Saya menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja di kota kelahiran, Muntilan. Sebuah kota kecil di kaki Gunung Merapi. Masa kanak-kanak saya lebih suka nonton kesenian rakyat jatilan dan campur.

Jatilan di Muntilan berbeda dengan jatilan di tempat lain di Jawa Tengah. Jatilan Muntilan tidak hanya menjual pasukan ‘bingung’ menaiki anyaman bambu pipih yang diperlakukan seperti kuda dua dimensi. Kuda lumping wis gampangannya.

Ya. Jatilan Muntilan melibatkan makhluk-makhluk lain penghuni planet biru ini untuk ditampilkan. Ada bangsa lelembut yang digambarkan melalui sosok buta (baca: buto dengan huruf o dibaca seperti pada kata orok), ada juga berbagai jenis binatang. Binatang biasanya digambarkan lewat sosok pitik walik (ayam yang terbalik bulunya), macan, celeng, anjing, dan juga monyet!

Lalu ada pula sosok mutan, setengah lelembut setengah binatang. Atau setengah dewa setengahnya lagi dibagi dua antara binatang dan manusia. Misalnya dalam sosok anoman, subali, dasamuka, dan juga barongan.

Lalu pada masa remaja, saya tak lagi jadi penikmat. Saya sudah bermimikri menjadi pemain. Awal berkarier sebagai pemain Jatilan, saya kebagian peran sebagai rontek atau pemegang bendera.

“Main kok gak pernah ndadi? Rontek, kan, gak boleh ndadi?” seorang teman meledek.

Darah saya mendidih. Marah? Iya, tapi ya nggak bisa apa-apa, wong dia juga pemain jatilan dan pegangnya peran sebagai barongan. Casting paling bergengsi. Jika ndadi (trance), paling sulit sembuh.

Edan, bukan, lha wong ‘kesurupan’ kok jadi ukuran gengsi peran?

Dari rontek, saya ‘naik pangkat’ memerankan monyet. Dari peran inilah drama hidup saya terjadi.

Usai latihan bareng untuk mendapatkan keserempakan gerak, saya selalu dolan ke Jurang Jero atau Keningar. Dua tempat itu adalah hutan pinus yang masih banyak dihuni monyet-monyet liar. Saya barsepeda dan hanya mempelajari gerak-gerak natural mereka.

“Biyangane, dadi munyuk wae angel. Opo maneh dadi menungsa. (Sialan, cuma mau jadi monyet aja susahnya minta ampun. Apalagi jadi manusia),” Contong, kawan akrab yang selalu menemani menggerutu.

Begitulah, tiga tahun saya tabah menjalani peran sebagai monyet dalam sebuah grup jatilan. Selama itu pula saya orientasi, riset, dan pendalaman karakter. Singkat cerita, akhirnya saya sukses memerankan sosok monyet dalam grup jatilan itu.

“Mengko nonton jatilan yuk, ono Edhie Munyuk melu main.(Nanti nonton jatilan yuk, ada Edhie Monyet ikut main),” begitu kira-kira saya mendengar tiap kali mau pentas.

Suatu ketika, rombongan jatilan saya itu pentas. Sudah dua jam kami main dan istirahat setengah jam. Kontrak kali ini adalah tiga babak, jadi pasti sangat melelahkan. Biasanya kalau sudah lelah dan mau istirahat, kami tiba-tiba saja ndadi/kesurupan.

Babak kedua sudah berjalan 45 menit, badan saya mulai lelah. Tapi kenapa tak juga ndadi alias trance atau kesurupan?

“Ini pasti karena karakterisasi saya sebagai munyuk masih belum total,” saya membatin.

Makin total saya mengingat gerak-gerik monyet dan menuangkan dalam tarian saya, ternyata badan makin lemas. Akhirnya saya memutuskan pura-pura ndadi atau kesurupan.

Benar, pawang Jatilan akhirnya menangkap saya. Saya pura-pura berontak. Saya melawan pitingan tangan sang pawang.

“Halah, rasah nemen-nemen. Mung etok-etok wae kok. (Halah, gak usah terlalu serius, kan kamu cuma pura-pura),” bisik sang pawang.

Memang ketika akan mengobati pemain yang ndadi, pawang akan menjambak rambut pemain dan membisikkan sebuah mantera. Jadi bisikan pawang tadi saya yakin tak diketahui para penonton.

Begitulah, saya pura-pura ndadi. Tapi setelah dibisiki untuk berperilaku lebih jinak, saya dilepas. Dibiarkan menari dan mengeksplorasi gestur monyet yang sudah jadi branding saya.

Satu per satu pemain ndadi dan satu per satu pula diobati. Saya selalu berusaha mendekati sang pawang agar ‘diobati’ lebih dulu. Tentu saja biar bisa istirahat.

Pak Suhadi almarhum, sang pawang itu, malah senyum-senyum dan membiarkan saja. Genap babak dua mau berakhir, saya baru ‘diobati’.

Kali lain saya ikut kelompok kesenian rakyat lutungan. Lutungan ini berbeda dengan jatilan. Tapi model pertunjukannya tidak beda jauh. Lutungan ini bisa pakai topeng, bisa juga nggak.

Karena sudah bisa meniru gestur monyet dan mendapat panggilan Edhie Munyuk, tentu saja nggak sulit untuk adaptasi. Badan saya seluruhnya disapu dengan jelaga alias angus. Itu lho, bekas asap warna hitam yang nempel di pantat panic.

Bukan hanya wajah, namun juga perut, paha, pantat dan jika memungkinkan seluruhnya dibalur penghitam ndeso. Tentu saja ini bukan skincare model masker lumpur itu.

Ketika pentas di lapangan Pasturan Muntilan, penonton sangat banyak. Lapangan itu berada di samping SMA Van Lith yang bernaung di Yayasan Katolik, dan juga pondok pesantren Al Iman.

Celakanya, dua institusi yang dikembangkan Yayasan berbasis agama itu memiliki siswa dari timur. Dari Papua dan Indonesia Timur lainnya. Jelas kami khawatir aksi ini akan menyinggung perasaan mereka.

Ketakutan saya menular. Nyaris 30 penari lutungan ini saling berbisik. Apalagi melihat ekspresi penonton ini cukup menyeramkan. Syukurlah, pentas berlangsung lancar dan aman.

Usai pentas dan berganti pakaian, kami bubar. Dalam perjalanan pulang mengendarai sepeda motor, di depan sudah berkerumun orang-orang timur itu.

“Biyangane, jangan-jangan saya bisa disembelih nih,” saya membatin.

Repotnya, saya tak bisa balik badan karena jalan itu nggak ada gang buat cari jalan alternatif. Mau nggak mau harus jalan terus.

“Stop, kakak. Kakak yang bernama Edhie Munyuk, kan?” tanya salah satunya.

“Iya. Maaf, ada apa ya?” saya tak bisa menyembunyikan tubuh yang gemetar.

Badan mereka gede-gede. Dan mereka sangat banyak.

“Kalau saya salah saya, minta maaf. Kesenian kami memang seperti itu, menghitamkan badan bukan berarti untuk menghina saudara-saudara dari timur kok,” saya langsung nyerocos.

Saya diminta mengikuti mereka. Mampus kalau saya ikut karena akan berada di markas mereka. Tapi kalau nggak ikut, tentu mereka bisa marah sembarangan. Akhirnya saya ikuti saja.

“Nah, begini, kakak. Sa su lihat kakak menari bagus. Kami ingin kakak mau ajari kami untuk pentas akhir tahun nanti,” kata yang berbodi paling seram.

Saya diam. Tak bisa berkata-kata dan merasa bersalah karena sudah menanamkan curiga dan stigma.

“Soal honor, kakak tak usah cemas. Kami, meskipun tak punya tambang di Papua, tapi kiriman dari orang tua cukup untuk iuran honor kakak,” lanjutnya.

Makin saya tak bisa ngomong. Perasaan bersalah tak kunjung pergi.

“Nama sa Lambat. Ini kawan Charles. Kita semua bersaudara, kakak,’ katanya.

“Tapi saya sudah telanjur dikenal sebagai Edhie Munyuk, edhie si monyet, karena tarian saya,” saya menjawab.

“Tak usah pusing, kakak. Kita semua manusia. Dan sa su pelajari profil kakak lewat guru. Kakak belajar di hutan untuk meniru monyet. Jadi monyet saja perlu perjuangan, tentu kakak bisa jadi manusia,” katanya.

Plong. Lega.

Malamnya, kami bergerak bersama, menuju kucingan mas Tofa. Kami diskusi tentang munyuk. Kami ngobrol tentang gerak tari berbasis monyet. Kami membahas jurus kung fu berdasar gerak alami naluriah monyet.

Sepuluh tahun berselang, saat saya sedang mandang anggrek-anggrek di kolam belakang, saya mendapat pesan dari Lambat. Dia mengabarkan bahwa beberapa daerah di Papua rusuh. Ia berkirim pesan WhatsApp dengan emoticon menangis.

“Kakak, sa sedih. Itu orang ada yang nggak tahu perjuangan kita meniru gerak monyet dulu. Mereka menyebut kami monyet. Mohon kakak bantu doa, situasi tak memburuk. Kami lagi bergerak, menirukan gerak monyet menjaga harmoni alam. Kami sedang coba dinginkan hati teman-teman kami,” kata Lambat.

Saya diam tak menjawab. Namun kiriman foto Tugu Tungku di Fak Fak dirusak. Saat saya mengunjungi Lambat dan Charlie, diajak keliling Tugu Tungku. Sebuah tugu yang menjadi metafor kebersamaan.

Merujuk metafora tungku untuk memasak yang ditopang tiga batu. Batu-batu harus bersama-sama menyokong tungku agar tidak terguling.

Istilah tungku merujuk pada konsep kebersamaan, toleransi, dan harmoni. Interpretasi mendasarnya menyebutkan tiga batu penopang di bawahnya adalah simbol tiga agama dengan banyak pemeluk di sana, yakni Islam, Katolik, dan Kristen.

Juga banyaknya suku yang menumpang hidup di bumi Papua yang hakikatnya adalah Bumi Tuhan. Saya diam, tapi sibuk menyalakan air. Saya mau cuci muka, agar tak ketahuan anak saya kalau saya sempat menangis.