Menjadi mahasiswa jurnalistik berarti sudah siap hidup di bawah tekanan. Bagaimana tidak, dunia jurnalistik yang tak bisa lepas dari kegiatan pers ini memang terkenal keras karena pressure dan deadline yang gila-gilaan.

Dunia jurnalistik yang identik dengan media ini mengharuskan kita untuk tahan banting dan tidak baperan. Sebagai mahasiswa jurnalistik, kita akan ditekan habis-habisan. Meskipun belum bekerja di media, kita terlebih dahulu ditempa layaknya seorang jurnalis profesional.

Di dunia perkuliahan jurnalistik, mahasiswa ditempa sedemikian rupa, tidak hanya mental tapi juga fisiknya. Ada banyak tugas yang harus digeluti, menulis berita untuk media cetak yang jenisnya beragam, dari hard news sampai soft news, berita TV, berita radio, berita online, liputan mendalam hingga fotografi dan editing berita dan artikel. Belum lagi jurnalisme data yang mesti dikuasai.

“Kan kamu belajar komunikasi, belajar wawancara juga iya, kamu yang lobilah."

Mahasiswa jurnalistik juga terkadang dijadikan pelobi atau komunikator untuk acara atau urusan tertentu. Memang tidak bisa dimungkiri bahwa mahasiswa jurnalistik mempelajari teknik retorika dan wawancara yang baik.

Dari peristiwa tersebut, maka terjadilah mahasiswa jurnalistik yang tangguh dan punya kepercayaan diri yang tinggi. Dituntut harus selalu siap di berbagai kondisi, tak jarang juga bakal jadi manusia yang sedikit populer.

Sebagian besar mahasiswa jurnalistik mengeluhkan banyaknya tugas yang berikan dosen. Kita selalu dicekoki tugas yang berujung pada keahlian tulis-menulis. Dituntut untuk menulis secepat dan seefektif mungkin. Bahkan dalam dunia fotografi, yang bergelut dalam jurnalistik ini mesti peka terhadap gambar untuk kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan.

Sedikit saja kesalahan dan pengumpulan tugas yang tak sesuai deadline, status sebagai mahasiswa jurnalistik harus siap disalah-salahkan dan menjadi paku tajam yang menghujam ulu hati. Tak jarang asam lambung jadi ikut naik, jadi muak.

Sebab itu, mahasiswa jurnalistik selalu memutar otak lagi dan lagi, mempercepat kinerja dan memperluas wawasan untuk menunjang proses tugas yang tiada akhir, sehingga terbentuklah karakter pantang menyerah dan berwawasan yang luas.

Sebagai calon jurnalis, yang nanti pekerjaannya mencari berita, tentu harus pula mencari narasumber untuk memperkuat karyanya. Maka, sudah barang pasti kita harus tahan banting dan tahan malu.

Mencari berita dan mengejar-ngerjar narasumber, belum lagi tantangan ketika narasumber bersikeras menolak untuk diwawancarai. Di sinilah tantangan sulitnya tugas kejurnalistikan, mengejar-ngejar sampai harus memohon pada narasumber. Bahkan tak jarang yang didapati hanya bentak keras.

Namun mahasiswa jurnalistik ini tahan banting dan pantang menyerah. Kita tahu bagaimana seharusnya kita bersikap dan mengambil tindakan. Tahu kapan kita harus mengejar dan kapan kita harus berhenti. Intinya, anak jurnalistik itu peka!

Tugas yang tidak mudah akan selalu menjadi santapan sehari-hari mahasiswa jurnalistik. Tak seperti mahasiswa jurusan pada umumnya yang mungkin hanya diberatkan dengan tugas-tugas seperti makalah, paper, dan praktikum. Bagi mahasiswa jurnalistik, itu sudah biasa dan menjadi makanan sehari-hari.

Banyak sekali tugas yang diberatkan pada mahasiswa jurnalistik, dari menulis, menyunting berita sampai harus mengelola sebuah media. Bahkan dalam mencari berita pun sampai membuat mahasiswa jurnalistik ingin pindah jurusan.

Meskipun begitu, mahasiswa jurnalistik tetap terlihat tegar dan santai. Mahasiswa jurnalistik memang selalu ingin terlihat santai dalam menghadapi tugas yang bertubi-tubi. Bagaimana tidak, tugas jurnalis yang meskipun berat, mengharuskan mahasiswanya turun langsung ke lapangan dan tugas akan berakhir menjadi suatu karya tersendiri.

Dan memang itulah yang diinginkan oleh mahasiswa jurnalistik. Ke sana-kemari, memotret dan mencari berita sampai berakting.

Hal tersebut menjadikan mahasiswa jurnalistik menjadi mahasiswa yang awet muda serta multi talenta. Kita siap baik di depan atau di balik layar, kita cepat dan tangguh.

Meskipun bukan mahasiswa jurusan ilmu hukum, yang namanya jurnalistik juga harus paham UU Pers, kode etik jurnalistik, UU penyiaran, dan bahkan UU ITE. Kita harus tahu dan menerapkan aturan-aturan dalam penulisan dan pembuatan berita di media massa.

Menjadi mahasiswa jurnalis, otomatis kita jadi pintar berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Karena dengan menjadi mahasiswa jurnalistik, kita harus bisa diandalkan dalam menciptakan produk tulisan yang berkualitas.

Anak jurnalistik tidak pernah takut sama yang namanya kucel. Selain terbiasa menerjang panas dan hujan, mahasiswa jurnalistik tidak takut terlihat kucel sampai dikira tidak mandi-mandi. 

Bagaimana tidak, tugas kita yang selalu di lapangan sudah pasti membuat kita terlihat berantakan. Jadi terbayang, kan, bagaimana rupa kita waktu masuk kelas setelah liputan?

Belajar jadi detektif pun harus kita kuasai. Ini seru sekaligus menegangkan! Mata kuliah reportase investigasi mengharuskan untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus layaknya polisi. Secara tak langsung, kita dilatih menjadi detektif. Meskipun tak didukung alat-alat canggih seperti detektif conan, tetapi kita masih punya smartphone untuk mengumpulkan data.

Itulah suka duka kita, mahasiswa jurnalistik. Ada masih banyak lagi sih yang jika disebutkan semua bisa bikin kamu jengah buat bacanya. Sekian dulu, semoga menjadi inspirasi dan bermanfaat.