Warga dunia dihebohkan oleh kabar dari Pulau Sentinel Utara (selanjutnya: Pulau Sentinel), sebuah pulau kecil dari gugus Kepulauan Andaman dan Nikobar yang dekat dengan Teluk Benggala, India. 

Pada sekitar 16-17 November 2018, John Allen Chau, seorang misionaris Kristen dari Amerika Serikat, meregang nyawa akibat serangan beberapa orang suku asli Sentinel, salah satu suku yang dianggap paling terisolir di dunia saat ini; mereka juga terkenal sangat garang dengan pendatang.

Berdasarkan saksi mata nelayan yang mengantar Allen, mereka melihat Allen dengan kondisi leher terikat lalu diseret oleh beberapa orang suku Sentinel ke pesisir pantai. 

Seandainya saya jadi nelayan itu, mungkin saya sudah panik gemetar ketakutan. Tak terbayang lagi kalau seandainya saya menjadi Allen untuk mau datang ke pulau itu. Apalagi dengan reputasi Pulau Sentinel sebagai pulau terisolir "kawasan berbahaya" yang dilabeli oleh pemerintah India.

Dari catatan jurnal Allen yang tertinggal, tercatat bahwa kedatangannya di sana sempat disambut dengan hujan panah dari penduduk setempat. Sungguh aneh sekali, di abad ke-21 ini masih ada peristiwa terbunuhnya pendatang karena ulah suku primitif yang hidup terisolir. Tak heran berita ini menyita perhatian banyak orang.

Mengapa suku Sentinel bisa tampak begitu kejam dan membunuh Allen? Banyak media menyimpulkan bahwa peristiwa itu terjadi karena terisolir dan tertutupnya suku Sentinel dengan dunia luar. Ditambah lagi dengan bayangan pengalaman pahit suku Sentinel terhadap kedatangan orang asing yang pernah membawa beberapa orang mereka untuk bahan eksperimen.

Tapi, saya sangat tak puas dengan kesimpulan-kesimpulan itu. Justru pertanyaan paling mendesak yang mesti diajukan adalah: Kenapa suku Sentinel bisa jadi sangat terisolir seperti itu? Bagaimana bisa mereka tetap hidup terisolir di tengah pesatnya laju peradaban manusia lain? Dari mana asalnya suku Sentinel ini?Bagaimana bisa mereka tiba di sana dan berkembang biak?

Sejak menamatkan beberapa buku Jared Diamond, saya melihat peristiwa di Pulau Sentinel ini bukanlah kejadian biasa. Sedikit-banyak, pasti ada pola-pola mendasar sejarah yang melatarbelakangi peristiwa ini. Banyak hal bisa kita pelajari.

Geografis Kepulauan Andaman dan Nikobar

Untuk memahami suku Sentinel di Pulau Sentinel, kita juga mesti paham tentang Kepulauan Andaman dan Nikobar (selanjutnya: Kepulauan Andaman). Sebab Pulau Sentinel adalah bagian kecil dari gugus Kepulauan Andaman. Sayangnya, sebagian besar media tak meliput hal ini. Banyak media yang hanya terfokus pada kematian Allen dan Pulau Sentinel-nya saja. 

Secara geografis, Kepulauan Andaman berbatasan dengan teluk Benggala di sebelah barat dan laut Andaman di timur. Di utara berbatasan dengan Myanmar dan di selatan dengan Indonesia. Nah, Kepulauan Andaman secara administratif masuk dalam wilayah pemerintahan India. Pusat pemerintahannya ada di kota Port Blair.

 

Karena mempunyai pusat pemerintahan, Kepulauan Andaman sekarang ini tidak primitif-primitif amat seperti yang kita kira. Bahkan, pemerintah India menjadikannya sebagai objek pariwisata yang eksotis. Di sana ada museum, pantai, resort, dll. Barangkali mirip seperti Bali-nya Indonesia gitu lah. Kalau mau tahu lebih lanjut, silakan ke sini.  

Secara garis besar, Kepulauan Andaman ditumbuhi vegetasi alami berupa hutan tropis dan bakau di pesisir pantai. Di sana banyak ditumbuhi varietas tanaman yang bisa dijadikan kayu. Banyak di antaranya kini diproduksi secara komersial akibat arus modernisasi. Karena letak terisolirnya, di sana cukup banyak hewan endemik asli, baik di daratan maupun di laut. 

Kepulauan Andaman punya 572 pulau. Tetapi mereka dibagi menjadi lima kategori utama, yakni Andaman Besar, Andaman Kecil, Pulau Ritchie, Pulau East Volcano, dan Pulau Sentinel Utara. Port Blair terletak di Great Andaman karena di sana dianggap memiliki pantai paling eksotis dan indah sehingga dijadikan pusat administratif.

Nah, di Kepulauan Andaman ini tersebarlah suku yang mendiami lima kategori utama pulau tersebut. Orang-orang Andaman ini terbagi menjadi lima suka utama: suku Andaman Besar, Jarawa, Jangil, Onge dan Sentinel. Dari kelima suku itu, kini suku Jangil dipastikan punah. Jadi, kini hanya tersisa empat suku. 

Hampir sebagian besar suku itu hidup sebagai pemburu pengumpul. Gaya hidup yang dipraktikkan pada zaman paleolitikum (zaman batu). Menurut survei dari kajian antropologi India, Centre for Cellular and Molecular Biology (CCMB), diperkirakan suku-suku itu berasal dari zaman es tengah sekitar 60.000 tahun lalu! Dan luar biasanya, mereka masih tetap bertahan sampai hari ini. 

Dengan gelombang kedatangan para penjelajah eropa pada akhir abad ke-18, sebagian besar suku-suku itu telah berinteraksi dengan dunia luar. Tetapi hanya suku Sentinel saja yang masih tetap kekeuh mengisolir diri. Artinya, suku-suku di Andaman, khususnya suku Sentinel, menjadi kunci penting bagi pemahaman kita tentang dunia manusia prasejarah. 

Suku Sentinel 

Siapakah suku Sentinel ini? Dari mana asal mereka? Bagaimanakah budaya mereka? Bagaimana bisa mereka tiba di sana? Bagaimana mungkin mereka bisa bertahan hidup dalam kondisi terisolir sejak 60.000 tahun lalu?

Sesungguhnya cukup sulit menjawab pertanyaan ini. Para antropolog masih berdebat untuk menjawabnya secara pasti. Hal ini disebabkan karena tak bersahabatnya penduduk suku Sentinel dan terbatasnya akses dari pemerintah India bagi kunjungan ilmuwan. Sehingga sulit sekali mengumpulkan informasi yang spesifik.

Tercatat, kunjungan ilmuwan pertama ke Pulau Sentinel adalah seorang antropolog India bernama T.N. Pandit pada 1967. Tetapi tak banyak informasi spesifik yang didapat.

Meskipun begitu, untungnya masih ada data-data yang cukup memberi gambaran signifikan. Misalnya, dari penyelidikan genetik yang dilakukan Dr. Singh dan kawan-kawan. Karena suku Sentinel sangat tertutup, mereka coba meneliti DNA suku di sekitarnya: Onge, Jarawa, dan Andaman Besar. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka adalah keturunan dari gelombang pertama orang Afrika yang melakukan migrasi Out of Africa ke Asia Tenggara hingga Oseania lewat rute Migrasi Pesisir (coastal migration) yang dimulai kira-kira 100.000 sampai 70.000 tahun lalu. 

Jika kita asumsikan bahwa secara genetik suku Sentinel masih termasuk dalam rumpun nenek moyang suku Onge, Jarawa, dan Andaman Besar itu, maka suku Sentinel juga berasal dari manusia Afrika yang melakukan gelombang migrasi pertama keluar benua Afrika. 

Hal ini didukung dengan ciri-ciri morfologis suku Sentinel itu sendiri. Banyak kemiripan di antara suku Jarawa, Onge, dan Andaman Besar dengan suku Sentinel. Antropolog menggolongkan mereka ke dalam kategori negrito. Mereka memiliki perawakan pendek, kulit gelap, rambut keriting yang mirip dengan orang pigmi Afrika. Bahkan, Dr. Singh dkk. mengatakan ada hubungan dekat antara suku-suku di Andaman dengan suku Aborigin di Australia. 

Adakah bukti lain untuk menyanggah kesimpulan ini? Dalam bukunya, Guns, Germs & Steel, Jared Diamond mengakui bahwa terjadi peristiwa penting sekitar 100.000-60.000 tahun lalu di Afrika. Peristiwa ini dinamakannya dengan Lompatan Besar ke Depan, yakni ditandai berkembangnya penyempurnaan laring sebagai dasar anatomis bagi bahasa modern, yang pada gilirannya berpengaruh pada penyaluran kreativitas manusia. Hal ini memungkinkan manusia menciptakan teknologi pelayaran untuk melakukan migrasi lewat laut.   

Afrika itu, kan, luas, di Afrika bagian mana tepatnya peristiwa Lompatan Besar ke Depan itu terjadi? Menurut Steve Olson, dalam bukunya Mapping Human History, peristiwa itu terjadi di sekitar Etiopia, Kenya dan Tanzania modern (Afrika Timur). Dengan kata lain, kemungkinan besar ada hubungan genetik dekat antara orang Afrika dengan suku-suku di Andaman, khususnya suku Sentinel.

Maka skenario singkatnya sebagai berikut: sekitar 100.000 tahun lalu Homo sapiens awal mengalami evolusi penyempurnaan laring. Kemampuan bahasa meningkat. Kemudian sebagian dari mereka bermigrasi keluar ke Afrika melalui rute Migrasi Pesisir. Ada yang melalui daratan (semenanjung Arab) dan berlayar lewat laut. Sekitar 60.000 tahun lalu mereka terjebak di Kepulauan Andaman dan sekitarnya (Pulau Sentinel). Lalu, mereka terisolir dan berevolusi secara terpisah hingga bertahan sampai hari ini.

Sampai sekitar 40.000 tahun yang lalu, para imigran Afrika ini berhasil mencapai benua Australia dan berkembang menjadi suku Aborigin. Meskipun mereka menempuh arah evolusi yang berbeda karena pengaruh isolasi geografis, mereka sama-sama tetap menjalani hidup sebagai pemburu pengumpul.  

Tetapi, ada persoalan yang menarik di sini. Di manakah para manusia imigran dari Afrika ini menginjakkan kaki pertama kali? Di pulau Sentinel Utara lalu baru menyebar ke Kepulauan Andaman Besar? ataukah sebaliknya?

Ada 2 hipotesis untuk menjawab persoalan ini. Pertama, imigran yang tiba adalah imigran dari darat. 

Mengingat peristiwa migrasi ini terjadi di zaman es, besar kemungkinan mereka menyeberang melalui lapisan-lapisan es. Jika ini benar, maka para imigran Afrika datang ke Kepulauan Andaman lewat Myanmar. Sebab jarak daratan yang paling dekat adalah Myanmar. 

Hipotesis saya ini juga diperkuat oleh hipotesis lain dari Chaubey & Endicott (2013) dan juga Dr.Singh (2001). Mereka menyimpulkan sempat terbentang jembatan es antara Myanmar dan Kepulauan Andaman. Lalu, ketika es mencair, para imigran ini akhirnya terisolir secara sempurna. Jika berpijak pada rute ini, maka Kepulauan Andaman Besar utara lebih dahulu didatangi imigran. Kemudian baru mereka lanjut ke Pulau Sentinel. 

Kedua, imigran yang tiba adalah pelaut. Besar kemungkinan mereka menyeberang dari India kemudian ke Kepulauan Andaman baru ke Pulau Sentinel. 

Jika mengacu dari kepadatan jumlah populasi keempat suku itu, nenek moyang pertama tampaknya tiba pertama kali di Kepulauan Andaman Besar. Baru secara bertahap mereka menyebar ke pulau lain, termasuk ke Pulau Sentinel. Sebab di antara kelima suku di sana, suku Sentinel-lah yang populasinya paling sedikit. 

Di sisi lain, dengan mempertimbangkan ukuran Pulau Sentinel yang sangat kecil, kecil kemungkinannya para imigran awal menginjakkan kaki terlebih dahulu di sana. Ini juga membuat saya yakin bahwa Pulau Sentinel adalah pulau terakhir yang dihuni oleh para imigran awal. Dan karenanya menjadi salah satu sebab suku Sentinel terisolir sejak sekitar 60.000 tahun lalu. 

Lalu, bagaimana mungkin mereka bisa bertahan hidup dalam kondisi terisolir itu?

Jika mempertimbangkan kondisi geografisnya dan kesamaan budaya hidup dengan suku Jarawa, tampaknya suku Sentinel mengandalkan makanan laut dan berburu binatang di hutan, khususnya babi. Hutan lebat mereka sepertinya cukup untuk menyediakan biji-bijian.

Tentunya kembali diingatkan, semua kesimpulan ini atas dasar jika suku Sentinel berasal dari nenek moyang yang sama dan berkerabat satu satu sama lain secara genetik dengan suku-suku Andaman lainnya. 

Bagaimana bisa mereka bertahan dengan sumber makanan yang terbatas? Siapa yang mendomestikasi babi ke sana pertama kali? Bagaimana bisa mereka mempertahankan pohon-pohon di sana tanpa menebangnya selama 60.000 tahun? Bagaimana laju pertumbuhan penduduk di Pulau Sentinel? Apakah mereka terancam punah? Jika mereka bisa bertahan selama isolasi 60.000 tahun, apakah ada harapan mereka bisa bertahan 1000 tahun ke depan?

Jawaban bagi semua pertanyaan itu tetap terselubung misteri jika suku Sentinel masih memilih untuk mengisolir diri dari dunia dan tak ada upaya lebih lanjut dari pemerintah India. Dan dengan demikian, pintu kita ke dunia manusia prasejarah akan tetap terkunci.