinya Nuril memulai percakapan yang diulang-ulangnya bersama modifikasi tata bahasa yang paling indah sekalipun tampaknya mengambang. perjalanan panjang ini tak menghasilkan apa-apa, selain murka yang kemudian dibingkai kesabaran. Alisa tercenung begitu saja sembari mendekapkan kepalanya yang disandarinya lembut pada pundak Nuril..

“Nu... ril..” Alisa tiba-tiba memanggilnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Ia seperti bergerutu merapalkan namaku. Mungkin perubahan itu telah menghantarkannya pada satu kekecewaan yang membuatnya bersikap demikian.

“Iya, Lisa.” Lugas Nuril halus.

“Satu pertanyaan penting yang harus kau jawab sesuai kau mengartikan hidupku?—“

Nuril menghentikan perjalanan dan untungnya Alisa sudah bisa bercerita meski terdapat kesan yang terbebani  dan untungnya lagi mereka sampai di salah satu gubuk bambu yang memaksa untuk berteduh guna melindungi diri dari amukan gerimis.

Alisa kemudian bertanya kembali. “Apakah pentingnya kau berbuat kebaikan? dan haruskah seseorang mesti berbuat baik untuk mendapat pengakuan? Aku sedih jika harus demikian.” Kemerut wajahnya begitu tampak membentuk dataran kesedihan yang terbendung di sela-sela pipinya.

“Kurasa tidak demikian! Bahkan aku baru menyadari—tentang nasihat juga selalu bermuatan buruk. Dari buruk itulah kita yang menentukan pilihan untuk menjadi lebih baik.”

“Yah. Bisa saja.” Alisa merasa haru tersedu-sedu. Matanya terbelalak, tapi malu bertatap muka. “Nuril, meskipun begitu, aku sesungguhnya bertanya-tanya kebaikan itu seperti apa, meski tahu tetapi apa gunanya ketika kehendak manusia tetap saja bebas?”

“Barangkali, kebebasan itulah pilihan dari kehendak kita dan setiap dari kita akan menemukan satu esensi yang berangkat dari kesadaran dan aku tidak mengatakan kesadaran itu haruslah menyangkut kebaikan dan pada dasarnya semua manusia sama!”

Alisan hanya diam seperti mematungnya gubuk yang kami singgahi, meski dirintiki hujan yang begitu riuh.

“Bukakan matamu, dan bagaimana menurutmu?” Ujar Alisa yang sedang mengembungkan tubuhnya dengan gamis yang direnggangkannya. Nuril tampak bingung bergerutu seolah ingin bertanya apa maksudnya. “Liat jika aku yang sekarang seperti ini, apa pendapatmu?” tanyanya; kini ia mulai ceria dengan melebarkan senyum tipisnya yang begitu manis.

“Aku ingin pertegas; masalah ini biarkan Tuhan yang menilai. Tapi bagus, paling tidak setiap perempuan yang menggerayangi matahari siang tidak menenggelamkan pandangan kaum pria. Kau tahu, pandangan semacam itu—bukan itu, maksudku pandangan yang baik adalah pandangan yang terdapat kesan dan simpati terhadap suatu objek.”

“Ya, aku bahagia mendengarnya.” Kemudian melanjutkan, “Kau tahu, aku seorang ekonom, sebuah buku telah memperdayai jalanku. Hukum permintaan kurang lebihnya seperti ini; Apabila permintaan terhadap suatu barang meningkat maka penawaran akan berkurang. Perubahan dalam diriku disebabkan oleh hukum ini.”

“Sudah lama kau tak mengajakku diskusi, pasca kau berkenalan dengan Elena. Tapi, tolong kau perjelas sedikit tentang hukum itu—barangkali logika murni? Atau?”

“Sudah-sudah, kau seorang agamais tak mungkin pembahasannya merujuk ke situ terlalu enteng kau berbicara philoshopie. Jelasnya, semakin murah dirimu maka orang akan semakin banyak membelimu. Bisa kau aktualisasikan dalam kehidupanmu. Buktikan! ” Jawabnya penuh bangga dan lagi-lagi ia merasa sangat gembira.

Inilah waktu yang ditunggu-tunggu Nuril, tentang dinamika, tentang dialektika, tentang diskusi, sudah lama ia menunggu indahnya seperti ini suasana yang mirip dengan waktu-waktu menunggu bangunnya senja.   

Sementara lamat-lamat gerimis mengguyur semakin deras. Tidak disertai angin, namun keadaan seperti ini tak memungkinkan bertahan lebih lama. Langit pun semakin gelap mirip gelap yang berkabung pada Alisa sewaktu perjalanan tadi. Barangkali langit turut bersedih. Maka hujan ini adalah bentuk kesedihannya yang merajalela akibat tak memberikan kehidupan bagi bumi.

Gubuk kecil itu, seiring menderasnya hujan tampak rapuh. Dan di sudut terdapat pipa kecil yang setelah diselidiki oleh Nuril pipa itu digunakan sebagai saluran irigasi. Karena hujan menderai-derai dan makin lama makin meninggi air yang kalah diresapi air maka di lubang sudut gubuk itu terbentuklah sebuah sungai kecil yang menandakan pertemuan ini  telah berakhir.

Masing-masing dari keduanya bergegas pulang dan berharap akan dipertemukan lagi sesuai dinamika hari ini, meski terdapat sungai kecil yang diam-diam merambat namun disela-sela delik dan kantuk mata Alisa juga terdapat sungai kecil yang sama diam-diamnya juga mengendap, membentuk genangan, memberikan pantulan gambar seolah cermin, kemudian Nuril melihat dirinya dengan senang hati.