… mendapat anugerah tanpa pernah disangka.

Fisikawan yang Mendapat Hidayah

Selama dua tahunan, pada kisaran akhir Agustus 1994 hingga Oktober 1996, saya pernah ikut menumpang hidup, ngenger, sekaligus menimba ilmu pengetahuan, ngangsu kaweruh, kepada seorang Ustad asal Pekalongan, Haji Abdul Mutholib Yahya, seorang pria keturunan Yaman, yang punya leluhur telah beratus tahun tinggal di tanah Jawa, salah satunya adalah pelukis besar Indonesia, Raden Saleh.

Tinggal di rumah beliau yang luas nan asri alami di bilangan Jl. H. Najihun Margaguna Radio Dalam Jakarta Selatan, tak jauh dari pertigaan Jl. Haji Nawi, yang juga dikenal sebagai jalan Koes Plus, dengan jalan poros arah ke Pondok Indah sampai Lebak Bulus.

Pak Yahya, demikian saya memanggil beliau. Sebaliknya, beliau memanggil saya Yudi, nama panggilan saya semasa kecil. Istri beliau bernama Layla, juga keturunan Timur Tengah. Sama dengan Pak Yahya, leluhur Bu Yahya juga telah menetap di tanah Jawa, sejak ratusan tahun lalu.

Bahkan, Pak Yahya sekeluarga mendapat gelar kehormatan bangsawan dari Kesultanan Jogjakarta, sehingga berhak mencantumkan nama Raden dalam nama-nama beliau. Termasuk, bagi kedua putra beliau berdua, yang saya memanggilnya Mas Abbas dan adiknya, Idrus.

Pak Yahya, yang fasih bahasa Arab, Jawa, baik yang ngoko maupun kromo inggil, Inggris, Belanda, Cina dan tentunya Indonesia, semasa muda pernah menempuh pendidikan jurusan Fisika di Institut Teknologi Bandung. Beliau lalu melanjutkan studi pada bidang yang sama di salah satu perguruan tinggi di Cina, pada awal hingga pertengahan tahun 1960-an.

Berbekal gelar sarjana Fisika, beliau meniti karier di sebuah perusahaan tambang minyak milik Belanda yang beroperasi di wilayah Asia, termasuk Indonesia.

Jelang akhir tahun 1960-an, Pak Yahya yang baru saja berkeluarga, hijrah dari Pekalongan ke Jakarta. Beberapa tahun sempat pula menyewa rumah, sebagaimana pasangan keluarga baru yang mengembara di kota besar, hingga akhirnya menetap di kawasan hunian paling selatan di Jakarta waktu itu, di daerah Margaguna. Sebuah kawasan yang memiliki kontur tanah tertinggi di Jakarta.

Tahun 1960-an hingga awal 1970-an, sama sekali belum ada jalan poros Pondok Indah menuju Lebak Bulus. Wilayah Pondok Indah waktu itu masih hutan karet yang lebat. Jalan menuju wilayah lebih selatan lagi, masih lewat Jl. Fatmawati, yang melewati jalan kecil sepanjang Jl. H Nawi, setelah melalui poros jalan raya Radio Dalam.

Pak Yahya putra seorang pemuka agama Islam di Pekalongan, yang tentunya bisa membaca dan berbahasa Arab, baru pada pertengahan tahun 1980-an mendapat anugerah tanpa pernah disangka. Berupa hidayah mampu membaca dan langsung memaknai surah-surah dan ayat-ayat Qur’an ketika mampir ke sebuah toko buku, saat mengantar Istri beliau sedang belanja di kawasan Senen, Jakarta Pusat.

Beberapa hari setelah pengalaman luar biasa tersebut, beliau memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan multinasional bidang eksplorasi dan eksploitasi minyak bumi. Lalu benar-benar meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk melakukan syiar Islam. Atas pilihan itu, Keluarga beliau pun sangat mendukung.



Tapi, memang itu salah satu minat saya, yaitu; Astronomi…

Amanah Membaca dan Menyusun Risalah

Pertama saya mengenal Pak Yahya, saya menilai beliau sebagai sosok yang aneh.

Karena, banyak hal yang menjadi pemahaman baru bagi saya waktu itu, yang baru saja mendapat kesempatan untuk hidup dari kota kecil yang adem ayem, ke ibukota yang panas dan sangat dinamis. Salah satunya, adalah tentang bermunculannya pemuka-pemuka agama, ustadz-ustadz baru waktu itu, yang mulai marak awal tahun 1990-an.

"Dasarnya apa ya mereka itu menyebar banyak informasi dalam mimbar-mimbar baik yang terbuka maupun di dalam masjid-masjid? Buku-buku acuan apa saja yang pernah mereka baca?" Begitu pernah Pak Yahya berpesan. Pesan itu pulalah yang kemudian menjadi inti dari pola ngangsu kaweruh yang saya jalani kepada beliau.

Suatu sore akhir pekan, sehabis sholat Ashar, seperti biasa kami mengobrol santai di teras rumah bagian dalam yang menghadap ke sebidang tanah berupa halaman luas, menghampar hijau rerumputan, satu pohon kelapa gading menjulang, beraneka pohon dan tanaman, serta berhias suara puluhan burung perkutut saling bersautan.

Beberapa burung perkutut terdengar punya cengkok suara fals, sengau; "Kleiyoo ketequq...". Suatu cengkok suara perkutut yang merdu, prima, bukan sekedar cengkok perkutut standar; "Kuur ketekuk kuk kuukk...”

Juga ada seekor burung beo, yang fasih mengucap dan menjawab salam yang diulang-ulang; "Waalaikum Salaam, waalaikum salam!", serta meniru suara orang lagi berjualan gemblong; "Gembloong... Gemblooongng... Gemblong”.

Tata letak halaman terbuka nan luas rumah Pak Yahya memang berada di dalam. Rumah beliau dari luar tampak sepi dan sekedar sepetak garasi. Tapi begitu masuk ke halaman rumah utama, tampak sangat teduh dan asri, sama sekali tak berasa sedang hidup di Jakarta, namun di kampung halaman.

Ya, sore itu sambil menikmati teh tubruk dalam poci, Pak Yahya bertanya kepada saya, apa minat saya selain menekuni pekerjaan.

Pertanyaan itu saya jawab santai, hampir sekenanya. Tapi, memang itu salah satu minat saya, yaitu; Astronomi, ilmu perbintangan, tentang alam semesta luar angkasa nan luas seolah tak bertepi.

Lalu, topik bahasan kami pun sedikit mengulas tentang alam semesta. Termasuk waktu itu saya sampaikan ada sebuah buku laris dan fenomenal, karya fisikawan bernama Stephen Hawking yang berjudul a Brief History of Time, Riwayat Sang Kala, demikian terjemahan bahasa Indonesianya.

Keesokan paginya, hari Senin, saya berangkat kerja di sebuah laboratorium uji di kawasan Cilandak. Seperti biasanya, saya naik metromini 72 jurusan Blok M-Haji Nawi. Kemudian berjalan kaki menuruni jalan menuju sebuah pertigaan jalan raya Fatmawati, menyebrang dan siap siaga menanti datangnya metromini S-76 jurusan Blok M-Pasar Minggu, yang lewat sekitar 1/4 jam sekali.

Lalu, saya berdiri di dalam metromini yang hampir selalu penuh pas jam sibuk itu. Setelah sekitar 45 menit menempuh perjalanan menembus kemacetan, saya pun turun di seberang gedung Trakindo Utama. Jalan tol Cilandak poros Lingkar Luar Jakarta, JORR, baru saja dibangun waktu itu.

Begitu terus rutinitas saya naik metromini, hingga sebelum Maghrib saya pulang kembali ke rumah Pak Yahya.

Kemudian, ketika saya masuk kamar tidur saya, ada pemandangan yang mengagetkan. Berupa tumpukan buku ensiklopedia alam semesta di atas meja belajar. Ada 12-an jilid buku besar-besar, tebal, lengkap berisi tulisan, foto dan gambar.

Setelah kami sholat Maghrib, saya pun bertanya semua tumpukan buku tebal berjilid-jilid di atas meja belajar kamar saya itu dari mana dan punya siapa.

"Kamu pelajari saja isinya ya Yud. Hari Sabtu pagi pas kamu gak kerja, nanti kita bahas intisarinya apa." Demikian jawab Pak Yahya.

"Ndak usah kamu pikir itu beli dari mana, di mana. Yang penting ada waktu luang kamu baca, catat intisarinya, Sabtu ini kita ngobrol lagi." Lanjut Pak Yahya menutup obrolan menjelang Isya' waktu itu.

"Oh iya, nanti kapan habis gajian, kamu beli buku Brief History of Time itu ya, yang versi bahasa Inggris saja, biar lebih jelas dan mudah cerna. Terus kita bahas." Tambah Pak Yahya lagi, yang memberi pesan tersirat bagi saya, bahwa duit gaji yang saya terima, sebaiknya disisihkan pula buat menambah pengetahuan. Bukan buat sekedar makan, jalan-jalan, sama pacaran.



"Ini temuan kudu segera ditulis…”

Dapat Ilmu Tapi Selamat Tinggal Malam Minggu

Benar, hari Sabtu pagi sampai siang saya mengobrol dan berdiskusi lagi dengan Pak Yahya.

Seperti biasa, di tempat favorit, yakni teras ruang tamu yang menghadap halaman teduh asri menghijau, sambil duduk di kursi kayu Jati adat Betawi, bersanding cengkok-cengkok merdu suara burung perkutut.

Dari sekian banyak catatan intisari belasan buku ensiklopedia alam semesta jagat raya yang saya rangkum, rupanya Pak Yahya amat tertarik dengan keberadaan benda luar angkasa yang memiliki daya tarik dahsyat, yaitu Black Hole. Atau, yang disebut dalam ensiklopedia itu sebagai Bintang Setan, mengacu sebutan LIPI bagi Black Hole.

"Oh itu benda luar angkasa yang keberadaannya menjelaskan fenomena tentang kiamat. Ada tersurat pada beberapa ayat dan surah dalam Qur’an. Sebentar Yud, kamu bantu saya nulis temuan ini." Tukas Pak Yahya.

Sigap Pak Yahya beranjak dari tempat duduk, lalu beliau buru-buru berjalan cepat menuju ruangan kerja pribadi yang bersebrangan dengan kamar tidur saya sekira 30-an meter jaraknya.

"Iki Yud, tulong kowe sing ngetik, aku sing ndikte ungkoro sak ungkoro..." Bilang Pak Yahya pakai basa Jawa ngoko, "Ini Yud, tolong kamu yang ngetik, saya yang mendikte setiap kata-kata.", sambil menyerahkan sebuah mesin ketik jinjing, beberapa lembar kertas putih dan kertas karbon buat salinan.

Wah, saya nggak menyangka bakal mendapat tugas mendadak, mengetik suatu tulisan. Padahal janji beliau hanya ngobrol-ngobrol saja. Lah, tiba-tiba saya ketiban sampur jadi juru ketik dadakan.

Tapi karena sejak SD kelas IV saya seneng mengetik pake mesin ketik merek Remington punya kantor bapak saya, ya saya pun senang-senang saja.

"Ini temuan kudu segera ditulis, nanti sore buat bahan kajian majelis Taklim... Kamu kudu ikut Yud.” Kata Pak Yahya memberi alasan.

Begitu baru dan pentingnya kata Bintang Setan, sehingga sontak menjadi ide bagi Pak Yahya membuat tulisan singkat perihal keberadaan benda luar angkasa itu, beserta fenomena yang tersirat pun tersurat dalam Al Qur’an.

Saya mencoba telaten dan tekun mengikuti rangkaian kata dan kalimat yang disampaikan oleh Pak Yahya, agar menjadi tulisan yang bisa menjadi topik bahasan dalam ajang berbagi ilmu pengetahuan pada majelis Taklim yang dipimpinnya.

Pak Yahya, karakternya adalah periang, tangkas dalam menyampaikan gagasan pun alasan dan cepat tanggap dalam memaknai suatu bahasan. Tipikal karakter orang yang sangat cerdas.

Petang pun tiba, menjelang Maghrib saya diajak Pak Yahya untuk bertemu dengan kolega-koleganya dalam suatu majelis Taklim.

Saya dikenalkan satu per satu dengan orang-orang dalam komunitas berbagi ilmu pengetahuan dalam bingkai Islam, yang kebanyakan usia para anggotanya terpaut belasan hingga dua puluhan tahun lebih tua dari usia saya waktu itu.

Pak Yahya sendiri, waktu itu berusia sekitar usia saya sekarang, jelang tengah 50-an.

Jadilah saya menikmati malam minggu berkutat dengan kajian ilmu berdasar telaahan dari banyak buku. Padahal, di bioskop Studio 21 Pondok Indah Mall sedang seru-serunya memutar film laga fenomenal, judulnya; Speed, waktu itu.



…tipikal pria cerdas, cekatan. Enerjik.

Gemar Musik Klasik dan Piawai Memetik Gitar

Sepulang dari majelis Taklim, jelang tengah malam, seringkali Pak Yahya memetik gitar klasik merek Yamaha, kesayangannya.

Petikan-petikan kunci melodi gitar klasik gubahan Mendelssohn yang menjadi favorit Pak Yahya pun melantun syahdu, mengiring malam menuju peraduan.

Wawasan saya tentang musik klasik pun bertambah seiring topik bahasan dalam setiap obrolan ringan dengan Pak Yahya.

Komposisi klasik yang terdengar cerah memesona macam gubahan Vivaldi, Mozart dan Mendelssohn memang menjadi favorit Pak Yahya.

Sedangkan karya-karya klasik Beethoven yang melantun muram gelap Beethoven atau yang berirama gahar macam Tchaikovsky, juga irama dansa-dansi gubahan keluarga Strauss, kurang menjadi minat beliau. Wajar, karena Pak Yahya memang tipikal pria cerdas, cekatan. Enerjik.

Sementara, musik populer yang diminati Pak Yahya adalah melodi dan lantunan lagu-lagu Queen. Karakter suara Freddie Mercury yang bening memekik tinggi, memang pas buat seorang Qari.

Adapun untuk dangdut, maka lantunan vokal Evie Tamala yang syahdu mendayu menjadi favorit beliau.

Selain bermain gitar dikala senggang, Pak Yahya juga gemar bermain catur. Langkah pembuka kegemaran beliau adalah gaya Inggris. Kuda, bagi Pak Yahya adalah buah catur yang menjadi andalan, karena sering membuat langkah tak tertebak.

Saya sering jadi korban keganasan langkah kuda andalan Pak Yahya. Jika sudah mematok langkah yang mengancam raja, ster dan benteng secara bersamaan, maka beliau sambil terkekeh bilang; “Catur itu permainan culas Yud. Sama sekali nggak ada ketulusan di dalamnya.”



“…Kamu mbesok kalo hidup jangan kebanyakan gaya…”

Sparepart VW, Pasar Tradisional dan Srimulat

Hari minggu pagi sampai sore juga menjadi saat-saat seru bersama Pak Yahya.

Saya sering diajak ikut serta mendampingi beliau mengisi acara-acara pengajian yang dilaksanakan di kediaman sebuah keluarga di wilayah Jakarta Selatan, seringkali yang hadir pengajian adalah ibu-ibu paruh baya.

Usai memberi ceramah dalam pengajian, habis sholat Duhur, menuju pulang, Pak Yahya biasanya mengajak saya ke pasar loak Taman Puring dengan mengendarai mobil VW Kodok produksi tahun 1970-an.

Tujuannya? Tak lain adalah berburu suku cadang, sparepart mobil VW yang telah masuk kategori langka karena diskontinyu.

Pernah saya diajak lama muter-muter keliling Taman Puring demi mendapatkan sebuah per baja kecil, sebuah suku cadang dalam mesin pembakar.

Pak Yahya memang pengkoleksi kendaraan VW. Ada tiga jenis kendaraan buatan Jerman ini yang menghuni garasi depan rumahnya, yakni VW Kodok, VW Combi dan VW Camat. Semua memiliki kapasitas tenaga di atas 3000 cc, khas mobil-mobil buatan lama.

Pak Yahya dan Bu Yahya juga suka berbelanja memenuhi kebutuhan sehari-hari, bukan di toko serba ada, melainkan pasar tradisional.

Pernah saya diajak oleh beliau berdua berbelanja kebutuhan dapur di sebuah pasar tradisional Blok A Jakarta Selatan.

“Ada seninya Yud, belanja di pasar tradisional seperti ini, ada tawar menawar, harga juga relatif miring dibanding yang dijual di mol-mol. Lha lebih mahal, wong ada biaya kenyamanan dan gaya hidup. Kamu mbesok kalo hidup jangan kebanyakan gaya yo Yud.” Begitu pesan Bu Yahya ke saya yang waktu itu masih membujang.

Baik Bu Yahya maupun Pak Yahya, jika lagi berkumpul bersama keluarga dalam suasana santai di rumah, memang suka melontarkan guyonan membolak-balik logika kata-kata ala grup Srimulat.

“Yud, nanti kalo kamu mau ngurus KTP di kelurahan Radio Dalam, pas disuruh cap sidik jari pastiin jangan sampai keliru sama jarinya Sidik.” Begitu mas Abbas putra sulung Pak Yahya pernah melontar guyonan.

Grup lawak legendaris ini memang favorit bagi keluarga Pak Yahya. Tiap ada acara reuni Srimulat di stasiun televise Indosiar, maka Pak Yahya sekeluarga termasuk para pembantu rumah tangga pun kerabat yang tengah bertandang, termasuk saya, selalu ngumpul di ruangan keluarga yang luas, dekat kamar tidur saya, buat tertawa riang, nonton bersama acara aneka ria Srimulat.



…yang bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar, secara cuma-cuma.

Memaknai Berzakat dan Berdagang

Mengisi hari-hari Ramadan, selalu Pak Yahya menjadi imam saat sholat Tarawih bersama keluarga, menyampaikan ceramah singkat dan memimpin doa selesai sholat. Selain itu, pernah juga beliau mengajak saya untuk membagi zakat kepada orang-orang pun keluarga-keluarga yang dinilai memiliki kriteria fakir dan miskin, termasuk yatim dan piatu, yang tinggal di sekitar lingkungan rumah beliau.

Beda memang perasaan yang saya rasakan, saat menyerahkan zakat kepada seseorang ketika orang tersebut tengah mengaji sehabis sholat Maghrib, sekalian bersilaturahmi, lalu beramah tamah dengan keluarga penerima zakat tersebut. Benar-benar waktu itu saya merasakan sentuhan yang berbeda, dibanding dengan apabila zakat dibagikan secara massal, bersamaan, menggunakan kupon antrian.

Memberi zakat bagi yang membutuhkan secara langsung, memang bisa menumbuhkan tali silaturahmi, yang tak hanya menjalin ikatan batin antara si beruntung dengan si kurang beruntung. Namun juga, saling memahami hikmah bahwa keduanya, si beruntung dan si kurang beruntung, sejatinya saling membutuhkan.

Oleh karenanya, sudah puluhan tahun tinggal di kawasan perkampungan di daerah Margaguna, maka dalam kesehariannya Pak Yahya sekeluarga berzakat dalam bentuk penyediaan air bersih yang bersumber dari tanah, yang airnya ditampung dalam sebuah tandon besar di ketinggian, di pekarangan rumah bagian belakang, yang bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar, secara cuma-cuma.

Apakah warga sekitar rumah beliau hendak menggunakan air itu untuk minum, masak, cuci ataupun kebutuhan sehari-hari, dipersilakan bagi mereka untuk mengambil dari satu pancuran keran air di luar halaman rumah, selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, free open for well water.

Selain berperan sebagai ibu rumah tangga, Bu Yahya memiliki bakat sebagai pedagang. Dalam satu ruangan di rumah, beliau memiliki semacam butik batik asli Pekalongan. Kain batik berbahan katun dengan motif yang khas tipikal batik wilayah pantai utara, yang memiliki corak lebih cerah ceria berwarna-warni, dibanding dengan batik-batik buatan daerah poros Jogja-Solo yang bercorak warna lebih kalem.

Pernah saya belajar bagaimana cara berdagang dengan membantu penjualan beberapa kain dan pakaian batik yang tersimpan dalam butik Bu Yahya. Batik-batik itu saya bawa ke kantor, lalu pada jam istirahat beberapa teman yang tertarik mendatangi tempat kerja saya untuk melihat aneka rupa kain dan pakaian batik yang saya bawa sebagai contoh.

Beberapa teman yang tertarik bisa langsung memilih dan membeli, atau memesan saya agar dibawakan keesokan harinya, jika ukuran atau corak batiknya kurang pas.

Lama-lama dagangan saya laris. Setiap jam istirahat saya didatangi teman kerja. Mulai dari yang sudah kenal akrab, sampai yang sudah kenal tapi masih sebatas menyapa ramah, hingga akhirnya mengenal akrab juga. Dari situ saya memahami bahwa berdagang itu cara efektif untuk berkenalan dengan banyak orang.

Sejak itu pula, saya sempat mendapat julukan Mas Karyo, meminjam nama salah satu tokoh dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang menjadi tayangan sangat dinanti oleh pemirsa se-Indonesia raya waktu itu, yang diperankan oleh pelawak Basuki Srimulat.

Lama-lama pula saya mendapat teguran dari atasan. Alasan teguran adalah agar karyawan seperti saya dan teman-teman saat istirahat berada di luar, agar tak jenuh dengan lingkungan dalam kantor yang pemandangannya itu-itu saja.

Saya pun dihimbau agar menitipkan dagangan batik yang saya bawa sehari-hari dalam tas cangklong besar, ke Koperasi kantor, agar menjadi satu barang dagangan yang dipajang dalam lapak Koperasi.

Ternyata, saya masih untung. Malah mendapat solusi sama-sama enak, win-win solution. Kenalan saya tambah banyak, menjalin hubungan yang baik dengan rekan kerja sekantoran, juga atasan. Koperasi juga bisa meraih untung, yang keuntungannya juga kembali ke saya sebagai anggotanya dalam bentuk Sisa Hasil Usaha, SHU.

Saya masih ingat dulu keuntungan dari berjualan batik dari butik Bu Yahya, selain sebagian saya gunakan buat memutar modal, membeli batik-batik baru untuk dipajang, sebagian lagi saya belikan pemutar kaset dan radio merk Sony seri Compo FH L-300, buat mendengar radio dan memutar lagu-lagu di dalam kamar. Juga, buat membeli tiket bus malam eksekutif, dari Jakarta ke Malang pergi-pulang, buat ketemu pacar pas cuti atau liburan.



…perjalanan untuk berilmu pengetahuan, agar meraih ikhtiar bertauhid.

Cara Unik Bersikap Tulus

“Yud mari masuk ke ruang kerja saya, ini tak kasih tau buku yang berkualitas itu seperti apa.” Suatu hari di akhir pekan Pak Yahya memanggil saya yang lagi bersantai.

Sebuah ruang seukuran bangsa 4x6 meter, yang berbatasan dengan kamar tidur, yang di dalam ruangan kerja pribadi ini ada sebuah lemari kaca yang sangat lebar dan tingginya hampir mencapai tiga meter, berisi deretan rapi buku-buku tebal, mirip kitab suci semua.

Dari dalam ruangan ini pula sering terdengar lantunan suara Pak Yahya ketika sedang mengaji surah-surah Al Qur’an, pada pagi dan petang hari.

“Yud, coba kamu ambil satu. Kamu buka itu buku, bisa baca apa nggak kamu?” Pak Yahya mempersilakan saya memungut satu buku dari dalam lemari itu.

Sebuah buku warna hijau tua saya ambil, lalu saya buka. Wah, saya belum bisa baca soalnya hurufnya huruf Arab gundul semua.

“Waduh dereng saged maos buku niki, kula Pak.” Jawab saya kromo inggil, “Waduh belum bisa baca buku ini, saya Pak.”

Oh Hoo... Berarti kamu masih perlu pendampingan buat menggali ilmu, Yud. Makanya kamu kalo bantuin saya ngetik tulisan buat Taklim, jangan bosen, yang rajin.” Jelas Pak Yahya.

Rupanya Pak Yahya memberi ketulusan berbagi ilmu pengetahuan kepada saya, melalui penugasan saya sebagai juru ketik atas ide-ide tulisan berdasar telaahan atas kitab-kitab, buku-buku tebal, yang merupakan penafsiran dan penjabaran dari Al Qur’an dan Al Hadis.

Banyak hal tema yang menjadi bahan tulisan yang disajikan dalam majelis Taklim, pengajian maupun mimbar Jum’at.

Tema pun beragam. Bisa mencakup urusan sains, teknologi, sosial, hubungan keluarga, kepemimpinan, politik, ekonomi, sejarah, keamanan dan pertahanan, yang dalam cakupan tak hanya nasional namun juga dunia, kisah teladan sejarah nabi-nabi hingga hadis-hadis palsu.

Tak banyak halaman tulisan yang merangkum ide-ide Pak Yahya, sekitar dua hingga empat halaman saja. Namun, begitu padat dan kaya dengan hal-hal baru yang membuka wawasan, khususnya dalam perjalanan untuk berilmu pengetahuan, agar meraih ikhtiar bertauhid.

Semua topik yang digali, melalui penelaahan dalam kitab-kitab tebal yang mengacu pada Qur’an dan Hadis tersebut.

Apabila terdapat keperluan memperluas cakupan ilmu pengetahuan yang terkategorikan baru, dalam pengertian perlu tambahan wawasan acuan dalam bentuk tulisan, yang belum terakomodir dalam ratusan buku tebal dalam lemari besar itu, maka saatnya Pak Yahya bepergian untuk menelusuri kitab-kitab acuan yang belum ada di Indonesia.

“Yud, sesuk aku tak mlaku-mlaku tuku buku, dua minggu. Mengko kapan-kapan kowe kudu melu.” Demikian Pak Yahya pernah pamit, sebelum belanja buku-buku, “Yud, besok saya mau jalan-jalan beli buku, selama dua minggu. Nanti kapan-kapan kamu harus ikut.”

Waktu itu saya pikir belanja bukunya di kawasan Pasar Senen atau di Blok M. Tapi kok sampai dua minggu. Eh, ternyata beliau berburu buku-buku itu sampai ke negara-negara pusat budaya Islam, di wilayah timur tengah sana.



…daun yang gugur berjatuhan pun tiada yang luput dari kehendak Tuhan.

Berpulang Menuju Raudlatul Jannah

Sepulang melanglang buana berbelanja buku-buku baru, maka biasanya saat mengobrol santai bersama keluarga, Pak Yahya menyampaikan beberapa pesan singkat tentang buku-buku yang didapatkan, lalu rencana untuk mempelajarinya sebagai acuan dalam menebar ilmu pengetahuan.

Tentu, sebagai juru ketik, saya kudu siap-siap pula mendapat tugas mendengarkan setiap ucapan kata Pak Yahya, yang menyusun rangkaian kalimat, berisi gagasan-gagasan, baik yang aktual pun inspiratif, yang hendak disampaikan kepada orang-orang yang hendak menimba ilmu pengetahuan kepada beliaunya.

Menjelang akhir tahun 1996, beberapa bulan sebelum Krisis Moneter, saya berpamitan dengan keluarga Pak Yahya. Bukan karena apa-apa, namun karena laboratorium tempat saya bekerja telah berpindah tempat, puluhan kilometer di luar Jakarta.

Sempat saya beberapa minggu mencoba dari rumah Pak Yahya menuju tempat kerja, dalam sehari langsung pergi dan pulang.

Hasilnya? Saya pun tepar tak berdaya. Jaraknya kejauhan, perlu berganti kendaraan umum tiga hingga empat kali, untuk sekali jalan. Berarti waktu itu berganti angkutan umum bisa enam hingga delapan kali untuk sehari perjalanan.

Sempat beberapa bulan sekali, pas hari libur saya sowan bertemu Pak Yahya sekeluarga. Setelah itu menjadi jarang, karena penugasan saya dari tempat kerja, yang keliling Indonesia. Paling bertegur sapa dan mengobrol menimba ilmu pengetahuan dengan beliau, melalui sambungan telepon, interlokal.

Bu Yahya telah berpulang terlebih dahulu pada kisaran pertengahan 1997. Kemudian Pak Yahya menyusul berpulang ke Rahmatullah, baru-baru ini, tahun 2022.

Selamat jalan Pak Yahya. Saya sangat bersyukur, bahwa dalam perjalanan hidup saya, pernah diberi kesempatan bersua dengan Pak Yahya beserta keluarga.

Satu perjalanan hidup yang seringkali manusia tak pernah menyangka akan anugerah yang terlimpah.

Bahkan, daun yang gugur berjatuhan pun tiada yang luput dari kehendak Tuhan.

InsyaAllah Pak Yahya dan Bu Yahya meraih husnul khatimah, mendapat kemuliaan di sisi Allah SWT, kekal abadi dalam Raudlatul JannahNya. 

Aamiin yaa Rabb.

Foto kisaran awal tahun 1995 setelah lebaran, di halaman bagian dalam rumah Pak Yahya. Dari arah kiri ke kanan; Bu Yahya, saya, Pak Yahya. Kemudian, Mbah Kakung dan Mbah Putri saya, yang sejak saya masih berusia setahun, saya ikut bersama beliau berdua.