Jagat Mayantara dihentak oleh sebuah kabar mengejutkan dari negeri Ginseng. Mantan personel girlband grup f(x) bernama Sulli ditemukan meninggal dunia di apartemennya di kawasan Seongnam.

Seperti yang dilansir oleh pihak kepolisian, wanita bernama asli Choin Jin Ri itu ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa karena gantung diri di apartemennya di Seongnam oleh sang manajer pada sore hari tanggal 14 Oktober 2019.

SM Entertainment selaku agensi kemudian merilis pernyataan resmi, membenarkan bahwa Sulli telah tutup usia. Polisi menambahkan bahwa Aktris yang pernah memerankan 'adegan panas' dalam film Real (2017) ini meninggal bunuh diri akibat menderita depresi berat (Shibal).

Sebenarnya, kasus bunuh diri yang melibatkan aktris di Korea Selatan bukanlah hal baru. Sulli hanyalah satu dari sekian banyak selebritas Korea yang tewas karena mengakhiri hidupnya. Sebelumnya ada U Nee alias Lee Hye Ryun, Jang Ja Yeon, Lee Eun Ju, Woo Seung Yeon, dan Kim Jong Hyun.

Bunuh diri memang sudah menjadi momok laten di negara bernama resmi Daehan Minguk ini. Korea Selatan menyabet peringkat tertinggi ke-10 di dunia menurut Organisasi Kesehatan Dunia, serta peringkat bunuh diri kedua dalam OECD setelah Lithuania. Paling tidak, tercatat angka bunuh di sana mencapai 36,8 dari 100.000 penduduk.

Mungkin publik penasaran, mengapa warga Korea Selatan gemar sekali bunuh diri? Padahal mereka seharusnya hidup lebih bahagia, sebagai warga dunia pertama. Ketimbang rakyat  Indonesia yang berkubang dalam spiral kemiskinan dan penderitaan tak terperi.

Argumen pertama yang penulis tawarkan adalah argumen genetik. Warga Korea Selatan memiliki haplogrup O2B dan C2e, yang banyak ditemukan di antara suku suku Siberia, di antaranya Nivkh. Ya, etnis Korea masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Suku Nivkh.

Kehidupan suku Nivkh diamati oleh seorang Yahudi bernama Lev Chaim Sternberg. Ia dibuang ke Manchuria karena menjadi simpatisan dari ormas Anarkis bernama Narodnaya Volya, yang sukses membunuh Tsar Alexander II.

Di pembuangan, ia banyak berinteraksi dengan suku-suku pribumi, dan ia menemukan kesimpulan bahwa bunuh diri bukan merupakan hal yang langka di antara Suku Nivkh. Bukan kemiskinan yang mendorong mereka mengakhiri nyawa, melainkan depresi, kegelisahan, dan penyesalan. Kebiasaan itu terekam di dalam cetak biru DNA dan diturunkan pada warga Korea modern.

Argumen kedua yang penulis tawarkan adalah argumen sosio-ekonomi. Warganet Korea sendiri mencetuskan term Hell Joseon untuk menggambarkan kebuntuan kondisi sosial ekonomi yang mendera mereka. Hell artinya neraka. Joseon adalah Dinasti yang berkuasa di Korea selama 600 tahun.

Neraka itu dimulai sejak Presiden Park Chung Hee berkuasa lewat Kudeta Militer 16 Mei (O-illyuk gunsa-jeongbyeon). Park Chung Hee berhasil memodernisasi ekonomi Korea Selatan yang tadinya masih bertumpu pada sektor agraria, berkat dukungan Barat. Akan tetapi, kue ekonomi itu dibagikan oleh Park kepada para konglomerat yang dikenal sebagai Chaebol, seperti Samsung, LG, Hyundai, Lotte.

Sialnya, Korea Selatan belum sepenuhnya modern, hanya di kulitnya saja. 600 tahun Dinasti Joseon yang bersendikan Neo-Konfusianisme, dilanjutkan dengan penjajahan Jepang yang kolektivistik dan feodalistik, bertumbukan dengan modernisme barat yang datang di pertengahan abad 20.

Implikasinya, meritokrasi tidak berjalan. Ada nepotisme di perusahaan-perusahaan Chaebol, di mana keluarga lebih diutamakan untuk gaji dan posisi tinggi. Mereka yang bukan keluarga, merangkak ke atas dengan cara intrik dan menjilat.

Selain itu, terdapat pula ambivalensi kultural di mana modernisme yang dibawa Amerika turut meniupkan  individualime dan kompetisi, sedangkan warisan Konfusianisme sisa Dinasti Joseon di mana orang-orang tua masih bercokol di posisi puncak, masih diutamakan.

Ambivalensi kultural itu dapat kita baca menggunakan Teori Kelas Sendok (Sujeo Gyegeumnon) yang populer di antara netizen Korsel. Teori ini mempostulatkan bahwa siapa yang lahir dari keluarga kaya atau sendok emas, memiliki peluang lebih sukses ketimbang mereka yang lahir dari keluarga proletar atau sendok plastik.

Teori kelas sendok sebenarnya bisa kita bedah menggunakan pisau analisis berupa konsepsi seputar silang sengkarut banalitas simulakra yang dicetuskan oleh Jean Baudrillard. Menurut  Baudrillard, manufaktur hiperrealitas menciptakan masyarakat yang “satu dimensi” atau “affirmatif.”, sehingga masyarakat cenderung menelan ilusi realitas alternatif borjuasi.

Akibatnya mengerikan, orangtua-orangtua kaya di Korsel kerap memaksakan anaknya mengikuti pelbagai jenis bimbel atau Hagwon agar kelak bisa masuk kampus-kampus favorit seperti Seoul National University, Korea University, dan Yonsei University.

Belum lagi mereka yang ingin berkarier di dunia pop kultur seperti menjadi boyband atau girlband. Mereka menghadapi persaingan ketat di antara mereka sendiri. Sesudah sukses pun mereka harus dieksploitasi oleh manager maupun agensi hiburan. Uang yang banyak akhirnya tak mampu menutupi stres akibat tuntutan yang berlebihan.

Adapun mereka yang miskin, ya seperti karakter-karakter utama dalam film Parasite (2019), di mana membeli rumah saja tak mampu, hidup dari gali lubang tutup lubang sambil disuguhi secara berkala oleh ilusi kemewahan golongan borjuis yang memonopoli kue ekonomi.

Maka, jika kita meminjam pendapat Emile Durkheim lewat magnum opus-nya Suicide: A Study in Sociology (1897), mayoritas kasus bunuh diri di Korsel dapat dikategorikan sebagai bunuh diri anomik. Sebuah varian bunuh diri yang terkait dengan rendahnya regulasi sosial, ketika negara absen mengatur keseimbangan sosial.

Memang malang sebenarnya warga Korsel. Selain mereka memiliki bakat genetik untuk melakukan bunuh diri, kemudian diperparah oleh ambivalensi budaya dan imbas buruk kapitalisme. Alhasil, hal-hal itu lantas bertumbukan, menyulut sumbu depresi di antara warga Korea, yang membuat mereka memilih jalan lain untuk menciptakan kebahagiaan yang hakiki, yaitu bunuh diri.

Karena warga Indonesia, bukannya harus bersyukur, ya kita juga menderita memang. Tapi seyogianya kita mengerti, dari contoh Korea Selatan, bahwa tiap bangsa memiliki masalah dan problematikanya sendiri. Menjadi warga negara maju tak semerta-merta imun dari penderitaan dan kesengsaraan.