Lampai rumpun bambu mampir sejenak pada dada sungai
mengucap salam kepada pemilik hikayat purba
ada sampan membelah raut kelam wajah keruh arus waktu.

Di ujung ranting karamunting,
duduk membatu seorang pengembara tua
menjinakkan sajak-sajak liar yang menyembul dari rahim sungai
sembari membaca perjalanan pusara daun silara menuju bilik halimun
hingga perjamuan arus kian membawa lanting lewati semadi ilung
yang bermukim di Sungai Barito.

Ada kejenuhan menatap senja dari jembatan ini
membaringkan rindu pada peraduan di pentas lazuardi.
Payau, bermain tangkai-tangkai basah mawar yang usang
sebagaimana angin memanjat daun muda kala kita menyulam gercik sungai
menjadi sebatang metafora  dalam lekuk gemalai penari gerimis.
Masih asyik berenang pada dekapan riak sungai di keningmu
melupakan suluh yang hampir padam melawan kesiur bayu
ataupun aku hanya ingin menyudahi kenduri zaman ini
entahlah.

Dan aku kembali berpulang menuju sebidang rumah tua di sudut sunyi
melafalkan jejak-jejak tertinggal pada temali di tiang kelam
seusai isak tangis batu tua di pelataran debu membingkai senja kuning
beraroma melati berujung purnama berambut perak
tanpa kusadari sungai di belakangku menjadi seonggok batu.
Harapku, sungai di keningmu terus mengalirkan hikayat-hikayat nirmala
tiada terpanggang bangunan-bangunan congkak
dan generasi mendatang masih bisa bernafas dalam kearifan sungai.